Pertumbuhan Ekonomi Sulut Kurang Happy, BI Siap Lakukan Revisi

Pertumbuhan Ekonomi Sulut Kurang Happy, BI Siap Lakukan Revisi

Manado, SULUTREVIEW

Pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) triwulan III 2018 yang berada di level 5,66 persen, atau turun sebesar 0,17 persen dari kuartal II 2018 sebelumnya yang berada di posisi 5,83 persen, perlu diwaspadai.

Jika kondisi ini tak secepatnya diatasi, maka pertumbuhan ekonomi akan semakin jauh dari target yang ditetapkan sebesar 6,5 persen.

Kepala Kantor Perwakilan Provinsi Sulut, Soekowardojo mengatakan hampir mustahil jika pada triwulan IV nanti pertumbuhan ekonomi dapat terdongkrak.

“Sepertinya dengan kondisi sekarang ini tidak mungkin dapat mencapai 6,1 persen. Nah untuk terus tumbuh di atas 6,3 atau 6,4 persen, maka langkah pertama harus dilakukan revisi atas  proyeksi pertumbuhan ekonomi kita,” ujarnya menjawab wartawan, Selasa (6/11/2018).

“Kita semakin menjauh dari pertumbuhan 6 persen.  Kenapa harus pertumbuhan 6 persen.  Karena pertumbuhan ekonomi di sejumlah provinsi lainnya di Sulawesi, ada di level 6,4. Sementara kita sekarang di posisi 5,66 persen,” kata Soekowardojo.

Atas capaian ini, menurut Soekowardojo perlu mendapat perhatian. Kendati posisi tumbuh 5,66 ini, di atas nasional.

“Memang iya, pertumbuhan ekonomi kita sebenarnya positif. Tetapi seharusnya kita tumbuh tidak hanya di atas nasional tapi harus di atas 6 persen,” ujarnya sembari menambahkan bahwa hasil catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut, sektor pertanian hanya tumbuh 1,7 persen dari perkirakan sebesar 2,7 persen. Berikut sektor perkebunan, di mana harga kopra terlalu rendah.

“Sektor pertanian dan perkebunan hanya naik 1,7 perse. Imbasnya adalah sektor pengolahan, karena ekspor harganya rendah. Dalam artian kalau harga kopra rendah, secara otomatis nilai ekspor akan jauh menurun. Nah karena pertanian dan perkebunan turun, akan berimbas pada konsumsi masyaraka. Jadi dengan pendapatan yang semakin turun konsumsi masyarakat juga turun, maka jasa keuangan dan industri nilai tambahnya tumbuh negatif,” jelas Soekowardojo.

Jika dibandingkan dengan provinsi lainnya se Sulawesi, pertumbuhan ekonominya turut didorong oleh sektor pertambangan. “Pertumbuhan ekonomi mereka sangat terbantu oleh sektor pertambangan sehingga nilai ekspor juga besar.

“Sementara kita hanya mengandalkan sektor pertanian perkebunan dan perikanan dua-duanya juga turun 40 persen. Lebih lagi penjualan kopra yang turun 60 persen. Sehingga kita kurang happy, karena pertumbuhan ekonomi kita semakin jauh dari 6 persen,” tandasnya.(eda)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply