BEI Tingkatkan Jumlah Tenaga Profesional di Pasar Modal

0
288

Manado, SULUTREVIEW – Berkembangnya pasar modal akan mendorong kemajuan ekonomi. Namun jumlah investor maupun jumlah perusahaan yang tercatat di pasar modal Indonesia belum maksimal.

Hal itu disebabkan karena ketersediaan jumlah Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki kompetensi di bidang pasar modal masih terbatas. Keterbatasan jumlah SDM yang memiliki pemahaman dan pengetahuan di bidang pasar modal tersebut secara langsung mempengaruhi perkembangan pasar modal di Indonesia.

Berdasarkan Survei Nasional Literasi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) 2016, baru sekitar 29,66% penduduk Indonesia yang memiliki kategori well literate atau melek pengetahuan keuangan.

Tingkat literasi masyarakat Indonesia terhadap pasar modal dan tingkat utilitas produk pasar modal sendiri tercatat masih jauh tertinggal jika dibandingkan dengan 5 industri jasa keuangan lainnya di Indonesia yakni sekitar 4,4%.

Self-Regulatory Organization (SRO) yang dimotori oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memiliki target untuk menjadikan pasar modal Indonesia menjadi pasar modal yang terbaik minimal di kawasan ASEAN pada tahun 2020. Oleh karena itu, selain harus masif melakukan sosialisasi dan edukasi melalui serangkaian program kepada masyarakat, pasar modal Indonesia juga dituntut harus memiliki tenaga profesional yang kompeten dan mampu menjawab tantangan di masa depan.

Menurut Direktur Utama The Indonesia Capital Market Intitute (TICMI), Mety Yusantiati sebagaimana dikutip Kepala Perwakilan PT BEI Sulawesi Utara (Sulut)
Fonny The, sampai dengan saat ini jumlah tenaga profesional di industri pasar modal Indonesia yang memiliki kompetensi dan sesuai dengan kebutuhan bisnis pasar modal masih minim. “Untuk itu penyiapan SDM yang memadai dan berkualitas sudah menjadi suatu program yang harus mendapatkan prioritas dari seluruh organisasi pelaku pasar modal Indonesia khususnya SRO yang memiliki fungsi sebagai regulator,” ucapnya.

Karenanya, mempertimbangkan hal-hal tersebut, PT BEI, PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) selaku SRO kembali menyelenggarakan Capital Market Professional Development Program (CMPDP) pada tahun 2017. Di mana CMPDP memiliki tujuan jangka menengah dan panjang dengan cara mempersiapkan Talent-talent pasar modal yang akan menjawab tantangan di masa depan dan membantu menggerakan industri pasar modal Indonesia pada cita-cita di atas. Proses seleksi, rekrutment dan pengembangan CMPDP dilakukan secara terpusat oleh The Indonesia Capital Market Intitute (TICMI).

“Program CMPDP pertama kali diluncurkan dalam pembukaan Investor Summit and Capital Market Expo 2015 pada 9 November 2015 lalu. Program CMPDP tahun 2016 sukses menarik antusiasme para calon profesional pasar modal terbukti dengan diikutinya seleksi awal oleh lebih dari 4.200 calon peserta dari seluruh Indonesia dan bahkan dari luar negeri,” ujarnya.

Diketahui, pada tahun 2017 ini, jumlah pelamar CMPDP sekitar 4800 calon peserta. Setelah melalui proses seleksi administrasi, seleksi tertulis CMPDP akan dilaksanakan serentak di 27 kota besar di Indonesia yakni Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Banda Aceh, Medan, Padang, Pangkalpinang, Batam, Riau, Bengkulu, Lampung, Palembang, Jambi, Pontianak, Palangkaraya, Banjarmasin, Denpasar, Balikpapan, Makassar, Ambon, Kendari, Manokwari, Jayapura dan Manado.

“Calon kandidat mengikuti proses test tertulis pada tanggal 3 & 4 Juni 2017 dan bagi peserta yang lulus tes tertulis tersebut akan mengikuti serangkaian tes lainnya sampai dengan terpilihnya peserta terbaik yang akan mengikuti 12 bulan program pengembangan dan 6 bulan on the job training,’ jelas Fonny.

Nantinya setiap lulusan CMPDP akan ditempatkan untuk bekerja di Self Regulatory Organization (SRO) atau afiliasinya. “Dengan semakin banyaknya ketersediaan tenaga profesional di SRO, diharapkan dapat semakin menumbuhkembangkan industri pasar modal dalam beberapa tahun mendatang. Sehingga mimpi pasar modal Indonesia untuk menjadi yang paling besar di kawasan Asia Tenggara maupun Asia dapat terwujud di masa depan”, ujar Mety Yusantiati (Direktur Utama TICMI).(hilda)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here