web analytics

Menelusuri Jejak Sukses Pariwisata Tanah Pasundan dan Bumi Nyiur Melambai

Menelusuri Jejak Sukses Pariwisata Tanah Pasundan dan Bumi Nyiur Melambai
Kepala Perwakilan BI Sulut Arbonas Hutabarat bersama puluhan wartawan ekonomi

GELIAT sektor pariwisata menjadi primeover yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Itulah sebabnya Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) di bawah kepemimpinan Gubernur Olly Dondokambey dan Wakil Gubernur Steven Kandouw sangat mengunggulkan sektor pariwisata.

Terbukti dalam tiga tahun terakhir pariwisata Sulut mencatatkan tingkat kunjungan sebesar 600% dengan jumlah 127 ribu wisatawan mancanegara dan turis lokal atau nusantara sebanyak 2 juta.

Lantas apakah Pemprov Sulut puas dengan capaian kunjungan wisatawan yang saat ini didominasi turis Cina.

Tentu saja tidak, karena Pemprov berupaya membuka akses penerbangan dengan luar negeri, salah satunya Manado-Davao, yang dilakukan belum lama ini. Dengan harapan pariwisata kian bergairah.

Rombongan saat berada di Saung Angklung Udjo dan besua dengan seniman kondang Nyoman Nuarta.

Tak tanggung-tanggung, saking getol dan bersemangat untuk memajukan pariwisata, Pemprov Sulut berupaya menarik simpati pusat.

Alhasil, dukungan pun mengalir dari pemerintah pusat yang memberikan skala prioritas pada Provinsi Sulut, menyusul pengembangan infrastruktur di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Likupang hingga pembangunan bandara di Pulau Lembeh dengan alokasi dana triliunan.

Tujuannya adalah meningkatkan infrastruktur di seluruh wilayah destinasi. Mengingat daerah ini memiliki spot destinasi alam yang menakjubkan.

Sebut saja, potensi destinasi bahari yang telah dikenal dunia, yakni Bunaken, kemudian gunung, sebut saja Lokon, Soputan dan Karangetang. Belum lagi destinasi lainnya yang terus dikembangkan di sejumlah kabupaten/kota yang sangat menarik.

Usaha tersebut sudah tepat, tetapi masih perlu dorongan kreatifitas. Sebab pertumbuhan pesat hanya akan ada di periode tertentu saja. Sehingga yang perlu dilakukan adalah mengimbanginya dengan  pengembangan potensi melalui konsep 3A yakni atraksi, aksesibilitas, dan amenitas.

Hal itu penting dalam mengembangkan destinasi wisata di suatu daerah.

Atraksi adalah produk utama sebuah destinasi yang berkaitan dengan apa yang dilihat dan dilakukan. Apa yang bisa dilihat dan dilakukan oleh wisatawan di destinasi tersebut.

Atraksi bisa berupa keindahan dan keunikan alam, budaya masyarakat setempat, peninggalan bangunan bersejarah, serta atraksi buatan seperti sarana permainan dan hiburan, pastinya harus unik dan berbeda.

Selanjutnya, aksesibilitas adalah sarana dan infrastruktur untuk menuju destinasi seperti jalan raya, ketersediaan sarana transportasi, dan rambu-rambu penunjuk jalan.

Dan amenitas adalah segala fasilitas pendukung yang bisa memenuhi kebutuhan dan keinginan wisatawan selama berada di destinasi. Amenitas ini, berkaitan dengan ketersediaan sarana akomodasi untuk menginap serta restoran atau warung untuk makan dan minum.

Selanjutnya, kebutuhan lain yang sangat penting adalah toilet umum dan rest area bersih yang masih jauh dari ekspektasi.

Rombongan jurnalis saat berada di Tahura, di situ terletak gua Jepang yang dikemas apik sehingga menarik wisatawan.

Jangan sampai ketika wisatawan datang akan kapok dan enggan datang kembali.

Salah satu pelaku usaha wisata Safari Tour Jeremy Barnes mengungkapkan kekesalannya, karena banyak destinasi wisata terbaik yang ada di Sulut sudah tak terawat. Padahal destinasi tersebut masuk dalam paket wisata.

Tentu saja keadaan ini sangat memalukan, sebab destinasi kotor dan tidak terawat. Contohnya saja Bukit Kasih Kanonang yang nyaris hancur.

“Ini sangat disayangkan, karena pemerintah saling lempar tanggung jawab. Sehingga Bukit Kasih Kanonang tak lagi terurus. Sampah berserakan ditambah bangunan yang rusak,” beber Jeremy.

Apa yang dialami Jeremy, hanya bagian terkecil saja, masih banyak hal yang harus dibenahi jika ingin pariwisata Sulut mendunia.

“Bagaimana kita dapat menjual pariwisata kalau perhatian pihak yang terkait tidak maksimal,” ujarnya.

Akan hal itu, Bank Indonesia Provinsi Sulut secara khusus memandang perlu untuk membawa jurnalis ekonomi melakukan studi banding ke Bandung pada 26-29 Oktober 2019.

Tujuannya, untuk mengulik kiat-kiat sukses maupun strategi dari pelaku pariwisata. Mulai dari mengemas sesuatu yang sederhana menjadi racikan pertunjukkan yang memiliki nilai tambah.

Hal itu disajikan ketika rombongan wartawan dibawa ke Saung Angklung Udjo, satu tempat yang terbilang biasa. Namun karena mengunggulkan budaya lokal yang terintegrasi, maka menjadi bagian menawan yang akan diingat wisatawan.

Saat berkunjung ke Saung Aklung Udjo, wisatawan akan dikenalkan cara membuat angklung secara detil.

Wisatawan diberikan kesempatan untuk mendengar ihwal dan proses pembuatan angklung, langsung dari budayawan yang memang memiliki kepedulian tinggi untuk merawat seni daerah.

Dikawal presenter, Yosinta Oktaviani Cantika kemudian mengenalkan pembuat angklung Achmad Rosidik yang membuat angklung. Metode one stop entertainment ini nyatanya mampu menuai kekaguman setiap wisatawan yang berupaya mengetahui setiap detil pembuatannya.

Achmad secara rinci mengenalkan bahan-bahan bambu yang dibutuhkan hingga tahapan angklung siap digunakan

Setelah itu, wisatawan diajak untuk mengikuti pagelaran angklung. Bahkan bukan hanya sajian cerita saja, tetapi wisatawan ikut memainkan angklung dengan lagu-lagu yang mudah untuk dinyanyikan.

Wisatawan pun merasakan sensasi yang berbeda karena terlibat langsung dalam atraksi.

Sebenarnya yang membuat berbeda adalah kreatifitas maupun ide untuk menciptakan sesuatu yang menarik untuk dikemas.

Kalau dibandingkan dengan Sulut, banyak hal yang bisa dilakukan. Contohnya saja, kenapa tidak dicoba mengemas proses pembuatan musik bambu, kolintang, hingga tarian khas daerah seperti tari Kabasaran Cakalele, Pisok, Maengket serta tarian lainnya.

Sulut kaya budaya, Sulut kaya dengan tempat-tempat yang eksotis, namun sejatinya minim kreatifitas.

Lantas apa yang perlu digali, seberapa jauh empati dan perhatian pemangku kepentingan. Karena sesungguhnya pariwisata membutuhkan kerja nyata yang berkelanjutan.

Kalau Bandung dapat maju dengan meng-create atau menciptakan sesuatu yang sederhana, Sulut pun dapat sejajar bahkan melampauinya.

Pariwisata, sektor yang mampu mendatangkan devisa sangat membutuhkan orang-orang yang memiliki kepedulian, hal itu harus ditunjukkan oleh pemangku kepentingan hingga pihak swasta.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Arbonas Hutabarat, menyatakan dukungannya kepada Gubernur Olly Dondokambey yang berikhtiar untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di sektor pariwisata.

“Pariwisata akan berhasil jika komitmen gubernur disupport penuh oleh satuan kerja perangkat daerah (SKPD), tentunya dengan mengedepankan kreatifitas dan potensi yang ada,” ujarnya.

Bank Indonesia sendiri, sambung Arbonas ke depan akan turut memberikan support dalam bentuk pengembangan pariwisata.

Belum diketahui formulanya seperti apa, namun yang pasti Arbonas menyatakan Bank Indonesia akan memberikan kontribusi positif sehingga kunjungan wisatawan naik secara kuantitas.

Selain berkunjung ke Saung Aklung Undjo, rombongan juga diajak untuk sejenak menikmati Taman Hutan Raya dan tempat minum kopi asri di Amora. Di tempat itu, juga terdapat gua Jepang yang dikemas dalam cerita history sehingga menarik untuk disimak oleh wisatawan.

Masih dalam lokasi yang sama, disitu terdapat tempat ngopi yang dikelola masyarakat, dengan demikian akan menghidupkan UMKM. “Manfaat dan dampak pariwisata harus dirasakan sampai ke masyarakat,” ujarnya.

Selain itu, rombongan juga diajak untuk menikmati kopi Sejiwa yang digandrungi masyarakat.

Dan tak kalah serunya adalah bersua langsung dengan seniman kondang, Nyoman Nuarta yang memiliki
mahakarya Patung Garuda Wisnu Kencana, Monumen Jalesveva Jayamahe, serta Monumen Proklamasi Indonesia.

Para wartawan pun berbicang dengan Nyoman Nuarta yang berhasil menyelesaikan mahakaryanya selama 28 tahun.

Ini menunjukkan semangat yang tak kunjung padam, meski harus mengalami caci maki dan olokan orang hingga tuduhan penggunaan dana bantuan.

Intinya, Nyoman Nuarta tetap percaya pada apa yang dibuatnya sampai semuanya indah pada waktunya.

Di sisi lain, kemajuan pariwisata bukan ditentukan oleh satu poin penting saja, tetapi berkaitan dengan banyak hal. Sebab untuk menggenjot jumlah kunjungan wisatawan, tidak mudah dibutuhkan sejumlah terobosan. Diantaranya adalah melakukan pembekalan kepada para pelaku industri pariwisata.

Melalui upaya pengembangan pelaku usaha industri pariwisata, baik pengusaha yang bergerak di bidang jasa perhotelan, restaurant, travel agent dan jasa transportasi akan berpengaruh terhadap tingkat kedatangan wisatawan.

Hal itu penting sehingga layanan yang diberikan berkualitas.(eda)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply