Mitra, Sulutreview – Ribuan mahasiswa dan mahasiswi Kelompok KKT (Kuliah Kerja Terpadu) Angkatan 145 Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) Manado Sulawesi Utara (Sulut) telah resmi disebarkan ke seluruh 122 desa yang tersebar di Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra).
Langkah ini menjadi bagian dari upaya kampus untuk memfasilitasi mahasiswa dalam menerapkan pengetahuan akademik di lapangan dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat pedesaan, bukan dengan rencana baku, melainkan dengan program yang dibuat langsung setelah mengamati kondisi sebenarnya di lapangan.

Di salah satu titik penempatan, Pemerintah Desa Wioi Dua Kecamatan Ratahan Timur menerima delapan orang mahasiswa KKT yang kemudian dibagi ke empat jaga berbeda. Tim ini memiliki struktur organisasi yang jelas untuk memastikan kerja sama lancar: Ariel Grosman sebagai Koordinator Posko, Enjelina Tolla sebagai Sekretaris Posko, Anisha Tahir sebagai Bendahara Posko, Dina Ginting dan Zuldan Gani sebagai Penanggung Jawab Perlengkapan dan Program, Graceshella Kumendong dan Zildjian Balibi sebagai Penanggung Jawab Publikasi dan Pelaporan, serta Anjani Sasako sebagai Humas.
Tanpa rencana program yang sudah disusun sempurna sebelumnya, para mahasiswa langsung melakukan kunjungan, berbicara dengan warga, dan mengidentifikasi kebutuhan yang sesungguhnya.

Ariel Grosman, selaku Koordinator Posko KKT di Desa Wioi Dua, menjelaskan bahwa semua kegiatan yang dilaksanakan adalah hasil dari pengamatan langsung terhadap kondisi masyarakat.
“Kami tidak datang dengan daftar program yang sudah baku. Yang kami lakukan pertama kali adalah jalan-jalan, bertemu warga, mendengar keluhan dan harapan mereka. Semua program yang ada sekarang adalah hasil dari itu, dibuat langsung di lapangan sesuai kebutuhan yang sebenarnya,” ujar Ariel.

Salah satu program yang muncul dari pengamatan itu adalah home school bahasa Inggris, yang diadakan kerjasama dengan Desa Wioi 2 dan Desa Wioi 3. Diarahkan oleh Zildjian Balibi sebagai penanggung jawab program, para mahasiswa melihat bahwa banyak anak-anak dan pemuda desa ingin belajar bahasa Inggris tapi tidak punya akses tempat belajar yang tepat. Oleh karena itu, mereka langsung merancang kegiatan ini yang dilaksanakan pada hari Selasa dan Kamis di minggu pertama penempatan, dengan metode pembelajaran yang menyenangkan dan interaktif untuk menumbuhkan minat dan kepercayaan diri masyarakat.
Namun, program yang menjadi pemantik semangat bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di desa juga muncul secara tidak terduga. Saat berkunjung ke beberapa rumah warga, mahasiswa melihat bahwa banyak orang membuat arang tapi limbahnya cenderung terbuang sia-sia. Dari situ, Dina dan Zuldan memikirkan untuk mengajarkan pengenalan produk breket arang, yang dibuat dari limbah arang sebagai cara baru untuk meningkatkan pendapatan UMKM. Para mahasiswa memberikan panduan langsung tentang cara memproduksi breket arang berkualitas dan strategi pemasaran agar produk ini lebih dikenal.

Selain itu, saat melihat gula aren yang dihasilkan warga hanya dijual tanpa label yang jelas, tim program segera mengambil inisiatif untuk membantu pembuatan label produk. Label yang dirancang secara menarik dan informatif dengan dukungan dari Graceshella dan Zildjian dalam hal desain untuk publikasi diharapkan dapat meningkatkan nilai jual produk gula aren lokal dan memudahkan pemasarannya.
Untuk remaja desa yang sering kebingungan mengelola uang, para mahasiswa juga segera menyelenggarakan pelatihan manajemen keuangan dasar setelah mendengar keluhan dari orang tua dan pemuda itu sendiri. Kegiatan ini dibantu oleh Anjani Sasako sebagai humas yang membantu mengajak remaja berpartisipasi, dan membahas topik seperti perencanaan keuangan pribadi, penghematan, dan cara memulai usaha kecil dengan modal terbatas yang diawasi oleh Anisha Tahir sebagai bendahara. “Kami melihat remaja sebagai agen perubahan di desa, jadi ketika mereka mengaku butuh pengetahuan tentang keuangan, kami langsung membuat program ini,” jelas Ariel.
Tidak ketinggalan, ketika melihat banyak tempat di desa yang kurang terawat dan warga kurang menyadari pentingnya lingkungan, tim program langsung membuat papan reklame peka lingkungan yang dipasang di titik-titik strategis. Mereka juga bekerja sama dengan Pemerintah Desa dan masyarakat untuk membuat video profil Desa Wioi Dua, ide yang muncul ketika warga menginginkan desa mereka lebih dikenal oleh orang luar, dan diwujudkan oleh Graceshella dan Zildjian sebagai penanggung jawab publikasi.
Selain itu, setelah melihat aparatur Pemerintah Desa kesulitan mengoperasikan komputer untuk pelayanan publik, para mahasiswa juga akan menyelenggarakan workshop dasar pelatihan pengoperasian komputer, yang diatur oleh Enjelina Tolla sebagai sekretaris yang mengkoordinasikan jadwal dengan pemerintah desa. Semuanya dibuat dalam waktu singkat sesuai kebutuhan yang teridentifikasi.
Kehadiran dan kerja keras para mahasiswa ini juga mendapatkan apresiasi dari Hukum Tua Erwin Korompu SPd, menyampaikan dukungan penuh terhadap kehadiran mahasiswa KKT. “Saya sangat menyambut baik kehadiran para mahasiswa ini, mulai dari Koordinator Ariel sampai Humas Anjani. Mereka tidak hanya datang untuk mengisi waktu, tapi benar-benar memberikan kontribusi yang nyata melalui semua program yang dijalankan,” ujar Erwin.
Ia menambahkan, “Setiap program yang mereka dibuat mulai dari home school Inggris yang diawasi Dina dan Zuldan, pengenalan breket arang, sampai pelatihan komputer, sangat sesuai dengan kebutuhan kita di desa. Saya sangat menghargai semangat mereka yang mau mendengar dan bertindak sesuai kondisi yang sebenarnya di lapangan, serta kerja sama yang rapi antaranggota tim.” Ujarnya.
Selain itu, Erwin juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat Desa Wioi Dua yang selalu memberikan dukungan. “Saya juga berterima kasih kepada semua warga yang telah selalu menyediakan makanan dan dukungan selama para mahasiswa berada di sini. Keramahan itu membuat mereka merasa seperti di rumah sendiri, dan itu yang membuat kerja mereka bisa berjalan lancar,” tandasnya dengan penuh rasa hormat.
Di sisi lain, Anjani Sasako menyebut kehadiran para mahasiswa telah diterima dengan sangat hangat oleh masyarakat. “Masyarakat di sini benar-benar baik hati, mereka menjamu kami dengan penuh keramahan. Tidak pernah kekurangan makanan, bahkan kadang lebih dari yang dibutuhkan. Mereka melihat bahwa kami benar-benar mendengar dan bertindak sesuai kebutuhan mereka, jadi kami sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga mereka,” ujarnya dengan senyum.
Dengan penuh semangat, Sasako menutup pembicaraannya dengan harapan bahwa semua program yang dibuat secara spontan ini dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan. “Kami berusaha sebaik mungkin untuk memanfaatkan sumber daya yang ada dan memberikan kontribusi yang berarti, bukan dari atas ke bawah, tapi dari dalam ke luar, sesuai kondisi yang kami lihat langsung. Semoga semua yang kami lakukan bisa bermanfaat bagi Desa Wioi Dua dan masyarakatnya,” tandasnya, dengan dukungan penuh dari seluruh anggota tim. (Adv)













