Karya Bakti 2026, Unsrat dan TNI Kolaborasi Bangun Infrastruktur dan Riset di Talaud

Karya Bakti Unsrat 2026. Foto:ist

Manado, Sulutreview.com — Sinergi strategis antara Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) dan Kodam XIII/Merdeka melalui program Karya Bakti 2026 merupakan upaya untuk pembangunan di wilayah beranda utara NKRI.

Kolaborasi lintas sektor ini fokus pada percepatan pembangunan infrastruktur dasar, penyediaan air bersih, pemetaan potensi energi terbarukan, hingga riset material bangunan ramah lingkungan di Kabupaten Kepulauan Talaud.

​Hingga pertengahan Juli 2026, Tim Dosen dan Mahasiswa Unsrat telah merampungkan survei geolistrik di 14 titik lokasi yang tersebar di Kecamatan Essang, Beo, dan Rainis. Pengukuran yang dilakukan secara presisi ini ditujukan untuk memetakan akuifer air tanah sebagai dasar penentuan titik pembuatan sumur bor bagi masyarakat setempat.

​Komandan Korem 131/Santiago, Brigjen TNI Yuri Elias Mamahi, mengatakan bahwa kolaborasi ini merupakan bentuk nyata komitmen TNI dan perguruan tinggi dalam menjawab kebutuhan mendasar warga di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).

​”Karya Bakti ini bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan bukti kehadiran negara di wilayah perbatasan. Melalui kepakaran akademis dari UNSRAT dan kekuatan teritorial Korem 131/Santiago, kita memastikan program seperti penyediaan air bersih dan perbaikan aksesibilitas jalan benar-benar tepat sasaran dan memberikan dampak jangka panjang bagi warga Talaud,” ujar Brigjen TNI Yuri Elias Mamahi saat meninjau langsung lokasi rencana pengaspalan paving stone di Desa Bantik Lama dan survei Jembatan Taloare.

​Selain penanganan krisis air bersih dan perbaikan jalan, tim gabungan juga mengeksplorasi sumber energi baru terbarukan. Tim mikrohidro Unsrat bersama personel TNI secara mendalam mengkaji potensi debit air dan kontur geografis di Air Terjun Makatara serta Air Terjun Ampa Doap guna menjajaki peluang pembangkitan listrik skala mikro.

​Dari ruang laboratorium, kontribusi ilmiah kampus turut diperkuat lewat pengembangan teknologi tepat guna. Ketua Tim Riset FMIPA Unsrat menjelaskan bahwa inovasi material bangunan berbasis potensi lokal terus dimaksimalkan untuk mendukung pembangunan infrastruktur yang efisien secara biaya.

​”Kami tengah menguji kekuatan Genteng Komposit Berbahan Dasar Sabut Kelapa di Laboratorium Kimia FMIPA UNSRAT. Kelapa merupakan komoditas unggulan di Sulawesi Utara, namun limbah sabutnya belum dimanfaatkan optimal. Kandungan selulosa yang tinggi pada serat sabut kelapa ini kami formulasikan menjadi genteng yang tidak hanya kuat dan tahan iklim tropis, tetapi juga ramah lingkungan dan terjangkau bagi masyarakat,” ungkap perwakilan Tim Riset FMIPA Unsrat.

​Kehadiran mahasiswa Unsrat di posko-posko kecamatan seperti Essang, Beo, Rainis, hingga Melonguane mempererat kemanunggalan TNI dengan rakyat.

Dekan Fakultas Teknik Unsrat mengapresiasi tinggi keterlibatan aktif para mahasiswa dalam penerapan ilmu pengetahuan secara langsung di lapangan.

​”Program integrasi horizontal ini menjadi wadah pembelajaran yang sangat berharga. Mahasiswa kami tidak hanya mengaplikasikan teori keilmiahan geolistrik dan sipil, tetapi juga belajar kepemimpinan, kerja sama tim bersama personel TNI, serta menumbuhkan empati kebangsaan dengan hidup dan bergotong royong langsung di tengah masyarakat perbatasan,” tutur
Prof. Dr. Eng. Ir. Liany A. Hendratta, M.Si.

​Melalui kerja sama menyeluruh yang mencakup aspek teknis, akademis, dan sosial ini, keberlanjutan pembangunan infrastruktur di Kabupaten Kepulauan Talaud diharapkan dapat terus melaju pesat, menciptakan kemandirian energi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat perbatasan Indonesia.(hilda)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *