Manado, Sulutreview.com – Kinerja pertumbuhan perekonomian Sulawesi Utara (Sulut) pada triwulan Ill 2022 tumbuh 6,62% (yoy).
Capaian tersebut, menunjukkan tren pemulihan ekonomi terus berlanjut dan semakin menguat di Tlrengah ketidakpastian ekonomi global.
Badan Pusat Statistik (BPS), merilis bahwa kinerja ekonomi Sulut terus menguat pada triwulan Ill 2022, di tengah perlambatan ekonomi global dan kenaikan inflasi domestik.
Perkembangan tersebut tercermin pada pertumbuhan ekonomi triwulan III 2022 yang mencapai 6,62% (yoy), lebih tinggi dari capaian triwulan sebelumnya yang hanya tumbuh 5,93% (yoy), serta lebih tinggi dari capaian nasional yang tumbuh 5,72% (yoy). Kinerja ekonomi yang tetap kuat tersebut ditopang oleh berlanjutnya perbaikan permintaan domestik dan tetap tingginya kinerja ekspor.
Dari sisi pengeluaran, hampir seluruh komponen menunjukkan pertumbuhan yang positif. Konsumsi rumah tangga tumbuh tinggi sebesar 6,28% (yoy), melambat dibandingkan capaian triwulan sebelumnya 7,43% (yoy). Pertumbuhan yang tetap tinggi tersebut sejalan dengan peningkatan mobilitas masyarakat, berlanjutnya stimulus fiskal pemerintah dalam mendorong konsumsi, serta adanya penyaluran bantuan sosial dan subsidi energi.
Konsumsi Pemerintah tumbuh 8,06% (yoy) ditopang oleh peningkatan belanja pegawai dan belanja modal dari APBN dan APBD.
“Peningkatan belanja pegawai sejalan dengan penyaluran gaji ke-13 dan pembayaran tunjangan kinerja bagi ASN yang dibayarkan pada triwulan III 2022. Kinerja investasi juga membaik dengan tumbuh sebesar 5,06% (yoy), sejalan dengan peningkatan realisasi belanja modal pemerintah terutama yang berasal dari APBD dan APBN,” ungkap Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulut, Andry Prasmuko.
Peningkatan ekspor terus berlanjut dengan pertumbuhan mencapai 33,33% (yoy), ditopang oleh permintaan mitra dagang utama yang tetap kuat terhadap komoditas ekspor unggulan Sulut yaitu Lemak dan Minyak Hewan Nabati. Impor juga tumbuh tinggi sebesar 33,90% (yoy), sejalan dengan peningkatan pada impor komoditas Bahan Bakar Mineral seiring dengan kinerja permintaan domestik yang terus menunjukkan pemulihan.
Dari sisi Lapangan Usaha (LU), kelima LU utama perekonomian Sulut pada triwulan Ill 2022 tumbuh positif. LU Transportasi dan Pergudangan serta Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum juga mencatat pertumbuhan yang tinggi didorong oleh peningkatan mobilitas masyarakat dan kenaikan kunjungan wisatawan mancanegara.
LU Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan sebagai LU dengan pangsa terbesar pada perekonomian Sulut tumbuh 3,72% (yoy) ditopang oleh perbaikan pada Sub LU Perikanan di tengah kinerja Sub LU Tanaman Pangan yang melambat.
LU Perdagangan Besar dan Eceran tumbuh 5,19% (yoy), melambat dibandingkan capaian triwulan sebelumnya sebesar 7,69% (yoy) seiring dengan berlalunya periode HBKN Idul Fitri dan perayaan Paskah.
LU Industri Pengolahan tumbuh 7,90% (yoy), ditopang oleh peningkatan Sub LU Industri Makanan dan Minuman seiring dengan peningkatan kinerja ekspor. LU Konstruksi tumbuh 3,98% (yoy) melanjutkan pertumbuhan dari triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 2,62% (yoy). Kinerja LU Konstruksi membaik sejalan dengan peningkatan realisasi belanja modal pemerintah terutama dari APBD dan APBN.
Ke depan, pertumbuhan ekonomi diprakirakan tetap kuat didorong oleh perbaikan permintaan domestik sejalan dengan terus meningkatnya mobilitas.
“Namun demikian, peningkatan risiko inflasi dan penurunan global economic growth sebagai dampak ketegangan geopolitik Rusia dan Ukraina berpotensi menahan percepatan pemulihan kinerja perekonomian Sulut, di tengah pengendalian kasus COVID-19 dan progress vaksinasi yang semakin baik,” tukasnya.
Oleh karena itu, sebutnya, menjaga mobilitas masyarakat dengan tetap menjalankan protokol kesehatan dalam new normal, adalah kunci dalam mempercepat pemulihan perekonomian daerah.
“Konsumsi pemerintah yang masih berperan penting dalam perekonomian daerah, diharapkan dapat dipercepat realisasinya terutama dari sisi belanja modal,” jelasnya.
Hal ini penting mengingat efek multiplier konsumsi pemerintah pada perekonomian. Selain itu, percepatan adaptasi pada ekonomi digital perlu ditingkatkan untuk tetap menjaga momentum pemulihan perekonomian, meski masih dibayangi risiko pandemi.
“Untuk itu, Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi kebijakan dengan pemerintah daerah dan bekerja sama dalam upaya mengatasi inflasi untuk menjaga daya beli masyarakat, mendukung inklusi kevangan melalui pengembangan UMKM, dan pemberdayaan masyarakat miskin, serta berbagai program digitalisasi ekonomi yang memungkinkan masyarakat dapat beradaptasi dengan perkembangan modern,” jelasnya.(srv)













