11 Negara Bahas Perdamaian dan Stabilitas di Wilayah Laut Cina Selatan

0
242

MANADO, SULUTREVIEW

Perdamaian dan stabilitas di wilayah Laut Cina Selatan dibahas 11 negara yang terdiri dari Brunei Darussalam, RRC, Filipina, Kamboja, Singapura, Indonesia, Laos PDR, Malaysia, , Thailand, Vietnam dan Chinese-Taipei dibahas di Kota Manado.

Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Olly Dondokambey SE yang diwakili Sekretaris Daerah Provinsi Edwin Silangen SE MSi, saat menghadiri acara ’28th Workshop on Managing Potential Conflicts in the South China Sea’ di Gedung CTI Center Manado, Minggu (9/9/18), menyampaikan

apresiasi atas pertemuan tersebut. Bahkan berharap workshop yang telah diselenggarakan sejak tahun 1990 ini, dapat berdampak positif bagi perdamaian dan stabilitas di wilayah Laut Cina Selatan.

“Kegiatan harus dioptimalkan, karena  akan memberikan solusi dari berbagai permasalahan teknis terkait perikanan, studi keanekaragaman hayati, database kelautan, permukaan air laut, pemantauan gelombang pasang, lingkungan laut, pendidikan dan pelatihan laut, serta data hidrologi, yang kesemuanya itu dapat berdampak positif bagi perdamaian dan stabilitas di wilayah Laut China Selatan,” jelas Silangen.

Terkait hal tersebut, Pemprov Sulut terus menempatkan sektor kelautan dan perikanan sebagai salah satu sektor penggerak pembangunan.

“Sebagaimana tercantum dalam poin pertama sapta cita pembangunan daerah 2016 – 2021, yakni mewujudkan kemandirian ekonomi dengan memperkuat sektor kemaritiman, selain itu karena Pemerintah Daerah sedang berupaya menjadikan Sulut sebagai salah satu pintu gerbang di Kawasan Timur Indonesia,” tukasnya.

Diketahui, workshop yang merupakan inisiatif Indonesia ini setiap tahunnya dilaksanakan di Indonesia dan dihadiri negara-negara yang ingin menciptakan kedamaian.

Sebagai negara yang tidak terlibat dalam klaim tumpang-tindih di Laut China Selatan. Indonesia mengambil inisiatif untuk memberikan kontribusi bagi penciptaan situasi yang kondusif di kawasan Laut China Selatan dengan mengalihkan potensi konflik di kawasan tersebut menjadi potensi kerjasama yang dapat menguntungkan semua pihak.

Karenanya, workshop LCS dimaksudkan sebagai bagian dari diplomasi preventif polugri Indonesia, melalui pengupayaan Confidence Building Measures dalam kerjasama di berbagai bidang yang bersifat non-sensitif dan teknis antara lain penelitian ilmiah kelautan dan perlindungan lingkungan laut.(eda)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here