Temu Responden, Arbonas Sebut Ekspor Sulut Sukses Dongkrak Ekonomi

Kepala Kantor Perwakilan BI Arbonas Hutabarat membuka temu Responden yang digelar di hotel Four Points, Rabu (13/10/2021). Foto : Hilda Margaretha
IMG-20210818-WA0009

Manado, Sulutreview.com – Pemulihan ekonomi Sulawesi Utara (Sulut) di tengah pandemi, mampu bertahan bahkan mencatatkan kinerja yang melampaui nasional

“Pada triwulan II tahun ini, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara kembali menunjukkan pemulihan dengan laju pertumbuhan sebesar 8,49% (yoy),” ungkap Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia, Arbonas Hutabarat pada Temu Responden Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara, yang digelar di Four Points Manado, Rabu (13/10/2021).

Bacaan Lainnya

Melalui tema “Mendorong Pemulihan Ekonomi Sulawesi Utara Melalui Kebijakan Pro Eskpor”, Arbonas menyebutkan BI bersama Pemerintah Provinsi Sulut dengan institusi vertikal dan horizontal lainnya akan menjaga ketahanan
perekonomian.

Secara historis Provinsi Sulut, sebut Arbonas merupakan net eksportir perdagangan antarnegara.

“Pada tahun 2020 Provinsi Sulutmencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar USD 687,65 Juta. Demikian halnya pada triwulan II 2021 total ekspor Provinsi Sulut tumbuh sebesar 13,21% (yoy), menguat signifikan dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 1,41% (yoy),” jelasnya.

Pada triwulan II 2021 sambung Arbonas, ekspor luar negeri provinsi Sulut tercatat USD 291,75 Juta atau tumbuh sebesar 44,54% (yoy), menguat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 32,04% (yoy).

Akan hal itu, sumber daya alam (SDA) memegang peranan penting dalam struktur ekspor luar negeri Sulut. Di mana komoditas minyak nabati merupakan komoditas utama ekspor luar negeri Sulut. Secara rata-rata pada tahun 2020 minyak nabati memiliki share 50% terhadap total ekspor Sulut dengan nilai USD 386,17 Juta.

“Dari jumlah tersebut, minyak kelapa kopra dan turunannya memiliki share 35,37%, minyak kelapa sawit dan turunannya sekitar 9,13%, dan minyak biji sawit sekitar 4,26%,” urainya.

Pada triwulan II 2021, sambungnya, komoditas minyak nabati menyumbang sekitar 62% dari total ekspor Sulut dengan nilai ekspor sebesar USD 179,68 Juta.

Menguatnya ekspor minyak nabati sejalan dengan tren kenaikan harga minyak kelapa /coconut oil (CNO) dunia yang terpantau masih dalam tren kenaikan pada triwulan II 2021.

“Secara rata-rata, harga dunia CNO pada triwulan II 2021 tumbuh sebesar 95,29% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 67,02% (yoy),” ujarnya.

Dilihat berdasarkan tujuan negara, kenaikan ekspor minyak nabati, Sulut terutama terjadi pada negara tujuan ke Amerika Serikat, Tiongkok dan Jepang yang juga merupakan negara mitra dagang utama Sulut.

“Kenaikan ekspor luar negeri pada negara-negara tersebut tidak terlepas dari kenaikan permintaan seiring dengan perbaikan perekonomian pada negara-negara tersebut,” tukasnya.

Pada kesempatan yang sama, Departemen Statistik (DSta) Farida Peranginangin menyatakan optimistis bahwa pemulihan ekonomi Sulut akan semakin membaik, dengan memperkuat kegiatan ekspor.

Ketika semua terpuruk, namun kinerja ekspor Sulut sangat baik. Bahkan meski dari sisi konsumsi terhambat, namun bidang ekspor mampu memberikan kontribusi yang pertama bagi kinerja perekonomian di Sulut.

“Akan hal ini, BI akan siap membantu pelaku usaha, khususnya eksportir di Sulut. Terutama saat menghadapi kendala atau hambatan dalam merealisasikan kinerja,” tukasnya sembari menyampaikan apresiasi terhadap para responden yang selama ini telah bekerja sama dengan BI.(eda)

banner 300x250