KH A Dahlan dan Kecerdasan Intelektualnya dalam Memimpin Muhammadiyah

Foto : dok ist

Oleh : Heppy Hitipeuw, S.Kep, Ns ( Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta )
Fitri Arofiati, Skep.,Ns, MAN, Ph.D

PEMIMPIN Muhammadiyah pertama K. H. Ahmad Dahlan memiliki jiwa kepemimpinan Idealized Influence Charisma, Inspirational Motivation, Intellectual Stimullation, Individual Consideration dan memiliki kecerdasan intektual serta berpikir visioner.

Selain itu pula, K. H. Ahmad Dahlan memiliki kemampuan untuk melihat dan memahami secara emosional seluruh fenomena yang terjadi. Gagasan K. H. Ahmad Dahlan tentang pendidikan berawal dari ketidakpuasan dirinya ketika melihat adanya dualisme sistem pendidikan, yaitu sistem pendidikan Islam yang berbasis di pesantren-pesantren dan sistem pendidikan sekuler (Barat) yang berbasis di sekolah-sekolah yang dikelola oleh pemerintah kolonial Belanda. K.H. Ahmad Dahlan memandang kedua jenis pendidikan tersebut dengan kaca mata tersendiri.

Ia tidak cenderung kepada salah satunya, tetapi melihat segi-segi posistif dari keduanya. K.H. Ahmad Dahlan memberikan penilaian yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan yang diajarkan di sekolah Belanda, tetapi tidak mengurangi nilai dan penghargaan yang utuh terhadap ilmu-ilmu agama yang terdapat dalam lembaga-lembaga pendidikan pesantren.

Pada 18 November 1912 (8 Djulhijah 1330), K.H Ahmad Dahlan mendirikan organisasi bernama Muhammadiyah yang bergerak dibidang kemasyarakatan dan pendidikan.

Dengan mendirikan Organisasi ini, Ia berharap dapat memajukan pendidikan dan membangun masyarakat islam. Ahmad Dahlan mengajarkan Al-Qur’an dengan terjemah juga tafsirnya agar masyarakat memahami makna yang ada dalam Al-Qur’an dan tidak hanya pandai membaca dan melagukannya saja. Di bidang organisasi, pada tahun 1918, beliau bersama dengan istrinya yakni Nyai Ahmad Dahlan membentuk organisasi Aisyiyah yang khusus untuk kaum wanita. Pembentukan organisasi Aisyiyah, yang juga merupakan bagian dari Muhammadiyah ini. Karena menyadari pentingnya peranan kaum wanita dalam hidup dan perjuangannya sebagai pendamping dan partner kaum pria.

Sementara untuk pemuda, Kiai Dahlan membentuk Padvinder atau Pandu sekarang dikenal dengan nama Pramuka dengan nama Hizbul Wathan disingkat H.W. Usahanya ini ternyata membawa dampak positif bagi bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Banyak golongan intelektual dan pemuda yang tertarik dengan metoda yang dipraktekkan Kiai Dahlan ini sehingga mereka banyak yang menjadi anggota Muhammadiyah.

Di samping aktif dalam menggulirkan gagasannya tentang gerakan dakwah Muhammadiyah, ia juga tidak lupa akan tugasnya sebagai pribadi yang mempunyai tanggung jawab pada keluarga. K. H Ahmad Dahlan pun dikenal sebagai seorang wirausahawan yang cukup berhasil dengan berjualan batik.

Ia juga aktif diberbagai organisasi. Sifatnya yang supel, toleran dan luas pandangan membuatnya mudah diterima oleh berbagai pihak. Sebagai sosok yang aktif dalam beragam kegiatan di masyarakat serta memiliki gagasan yang cemerlang, K. H Ahmad Dahlan adalah sosok yang mudah diterima oleh masyarakat. Ia pun cepat pula mendapatkan tempat di organisasi Jam’iyatul Khair, Syarikat Islam, Budi Utomo hingga Komite Pembela Kanjeng Nabi Muhammad. K. H Ahmad Dahlan mengubah sistem pendidikan pesantren pada masa itu.

Ia mendirikan sekolah-sekolah agama yang juga mengajarkan pelajaran umum dan juga bahasa belanda. Bahkan ada Sekolah Muhammadiyah seperti H.I.S met de Qur’an. Ia memasukan pelajaran agama di sekolah umum pula. Ahmad Dahlan terus mengembangkan dan membangun sekolah-sekolah. Selain sekolah semasa hidupnya Ia juga mendirikan masjid, langgar, rumah sakit, poliklinik, dan juga rumah yatim piatu.

Perjuangan yang dilakukan K.H Ahmad Dahlam tergolong tidak mudah. Ia mendapat tantangan tidak hanya dari pemerintah Belanda akan tetapi juga dari penduduk bumi puter, bahkan dari kalangan umat Islam sendiri ide – ide pembaharuan K. H Ahmad Dahlan dianggap aneh dan menyeleweng dari ajaran Islam sehingga membuatnya dituduh sebagai Kiai Kafir.

Namun Ia tetap bertahan dan terus berjuang sekuat tenaga hingga Muhammadiyah tetap bertahan hingga hari ini diusiannya yang melewati satu abad. Ini semua menunjukan bukan hanya kekuatan ideologi dan spirit yang di bangun K.H.Ahmad Dahlan tapi juga menunjukan kekuatan system organisasi yang ia dirikan.

Sebagai seseorang yang demokratis dalam menjalankan aktivitas dari gerakan dakwahnya, Ahmad Dahlan juga memberikan fasilitas kepada para anggota Muhammadiyah untuk memproses evaluasi kerja serta melakukan pemilihan pemimpin di Muhammadiyah. Selama Ahmad Dahlan hidup, Muhammadiyah telah melaksanakan dua belas kali pertemuan anggota setiap setahun dan saat itu menggunakan istilah Aldemeene Vergadering atau persidangan umum.

Melalui pendidikan Ahmad Dahlan bercita-cita membentuk generasi muslim yang berkepribadian kuat dan utuh. Mereka adalah manusia yang memiliki kualifikasi religiusitas, intelektualitas dan tanggung jawab social. Cita-cita Ahmad Dahlan terwujud dengan berdirinya Pendidikan Muhammadiyah dari tingkat dasar sampai Pendidikan tinggi yang secara kuantitas dan kualitas mampu bersaing baik dalam negeri maupun luar negeri.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *