Manado, Sulutreview.com – Sejumlah catatan penting diungkapkan Kepala Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Arbonas Hutabarat dalam diskusi akhir tahun yang melibatkan perbankan dan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Sulut tahun 2021.
Mengangkat tema “Mengoptimalkan Sinergi dan Kontribusi Perbankan dan ISEI dalam Pemulihan Ekonomi Sulawesi Utara” itu, Arbonas mengulas tracking perekonomian, arah perkembangan ekonomi Sulut serta arah bauran kebijakan BI tahun 2022.
Katanya, sumbangsih pemikiran untuk mendorong optimisme, merupakan solusi yang sangat tepat dan relevan untuk digaungkan di penghujung tahun 2021. Terutama untuk melanjutkan pemulihan perekonomian daerah pada tahun 2022.
“Tahun 2020 dan 2021 merupakan tahun yang penuh tantangan. Negara-negara di dunia secara bersamaan berjuang untuk mencegah penyebaran virus COVID-19. Di mana sejumlah strategi telah ditempuh,” katanya di aula BI Sulut, Selasa (21/12/2021).
Sebagai upaya menekan angka penyebaran virus, beberapa negara, sebutnya, mengambil langkah pengetatan dan pembatasan aktivitas masyarakat. Sebagai hasilnya, angka pertumbuhan ekonomi di beberapa negara di dunia mulai mengalami perbaikan, khususnya pada triwulan I dan II 2021.
Namun, sayangnya, pada awal tahun tersebut, muncul varian virus Covid-19 baru, yaitu Varian Delta dengan kecepatan penyebaran dan penularan 6 kali lebih cepat dibandingkan yang sebelumnya. Negara maju maupun negara berkembang pun kembali memberlakukan pembatasan.

Kepala BI Sulut Arbonas Hutabarat
“Sebagai dampak dari penurunan aktivitas masyarakat, lagi-lagi kinerja perekonomian dari negara-negara di dunia melambat. Hal ini terjadi terutama pada mitra dagang utama Sulut, pertumbuhan ekonomi dari negara-negara tersebut cenderung melambat pada triwulan III 2021,” ungkap Arbonas.
Pogram PPKM yang diimplementasikan hampir sepanjang triwulan III 2021, sambung Arbonas untuk mencegah penyebaran Varian Delta juga telah menahan kinerja perekonomian nasional. Pada TwIII 2021 perekonomian nasional tumbuh 3,51% (yoy), tetap positif meskipun cenderung melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 7,07% (yoy).
Pembatasan aktivitas sosial ekonomi masyarakat mendorong perlambatan realisasi konsumsi rumah tangga yang hanya tumbuh 1,01% (yoy) pada Tw-III 2021. Sejalan dengan peningkatan ketidakpastian, investasi dan konsumsi pemerintah juga cenderung tumbuh melambat pada Tw-III 2021.
Meskipun demikian, ekspor yang masih tumbuh tinggi menjaga kinerja perekonomian nasional tetap positif. Secara garis besar, sebagian besar provinsi di Indonesia mengalami perlambatan pertumbuhan pada Tw-III 2021 sebagai dampak dari pemberlakuan PPKM, termasuk Provinsi Sulut.
Tahun 2021 sesungguhnya merupakan tahun bangkitnya perekonomian Sulawesi Utara. Setelah mengalami pertumbuhan negatif selama 3 (tiga) triwulan berturut-turut pada tahun 2020, perekonomian Sulut tumbuh 1,87% (yoy) pada triwulan I dan 8,49% (yoy) pada triwulan II 2021.
Penurunan kurva kasus COVID-19 Sulut antara Februari hingga Juni telah meningkatkan kembali aktivitas masyarakat sehingga mendorong kenaikan permintaan domestik.
“Kondisi ini ditunjukkan oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh kuat pada semester I 2021. Selain itu, realisasi belanja modal pemerintah dan investasi swasta yang tumbuh signifikan menjadi pendorong utama perekonomian Sulut pada semester I 2021,” bebernya.
Proses pemulihan perekonomian daerah, menurut Arbonas membutuhkan sinergi antar lembaga dan pemangku kepentingan, termasuk dengan lembaga perbankan dan akademisi.
“Langkah-langkah konkret untuk mendukung proses perbaikan perekonomian daerah juga telah kami jabarkan. Kami berharap, sinergi kebijakan antara BI dengan lembaga perbankan melalui BMPD dan akademisi melalui ISEI selaku mitra kerja di daerah dapat terus terjalin dengan baik. Pemulihan ekonomi regional perlu menjadi perhatian kita bersama. Oleh karena itu, optimisme dan perspektif positif perlu terus diperkuat untuk menyongsong masa depan ekonomi Sulut yang lebih baik,” tukasnya.
Pada kesempatan ini, Ketua ISEI Sulut Paulus Kindangen menjelaskan, ada lima sektor yang ikut mendongkrak pertumbuhan ekonomi Sulut yakni pertanian, perdagangan, konstruksi, industri transportasi dan konsumsi.
“Lima sektor yang menonjol dan mendominasi adalah sektor pertanian sebesar 20 persen. Hal ini juga berlaku hampir di semua daerah di Indonesia. Meski sektor yang lainnya juga turut memberikan kontribusi seperti perdagangan maupun industri dan transportasi yang juga memiliki peran penting,” kata Kindangen.
Dia juga menyebutkan besarnya peran pertanian perlu disupport dengan industri pengolahan yang unggul, sehingga Sulut tidak hanya mengandalkan bahan baku, melainkan telah melewati proses hilirisasi sehingga akan memiliki nilai tambah.
“Atasi kemiskinan dengan industri pengolahan. Sumber daya alam sangat penting, tetapi harus diolah sehingga bisa memiliki nilai tambah,” pesannya.
“Kalau kita mengolah bahan baku menjadi barang setengah jadi atau barang jadi maka dapat menciptakan naker, mendorong teknokogi dengan SDM yang kuat,” tegasnya.
“Kita mendorong industri harus mendorong SDM juga,” imbuhnya.(eda)













