Tim Ekspedisi Rupiah Berdaulat BI Sulut Menjelajah Wilayah 3T

Manado, Sulutreview.com – Menjelajah wilayah terdepan, terluar dan tertinggal (3T) tepatnya di Pulau Karakitang, Nusa, dan Marore bagi Tim Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) Bank Indonesia Sulawesi Utara (BI Sulut) adalah panggilan semangat mencintai negeri. Mengingat ketiga pulau itu adalah panggung penting untuk memperkenalkan makna sejati dari ‘Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah’ (CBP).

Kepala Tim ERB BI Sulut, Raja Alfredo Siregar, mengatakan tim menggunakan KRI Sampari-628, yang terdiri dari tim gabungan dari BI Sulut dan TNI AL. Mereka memulai pelayaran sejak 19 Agustus 2025.

Misi mereka sangat sederhana namun sarat makna, yakni untuk mengedukasi masyarakat di daerah 3T tentang pentingnya mengenal dan menjaga mata uang negara.

“Pulau Karakitang menjadi fokus singgahan pertama kami yang disambut sukacita oleh warga, perangkat desa maupun para pelajar SMA. Ada 110 orang hadir untuk mengikuti kegiatan,” ucapnya.

Di hadapan para pelajar yang mengikuti dan mendengarkan materi, tim ERB menyampaikan ciri-ciri keaslian uang Rupiah, pentingnya menggunakan uang dengan bijak, serta pentingnya peran Rupiah sebagai simbol kedaulatan negara.

Selanjutnya, pada 21 Agustus 2025, kapal menepi di Pulau Nusa. Semangat warga terlihat antusias. Terdapat sekitar 110 peserta yang berkumpul di balai desa setempat, untuk mengikuti sosialisasi yang disampaikan tim ERB.

Pengalaman yang paling berkesan terjadi di Pulau Marore, yakni pulau yang berbatasan langsung dengan Filipina. “Di Marore, sambutan masyarakat sangat luar biasa. Di sini instansi Bea Cukai ikut hadir, juga pelajar dari tingkat SMP hingga SMA. Jumlahnya hampir 150 orang,” jelas Siregar.

Tiba di setiap pulau, Tim ERB memberikan edukasi, sekaligus melakukan penukaran uang yang kondisinya lusuh, lembar uang yang telah usang ditukar dengan uang yang layak edar.

“Penukaran uang ini, bagi masyarakat pulau, menjadi layanan langka yang sangat mereka butuhkan,” tandasnya.

Perjalanan memang tidak mulus. Khususnya saat hendak melanjutkan tujuan ke Pulau Karatung dan Kabaruan, di mana laut menunjukkan keadaan yang tidak bersahabat. Ombak yang kami lintasi setinggi tiga meter sehingga menghadang laju kapal.

“Komandan kapal sebelumnya melakukan diskusi dengan kami, dan setelah mempertimbangkan berbagai faktor keselamatan, mala kami memutuskan untuk kembali,” ucap Siregar.

“Ini memang keputusan yang berat, namun nyawa dan keselamatan kru menjadi prioritas,” imbuhnya.

Ekspedisi ini bukan soal ketersediaan Rupiah. Tetapi adalah tentang kehadiran negara di ujung wilayah yang paling terpencil. Juga tentang bagaimana nilai dan arti dari selembar uang yang bisa menjadi jembatan antara warga sebagai identitas bangsanya.

BI Sulut bersama TNI AL membuktikan, meski terpisah laut dan cuaca yang tak menentu, namun komitmen untuk membangun pemahaman dan kecintaan pada mata uang Rupiah tetap menyala.
Bahkan saat singgah di pelabuhan kecil semangat Merah Putih tetap berkobar penuh kebanggaan.(hilda)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *