Manado, SULUTREVIEW
Inflasi Sulawesi Utara (Sulut) yang diwakili Kota Manado, tercatat mengalami deflasi sebesar -0,79% (mtm). Sedangkan inflasi tahun kalender sebesar 1,10% (ytd) dan inflasi tahunan sebesar 1,45% (yoy).
Secara bulanan, tekanan inflasi pada bulan September mencatat deflasi yang lebih rendah dibandingkan deflasi bulan Agustus (-0,88, mtm), dan lebih dalam dari rata-rata inflasi Sulut pada bulan September selama 5 tahun terakhir (-0,59%, mtm).
Deflasi Sulut juga lebih tinggi dari deflasi Nasional pada bulan September (-0,18%, mtm).
Secara tahunan, inflasi pada September juga tercatat lebih tinggi dari inflasi bulan sebelumnya (1,20%, yoy) namun lebih rendah dari rata-rata inflasi Sulut 5 tahun terakhir (4,98%, yoy). Secara spasial, Kota Manado merupakan kota dengan inflasi terendah nomor 5 dari 11 Kota di Sulawesi, yang seluruhnya mengalami deflasi di Bulan September.
Secara tahunan, inflasi Sulut juga lebih rendah dari inflasi Nasional yang sebesar 2,88% (yoy).
“Berdasarkan kelompoknya, deflasi terjadi pada kelompok bahan makanan, sandang serta transpor, komunikasi & jasa keuangan. Sementara itu, kelompok kesehatan, pendidikan, rekreasi, olahraga dan makanan jadi, minuman, rokok & tembakau relatif tidak mengalami perubahan di bulan September,” kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulut, Soekowardojo, Senin (1/10/2018).
Hanya kelompok perumahan, air, listrik, gas, & bahan bakar yang memberikan tekanan inflasi di bulan September 2018. Di mana laju deflasi pada bulan September 2018 terutama disebabkan oleh laju inflasi kelompok bahan makanan yang mencatatkan deflasi sebesar -2,62% (mtm) dengan
menyumbangkan andil deflasi sebesar -0,63% (smtm*). Deflasi kelompok bahan makanan yang disebabkan permintaan komoditas strategis utama Sulut yang masih normal di tengah suplai yang terjaga di Pasar.
Komoditas tersebut adalah tomat sayur, cabai rawit dan bawang merah yang masing-masing mencatatkan andil deflasi sebesar -0,587%, -0,089% dan -0,038% (smtm*).
Disisi lain, komoditas daun bawang, kangkung dan sawi hijau menahan laju deflasi semakin dalam dengan
mencatatkan andil inflasi sebesar 0,016%, 0,012%, dan 0,009% (smtm*).
Deflasi juga didorong Kelompok Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan yang ikut mengalami deflasi sebesar -0,94% (mtm) dengan menyumbangkan andil deflasi sebesar -0,16% (smtm*).
Deflasi pada kelompok transport, Komunikasi dan Jasa Keuangan disumbangkan oleh komoditas Angkutan Udara dengan andil deflasi bulanan sebesar -0,16% (sumbangan mtm).
Permintaan yang menurun diperkirakan menjadi penyebab menurunnya tekanan inflasi dari tarif angkutan udara yang pada bulan September menyumbangkan inflasi sebesar 0,04%(smtm*). Kelompok Sandang juga ikut menyebabkan deflasi dengan tercatat mengalami deflasi sebesar -0,39% (mtm) dengan menyumbangkan andil deflasi sebesar 0,021% (smtm).
Deflasi kelompok Sandang disebabkan oleh deflasi pada kelompok Emas Perhiasan sebesar -3,1/9% (mtm) seiring dengan turunnya harga emas.(hilda/*)













