Manado, SULUTREVIEW
Maraknya berita hoax (bohong) tentang bencana yang deras mengalir di media sosial belakangan ini, sangat berpengaruh terhadap tingkat kunjungan wisatawan negara (wisman) di Bumi Nyiur Melambai.
Menurut amatan dari Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restaurant Indonesia (PHRI) Johny Lieke, turunnya kunjungan mencapai 20 persen.
“Rata-rata turun di kisaran 20 persen. Untuk tingkat hunian hotel bintang empat yang semula 80 persen ke atas, kini mulai berkurang. Demikian juga dengan hotel non bintang tingkat hunian ada di kisaran 50 hingga 60 persen,” kata Lieke Selasa (23/10).

Lieke menjelaskan, bencana yang terjadi di Palu kerap dikaitkan dengan Sulawesi Utara (Sulut). Bertepatan waktu itu, Sulut diguncang gempa yang dibarengi dengan erupsi Gunung Soputan yang secara terus menerus di upload di media sosial, meninggalkan image yang negatif pada wisman.
“Wisman jadi enggan dan takut untuk berkunjung ke Sulut. Karena itu kami berharap agar masyarakat dapat menginformasikan di media sosial bahwa Sulut aman dan tidak ada bencana. Jangan menyebar foto-foto hoax,” tukasnya.
Senada disampaikan Kepala Bidang Kelembagaan Kepariwisataan Dinas Pariwisata Daerah ( Disparda) Sulut Dra Ivonne Kawatu, bahwa upaya pemerintah untuk menangkal hoax secepatnya telah dilakukan.

“Bercermin di Bali, Pemerintah Provinsi Sulut secepatnya telah menangkalnya dengan menyampaikan imbauan bahwa Sulut aman. Dan kapan saja bisa didatangi,” tukasnya.
“Kami mengimbau masyarakat jangan menyebar berita hoax, karena dampaknya akan berpengaruh terhadap kelangsungan pariwisata di daerah kita,” tukasnya.
“Bagi orang-orang yang dari luar, ketika mengetahui ada informasi bencana pasti ada rasa takut. Apalagi jika negara mereka tidak pernah mengalami bencana. Tolong diberitakan bahwa Sulut aman, jangan ada hoax supaya pariwisata kita pulih kembali,” imbuhnya.(eda)













