Jaga Stabilitas Harga Pangan, Jurus Ampuh Gubernur Olly Dondokambey Kendalikan Inflasi

Gubernur Olly Dondokambey bersama Wagub Steven Kandouw dan Kepala KPw BI Sulut Andry Prasmuko saat hadir di HLM. Foto : istimewa

Manado, Sulutreview.com – Gubernur Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Olly Dondokambey yang juga Ketua Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) memberikan perhatian serius pada gejolak harga yang menjadi pencetus terjadinya inflasi di daerah.

Menurutnya, inflasi di Sulut selama periode 2023 dinilai klasik. Kondisi tersebut disebabkan oleh terkereknya harga bawang rica (cabai) dan tomat atau yang kerap disebut dengan barito. Namun belakangan, akibat kondisi El Nino inflasi yang terjadi didorong oleh beras dan cabai.

Salah satu upaya untuk menjaga dan mengendalikan inflasi, Gubernur Olly mengusulkan agar setiap rumah tangga akan diberikan bibit cabai atau rica gratis.

Ia berharap usulan tersebut secepatnya direspon Pemerintah Kota Manado, untuk selanjutnya membagikan  bibit sebanyak 5 hingga 10 polybag.

“Pembagian bibit ke masyarakat ini akan sangat efektif mengantisipasi inflasi. Sebab, nantinya, saat dipanen, masyarakat dapat memperoleh sekitar seperempat liter cabai. Itu cukup untuk dua hari. Begitu seterusnya sehingga daerah kita tidak mengalami inflasi yang tinggi,” ucap Gubernur Olly saat menghadiri agenda penting High Level Meeting (HLM) TPID Sulut 2023 yang dilaksanakan di aula BI Sulut, pada Sabtu (04/11/2023).

Saat ini, harga cabai mampu berada di level Rp70 hingga Rp100 ribu per kilogram. Kondisi ini terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia. Sehingga saat kekurangan stok, tidak memungkinkan, Sulut untuk mengambil dari daerah lain.

“Harga cabai di Surabaya per kilogramnya dipatok Rp65 ribu per kilogram. Jadi tidak memungkinkan untuk membeli dari luar daerah. Untuk itu, tanam cabai di polybag adalah cara yang tepat,” ujarnya.

Gubernur Olly sempat mengisahkan, pada beberapa waktu lalu, sempat membeli cabai dari Surabaya, ketika itu harga Rp35 ribu per kilogramnya.

“Saya pasok dengan Hercules dari Surabaya, karena stoknya murah dan melimpah. Kebijakan itu dilakukan karena untuk mengimbangi para spekulan yang menahan stok dari Gorontalo sehingga tidak masuk Sulut. Nah, cara ini berhasil sehingga harga cabai dapat ditekan,” tutur Olly sembari menambahkan kembali, bahwa saat ini, cara tersebut tidak bisa dilakukan, mengingat harga cabai melambung dan merata di seluruh Indonesia.

“El Nino penyebabnya, makanya nanti setiap rumah tangga bisa tanam di rumah masing-masing,” tandasnya.

Inflasi yang tidak terkendali, ditambahkan Olly, akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi hingga nilai tukar petani. “Buat apa NTP naik tetapi inflasi juga naik. Jadi tidak ada gunanya,” tambah Gubernur Olly.

Untuk itu, menjadi tanggung jawab bersama, khususnya jajaran kepala daerah untuk bersama-sama mengatasi inflasi.

“Khusus untuk daerah kepulauan bisa membuat program menanam barito, sehingga tidak perlu menunggu suplai dari daratan. Perlu dipikirkan bagaimana menanam produk yang sederhana bisa tumbuh di daerah,” tuturnya.

Berbagai tantangan dan progress pengendalian inflasi yang sempat dibahas para pemangku kepentingan telah menghasilkan kesepakatan bersama, dengan harapan, harga dan ketersediaan pangan terjaga.

Sebagai Ketua TPID yang juga Gubernur Olly yang didampingi Wakil Gubernur Steven OE Kandouw, sangat serius menyikapi pengendalian inflasi yang turut berdampak pada perekonomian daerah.

Gubernur memberikan arahan agar Tim TPID Sulut semakin memperkuat sinergi antar lembaga, terutama dalam mengantisipasi peningkatan inflasi menjelang hari besar keagamaan Natal dan tahun baru 2024.

“Pengendalian inflasi membutuhkan perhatian kepala daerah, selain itu tak kalah pentingnya adalah menjalin komunikasi dan koordinasi.

Sebagai tindak lanjut, upaya optimalisasi program pengendalian inflasi melalui sinergi Gelar Pangan Murah (GPM) dengan penyaluran bantuan sosial, kontinuitas pasar Bulog, dan pemanfaatan insentif fiskal untuk pengendalian inflasi.

Ia berharap HLM ini juga menjadi ajang launching website integrasi data terkait pengendalian harga di Sulut, yaitu melalui Neraca Pangan, informasi harga pangan, dan kegiatan pengendalian inflasi.

Website bertujuan untuk memudahkan integrasi data antar instansi dalam mengakses informasi ketersediaan dan kebutuhan pasokan dan harga komoditas pangan.

Selanjutnya, kegiatan ini dirangkaikan pula dengan penyerahan Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) Pos Check Point di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara dan Kabupaten Boolang Mongondow Selatan untuk memudahkan pemantauan pergerakan lalu lintas komoditas pangan jalur darat dalam rangka mendukung pendataan alur lalu lintas komoditas pangan Sulut.

Selain itu, Gubernur Olly Dondokambey menyebutkan pentingnya kepala daerah untuk hadir mengikuti rapat koordinasi TPID yang rutin dilaksanakan instansi terkait bersama Bank Indonesia.

Sayangnya, peluang tersebut kerap diabaikan para kepala daerah, yang lebih memilih untuk mengirim staf sebagai perwakilan.

Menurut Olly, akibat mengabaikan rakor TPID, maka sebagai konsekunsinya, kepala daerah tak kebagian insentif fiskal atau yang lebih dikenal dengan Dana Insentif Daerah, untuk pengendalian inflasi.

“Kepala daerah yang rajin mengikuti rakor TPID, memiliki kepedulian untuk mengendalikan inflasi. Tetapi yang sering hanya mengirimkan perwakilan pasti tidak dapat,” ungkap Gubernur Olly.

Pada pemaparan Overview Pengendalian Inflasi Sulut tahun 2023, Gubernur Olly mengatakan insentif fiscal itu sangat membantu pemerintah daerah. Terutama saat daerah mengantisipasi perubahan iklim yang berdampak pada distribusi sektor pangan.

“Karena aktif dan sering ikut rapat koordinasi pengendalian inflasi, maka Pemprov Sulut dan kabupaten/kota lainnya diberikan insentif fiscal. Jadi ada hasilnya,” tuturnya.

Gubernur juga menyampaikan bahwa selain aktif mengikuti rapat pengendalian inflasi, daerah juga harus menyediakan pelaporan dari berbagai upaya yang sudah dilakukan.

“Apa yang sudah kita lakukan kita laporkan. Selanjutnya, dengan mengikuti rapat pengendalian inflasi, maka kepala daerah dinilai care atau peduli terhadap TPID,” ucap Olly.

Di sisi lain, Olly juga mengatakan, untuk tidak menganggap inflasi itu sebagai perkara sederhana. “Jangan anggap inflasi itu sederhana. Sebab kalau inflasi tinggi maka berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. Makanya diperlukan kerja sama,” tutur Gubernur Olly.

Ia menambahkan, perekonomian di Sulut bisa naik, 70 persen di tunjang oleh pertanian. “Karena itu, petani manfaatkan lahan-lahan yang ada untuk bercocok tanam,” tukasnya.

Tanah di Sulut ini, ungkap gubernur 2 periode ini, tak ubahnya seperti lirik lagu yang dinyanyikan penyanyi legend Koes Plus, ‘Orang bilang tanah kita tanah surga tongkat kayu dan batu jadi tanaman’.

“Tanah kita subur manfaatkan untuk menanam. Walaupun El Nino tapi pertanian di Sulut terus menghasilkan nilai tambah bagi petani. Perkebunan dan hortikhltura kita dorong terus sehingga daya beli petani tinggi,” ucap Gubernur Olly.

Olly secara khusus menyampaikan apresiasi juga secara khusus, kepada Aparatur Sipil Negara (ASN), yang tetap meluangkan waktu untuk bercocok tanam.

“Meski pegawai tetapi juga ikut bertani. Untuk itu, diimbau kepada masyarakat agar memanfaatkan lahan yang ada, sehingga hasil pertanian naik,” sebutnya.

Kepada sejumlah bupati dan wali kota yang hadir, Olly mengingatkan untuk mendorong daerahnya memiliki gairah menanam.
(Advertorial Dinas Kominfo Sulut)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *