Manado, Sulutreview.com – Menjelang akhir tahun anggaran 2025, dan hari besar keagamaan, yakni Hari Natal dan Tahun Baru (Nataru), para kepala daerah yang ada di kabupaten/kota diminta untuk tidak menahan anggaran.
Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Yulius Selvanus mengingatkan untuk segera melepas anggaran belanja.
“Belanjakan anggaran, jangan menahan, mungkin akan terjadi silpa,” ujarnya di hadapan para kepala daerah yang sempat hadir di rapat koordinasi dan evaluasi (rakorev) baru-baru ini.
Masing-masing kepala daerah, sebut gubernur harus melakukannya sesuai dengan kebutuhan dan perencanaan. Ibaratnya jika anggaran ditahan, maka dapat dipastikan akan berpengaruh terhadap perekonomian daerah.
“Perputaran uang merupakan penggerak ekonomi, apalagi menjelang Natal dan Tahun Baru,” sebut gubernur.
Menurut gubernur, Pemprov Sulut akan fokus pada upaya menjaga pertumbuhan ekonomi. Di mana pada triwulan III tahun 2025, Sulut berada di posisi angka 5,39 persen.
“Target pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara adalah 6 hingga 7 persen ini yang harus kita jaga capaiannya ” tukasnya.
Diketahui, untuk Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terukur dari yakni pertanian tumbuh sebesar 21,03 persen, transportasi 11,90 persen, perdagangan 13,90 persen,
industri pengolahan 10, 84 persen dan
konstruksi 11,08 persen.
Administrasi pemerintahan tumbuh sebesar 5,39 persen, informasi dan komunikasi 3,98 persen, pertambangan 5,06 persen, keuangan dan asuransi 3,29 persen dan jasa kesehatan 3,97 persen.
PDRB Sulut triwulan III tahun 2025 ini, berasal dari berbagai sektor, yakni pertanian, perdagangan besar dan eceran, kehutanan, dan perikanan, reparasi mobil dan sepeda motor, konstruksi serta industri pengolahan hingga transportasi dan pergudangan.
Perekonomian Sulut sebagaimana besaran PDRB, yakni dasar harga berlaku di triwulan III-2025 mencapai Rp51,44 triliun, dan dasar harga konstan di 2010 mencapai Rp28,50 triliun.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulut, Aidil Adha mengakhawatirkan bahwa target untuk mencapai pertumbuhan ekonomi di posisi 6 sampai 7 persen butuh kerja keras.
“Masih mengkhawatirkan. Apakah bisa sampai akhir tahun nanti mencapai 6 sampai 7 persen. Kinerja harus terus didorong,” ujarnya.(hilda)













