Kemenpar Fasilitasi Percepatan KEK Pariwisata Sulut

Manado, SULUTREVIEW

Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata  Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Republik Indonesia, Dadang Rizky Ratman menyatakan siap memfasilitasi percepatan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pariwisata di Sulawesi Utara (Sulut).

“Sebagai bentuk keseriusan kami, Kementerian akan melihat, menilai kriteria persyaratan satu per satu. Selama kurang lebih dua bulan kami berharap persyaratan sudah dapat dipenuhi,” katanya di Forum Group Discussion (FGD) di hotel Aston, Kamis (2/8/2018).

Menurut Rizky, adanya KEK di Sulut secara langsung akan berpengaruh pada kemajuan dan perkembangan pariwisata di Sulut, terutama dalam menjawab unsur atraksi, aksesbilitas dan amenitas pariwisata.

“Ini bagian rencana terintegrasi kabupaten/kota, di mana pariwisata merupakan diversifikasi atraksi yang adalah sebuah keharusan,” ujarnya sembari menambahkan bahwa dengan terealisasinya KEK pariwisata di kawasan Likupang, akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi.

“Kami proyeksikan pada 10 tahun ke depan Sulut makin maju, perekonomian juga semakin bertumbuh signifikan,” tandasnya.

Lanjutnya, Sulut dalam beberapa tahun terakhir banyak mengalami perubahan. “Kami mohon dukungan dari pemerintah daerah, komunitas dan semua stakeholder agar Sulut makin maju dalam bidang kepariwiaataan,” tandasnya.

Khusus masalah ketersediaan lahan, yang menjadi salah satu persyaratan harus dalam kondisi clean and clear. Terutama harus sesuai tata ruang peruntukannya. Otomatis dengan terpenuhinya persyaratan akan mudah diputusakn oleh tingkat menteri.

“Ada banyak manfaat dari terealisasinua KEK, karena bagi investor akan diberikan insentif berupa fiskal non fiskal. Dan kami bersama Pemprov Sulut akan pantau terus perkembangan pariwisata, yang sejauh ini tumbuh positif. Demikian juga dengan industri pariwisata yang akan menyerap tenaga kerja,” ujar Rizky.

Menariknya, Rizky memberikan apresiasi dengan peningkatan kunjungan pariwisata yang membelanjakan rata-rata sebesar 1.000 sampai 1.200 dollar.

“Kalau dikali 70 ribu jumlah kunjungan wisatawan jika rata-rata dikalikan 1.000 dollar, maka uang yang berputar di Sulut mencapai 70 juta US dollar. Dengan persentase 45% rumah makan, 45% akomodaso dan 15 persen transportasi lokal,” tukasnya.

Wakil Gubernur Sulut Steven OE Kandouw yang berkesempatan hadir pada FGD, berharap KEK pariwisata dapat secepatnya direalisasikan. Karena sampai saat ini, ada banyak investor yang sudah menunggu.

“Terealisasinya KEK pariwisata akan mendorong pertumbuhan ekonomi Sulut. Hal ini diukur oleh banyaknya investor yang akan berinvestasi. Jadi lebih cepat lebih baik, ” tandasnya.

Di sisi lai, Wagub menyebut bahwa KEK pariwisata akan memberikan kontribusi bagi perekonomian. Utamanya di tengah anjloknya harga komoditas andalan Sulut.

“Sejumlah komoditas andalan daerah kita mengalami penurunan harga. Tetapi dengan adanya KEK akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

“Pertumbuhan ekonomi kita saat ini ada di atas nasional.  Faktor pendorongnya adalah pariwisata.
Untuk itu, dari awal  Pak Gubernur dari awal terus mendrive pariwisata yang diikuti dengan MICE, yang diikuti oleh banyaknya studi banding oleh pemerintah pusat ke daerah,” katanya.

Asisten II Bidang Ekonomi Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara Drs Allan Mingkid mengatakan
kegiatan pariwisata akan diimbangi dengan terbukanya akses  dan infrastruktur jalan bandara Samrat, Likupang, Winuri dan Marinsow. Khususnya destinasi pantai resor Casabaio Paradise, pantai Surabaya, Tanjung Pulisan, Pantai Paal yang ditetapkan menjadi kawasan pariwisata strategis pariwisata nasional.

Hadir pada FGD, sejumlah kepala SKPD.(hilda)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *