Menanti Figur Pemimpin Keteladanan

Menanti Figur Pemimpin Keteladanan

PENERAPAN nilai moralitas yang dipertontonkan para elite di negeri ini kian memiriskan. Lontaran kata kasar dan tak beretika telah menggantikan budaya kesantunan.

Publik hanya bisa mengelus dada dan menghela nafas, karena pemimpin yang seharusnya meninggalkan keteladanan justru menjadi contoh buruk bagi generasi.

Memang tidak semua dari para elite negeri ini yang yang bersikap pongah dan arogan, masih ada yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan budi pekerti.

Acara-acara di sejumlah televisi, yang menghadirkan para pemimpin, ketika membahas satu topik saling melempar argumen, saling tuding dan saling mengkritik tanpa mengedepankan etika. Padahal sejatinya, masyarakat butuh informasi dan edukasi.

Tak pelak karena dijejali dengan adegan yang lepas kontrol, maka generasi yang ada saat ini menganggapnya sebagai hal yang biasa. Alhasil kesantunan menjadi barang langka dan krisis moral menjadi permasalahan krusial yang dihadapi oleh bangsa ini.

Demikian juga dengan perkembangan media sosial yang semestinya menjadi sarana yang memberikan manfaat telah berubah fungsinya menjadi ajang perang kalimat dan ujaran yang tak mendidik.

Mirisnya lagi, akun-akun yang disediakan untuk membantu masyarakat kini berubah menjadi alat untuk mencela dan mem-bully.

Sebut saja, akun yang dibuka oleh Kepolisian Daerah untuk mengungkap kinerja, kini penuh dengan komentar dan hujatan, bahkan sarat dengan nuansa SARA. Sebut saja akun Manguni Team123 Lovers, Manado Manguni Team123/Tetengkoren dan lainnya.

Sejumlah elemen, berharap akun-akun seperti itu lebih baik ditutup saja, karena dampaknya sangat buruk bagi kelangsungan generasi muda yang ada di Bumi Nyiur Melambai saat ini yang cenderung tak lagi bisa menghargai seseorang.

Para pemimpin negeri ini, milikilah kepedulian. Karena generasi muda yang ada saat ini adalah pemegang tongkat estafet di masa mendatang. Namun jika setiap hari mereka mengkonsumsi ujaran kebencian, maka yang akan dituai nanti adalah generasi rusak yang kehilangan jati dirinya.

Wahai pemimpin negeri, bersikaplah bijak saat berujar, pikirlah dengan matang sebelum berucap. Sebab, intelektualitas dan nama baik itu tidak diukur dari kebesaran dan kehebatan jabatan. Akankah negeri ini dapat mencetak pemimpin berkualitas yang mampu membawa keteladanan bagi kehidupan berbangsa yang lebih baik.

Hanya bisa berharap Indonesia mampu melahirkan pemimpin yang mumpuni. Partai politik yang ada seleksilah setiap figur yang dicalonkan. Tetapkan yang terbaik sehingga masyarakat dapat memilih melalui pemilihan umum mendatang.(*)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply