PTBI 2021, Ekonomi Sulut Bangkit di Masa Pandemi

Suasana PTBI 2021 dilangsungkan secara fisik dan virtual. Foto : Hilda Margaretha
IMG-20210818-WA0009

Manado, Sulutreview.com – Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) Sulawesi Utara 2021, menjadi arahan dan evaluasi pertumbuhan ekonomi di Bumi Nyiur Melambai.

Meski sempat tertekan di sepanjang tahun 2021, namun Sulawesi Utara mampu bangkit dan optimis menempati pertumbuhan ekonomi yang berada di atas rata-rata nasional.

Bacaan Lainnya

Kepala Kantor Perwakilan BI Sulut, Arbonas Hutabarat mengungkap setelah mengalami pertumbuhan negatif selama 3 (tiga) triwulan berturut-turut pada tahun 2020, perekonomian Sulut tumbuh 1,87% (yoy) pada triwulan I dan 8,49% (yoy) pada triwulan II 2021.

Penurunan kurva kasus Covid-19 Sulut antara Februari hingga Juni telah meningkatkan kembali aktivitas masyarakat sehingga mendorong kenaikan permintaan domestik. Kondisi ini ditunjukkan oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh kuat pada semester I 2021.

Selain itu, realisasi belanja modal pemerintah dan investasi swasta yang tumbuh signifikan menjadi pendorong utama perekonomian Sulut pada semester I 2021.

Dari sisi eksternal, membaiknya perekonomian negara mitra dagang utama dan tren kenaikan harga komoditas meningkatkan ekspor luar negeri, khususnya ekspor minyak nabati yang merupakan komoditas utama ekspor luar negeri Sulut.

Dari sisi lapangan usaha, pemulihan terjadi pada lapangan usaha transportasi dan perdagangan yang terkait erat dengan peningkatan mobilitas masyarakat. Sedangkan membaiknya realisasi belanja modal APBD dan APBN menjadi pendorong kinerja sektor konstruksi, sebagaimana terindikasi dari kenaikan pengadaan semen di Sulut.

Pulihnya permintaan eksternal mendorong perbaikan kinerja lapangan usaha industri pengolahan di sisi hilir maupun lapangan usaha pertanian termasuk perkebunan di sisi hulu.

“Namun demikian, varian delta Covid-19 yang menyebar dengan cepat menyebabkan proses pemulihan perekonomian kembali terhambat. Negara maju maupun negara berkembang kembali memberlakukan pembatasan,” ujar Arbonas.

PPKM kembali diberlakukan di Indonesia
sepanjang Juli-Agustus 2021, sehingga kinerja perekonomian nasional dan daerah kembali tertahan. Alhasil pada triwulan III, perekonomian hanya Sulut tumbuh sebesar 3,15% (yoy) bersamaan dengan melambatnya konsumsi masyarakat.

Realisasi anggaran pemerintah pun tidak bisa secepat pada semester I. Demikian pula permintaan negara-negara mitra dagang tercatat menurun sehingga menyebabkan pertumbuhan ekspor Sulut kembali melambat pada triwulan III.

“Meski demikian, kami menilai perekonomian Sulut masih berada dalam arah lintasan (trajektori) perbaikan sebagaimana ditunjukkan oleh pertumbuhan kumulatif triwulan III 2021 sebesar 4,45% (ctc),” ungkap Arbonas.

Memasuki triwulan IV 2021, ekonomi diprakirakan menguat seiring dengan penurunan kasus aktif COVID-19 dan percepatan vaksinasi di Sulawesi Utara. Kinerja industri dan pertanian diperkirakan
tetap positif sejalan dengan tren positif ekspor luar negeri komoditas andalan Sulut.

Percepatan realisasi belanja modal maupun operasional baik yang bersumber dari APBD maupun APBN juga diperkirakan akan
meningkat sesuai dengan pola musimannya dan menjadi salah satu sumber pertumbuhan perekonomian Sulut. Berlanjutnya pemulihan ekonomi Sulut akan ditunjang stabilitas sistem keuangan yang tetap terjaga dan tumbuh positif. Sampai dengan September 2021 kredit
berlokasi proyek di Sulut tercatat tumbuh 9,86% (yoy) dengan kualitas penyaluran kredit yang terjaga pada rasio NPL sebesar 2,93%.

Kabar baiknya, kredit modal kerja tercatat tumbuh paling tinggi yang mengindikasikan tanda-tanda pulihnya dunia usaha.

Bercermin dari dinamika tahun 2021, terbatasnya aktivitas dan mobilitas masyarakat berpengaruh signifikan pada proses pemulihan ekonomi, sedangkan proses vaksinasi berperan penting dalam mengawal peningkatan aktivitas di tengah kondisi pandemi yang masih berlangsung.

“Memasuki tahun 2022, aktivitas masyarakat masih akan menjadi kunci perbaikan perekonomian daerah. Kenaikan kasus aktif
COVID-19 diharapkan tidak terjadi lagi di tahun depan. Tingkat vaksinasi yang relatif tinggi akan menjadi modal bagi perekonomian Sulut untuk menjaga level aktivitas yang mendukung normalisasi konsumsi domestik,” beber Arbonas.

Pertemuan tahunan 2021 dengan tema “Bangkit dan Optimis: Sinergi dan Inovasi untuk Pemulihan Ekonomi” juga diikuti secara virtual yang dihadiri Presiden RI, Joko Widodo dan Gubernur Bank Indonesia yang mengupas tuntas prospek perekonomian dan arah kebijakan 2022.(eda/*)

banner 300x250