Sumba Timur, Sulutreview.com – Setelah 17 tahun tanpa gedung permanen, TK Negeri Kalu Manandang di Sumba Timur akhirnya memiliki rumah belajar baru yang ramah lingkungan.
Melalui program PLN Peduli, sekolah ini dibangun menggunakan ecoblock hasil olahan 2,2 ton sampah botol plastik—wujud nyata ekonomi sirkular yang memberi nilai baru bagi lingkungan dan pendidikan.
General Manager PLN Unit Induk Wilayah NTT, F Eko Sulistyono menambahkan sejak berdiri pada 2008, TK Negeri Kalu Manandang belum memiliki gedung sendiri dan harus berpindah-pindah lokasi untuk kegiatan belajar.
“Tepat di Hari Anak Nasional, kami mempersembahkan gedung baru TK Negeri Kalu Manandang sebagai hadiah untuk masa depan Sumba. Kami berharap dari sekolah ini lahir generasi emas yang cerdas dan peduli lingkungan. PLN UIW NTT berkomitmen untuk terus mendukung kemajuan pendidikan di daerah ini,” terang Eko.
Kepala sekolah, Margaretha A.L. Riupassa, tak kuasa menahan haru. “Ini mimpi yang jadi kenyataan. Anak-anak akhirnya punya ruang belajar yang layak dan penuh warna,” ujarnya.
Bupati Sumba Timur, Umbu Lili Pekuwali, juga mengapresiasi langkah inovatif PLN. Menurutnya, pemanfaatan sampah plastik untuk membangun sekolah merupakan terobosan penting bagi masa depan anak-anak di daerah 3T.
PLN menegaskan proyek ini lahir dari kolaborasi banyak pihak. Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL PLN, Gregorius Adi Trianto, menyebut pembangunan TK ini sebagai simbol komitmen menyediakan pendidikan layak untuk semua anak Indonesia.
Gedung baru kini memiliki dua ruang kelas permanen, toilet, fasilitas belajar lengkap, hingga seragam untuk para murid. Tepat pada Hari Anak Nasional, PLN menyerahkan sekolah ini sebagai “hadiah masa depan” bagi generasi Sumba.(hilda)













