Refleksi 17 Agustus Oleh Julio Antou: Apakah Merdeka Hanya Sebuah Kata yang Tak Nyata ?

Julio Antou
IMG-20210818-WA0009

Julio Ch M E Antou yang juga selaku Sekretaris Fungsi Gereja Badan Pengurus Cabang GMKI Balikpapan MB 2019-2021 mengungkapkan bahwa di 17 Agustus Tahun 2021 ini, kita kembali memperingati momentum bersejarah bangsa dengan berbagai cara.

Meski harus dengan suasana yang berbeda akibat pandemi Covid19 yang sedang menerpa. Dari proses merebut kemerdekaan ,dilanjutkan dengan berbagai macam gejolak perjalanan bangsa, hingga sampai saat ini, Ibu Pertiwi sudah 76 tahun berdiri. Secara tidak langsung menyampaikan bahwa bangsa ini sudah tidak bisa dikatakan muda lagi.

“Pada momentum kali ini saya mencoba untuk menolak berada dalam ruang uforia. Keluar dari jendela sebelah kiri menuju ruang refleksi. Mencoba sejenak untuk mengajak kita melihat kembali dan menyadari keadaan nyata bangsa saat ini. Mari kita mulai dengan membahas momen Kepala Negara dengan menggunakan Pakaian Adat dalam setiap pidato kebangsaan. Sekilas terlihat bagaimana usaha memberikan citra peduli masyarakat adat. Namun apakah citra sesuai dengan tindak nyata ? Nyatanya kita melihat bagaimana kondisi masyarkat adat yang jauh dari kata sejahtera,” ujar Julio Antou

Lanjutnya, beberapa kali kita lihat dengan nyata bagaimana penangkapan dan kriminalisasi terhadap masyarkat adat terjadi. Ruang hidup masyarakat adat yang semakin sempit, bahkan RUU Masyarakat Adat yang sudah 12 tahun adanya masih belum disahkan. Kembali saya bertanya ?apakah citra sesuai dengan tindak nyata ?

Yang kedua, permsalahan terorisme. Tindak kejahatan terorisme berulang kali terjadi. Dari meledaknya bom di depan Gereja Katerdal Makassar, aksi terror pembuhan masyarakat Desa Lembantongoa,Sigi, pembunuhan 4 orang warga Kabupaten Poso oleh kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) hingga sampai aksi terror yang terjadi di Mabes Polri beberapa waktu lalu. Aksiaksi terror semakin marak terjadi. Sebuah hal nyata yang ada didepan mata. Lantas bagaimana masyarakat bisa merasa aman ?

Diperlukan evaluasi dan peningkatan kinerja aparat dalam peningkatan keamanan.

Selanjutnya, kita beralih kepada masalah laten yang selalu mengrogoti bangsa ini, Korupsi. Kita melihat beberapa kali tindak pidana korupsi akhirakhir ini yang bahkan dilakukan oleh oknum Eksekutif Menteri. Dana bantuan sosial yang sangat dibutuhkan masyarakat ditengah kesusaahan akibat pandemic saat ini masih saja dikorupsi. Disisi penegakan hukumnya kita melihat bagaimana koruptor-koruptor ini dihukum ringan.

Semua itu gamblang dilakukan di mata kita secara terang-terangan, seolah menyampaikan “Kalian bisa apa sih selain bayar pajak? Negara ini kami kelola suka-suka kami. Kan kami yang berkuasa. Kamu kan hanya rakyat jelata”

Kekecewaan, kejengkelan dan kemarahan kita tidak membuat para penegak hukum lebih serius menghukum mereka. Yang terjadi malah pesta diskon untuk para pelaku korupsi di tengah pandemic, didukung lembaga yang pernah berkoar-koar soal hukuman mati. Ketika hukum sudah tidak lagi tegak berdiri, saat itulah gelagat keadilan menjauh dari sebuah negeri.

Fenomena pelik korupsi diatas, masih ditambah dengan merebaknya praktik pungli. Urusan akut yang terasa sepele namun mengerikan. Padahal banyak upaya dilakukan, rupa-rupa lembaga telah didirikan, namun kenyataan sangat berbeda dilapangan. Mau lari kemana lagi kita? Yang paling mencemaskan dari pungli adalah pewajaran, saking terbiasa semua bisa memberi pemakluman. Mengambil yang bukan hak, rupanya sudah menjadi watak, bagi banyak orang yang gemar memalak. Jangan heran jika korupsi luar biasa susah untuk diberantas, dari kepala hingga kaki penuh benalu yang sukar ditebas.

Selanjutnya , kita menuju pada hal yang sudah beberapa kali kita singgung tadi, yaitu Pandemi. Pandemi membuat banyak bisnis gulung tikar, angka pengangguran dengan sendirinya menjadi melar. Jika ada kesempatan untuk menghamburkan uang negara, pandemic adalah saat yang tepat untuk meyalurkannya kepada warga, prioritaskan dulu rakyat yang sedang lapar dan haus, daripada memfasilitasi hajat hidup para politikus diberbagai tingkatan. Pandemi memang menjungkirbalikan banyak rumus dan definisi, menjerat pemimpin dan jelata dengan dilema yang tanpa henti .

Hari-hari ini sarat dengan ironi, disatu sisi banyak orang sangat ingin divaksin, tapi disisi lain banyak daerah justru kehabisan stok vaksin, dengan kebanyakan masyarakat bahkan terpaksa divaksin karena tuntutan administrasi. Test dan tracing yang belum stabil angkanya, banyak yang dipaksa untuk tidak keluar rumah, tapi bantuan dari negara masih tersendat entah dimana. Problem pasokan oksigen, stok obat-obatan yang makin menipis, tenaga kesehatan yang bertumbangan yang berujung pada rumah sakit dan puskesmas yang keteteran tak bisa menangani pasien. Mengapa semuanya seperti saling bertabrakan? Mengapa kurang lebih satu setengah tahun ini kita seperti masih kurang pelajaran?

Berbicara tentang Permberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM. Bahwa Kedaruratan adalah tentang hidup yang makin menjepit, saat pilihan yang terhidang semuanya membuat sempit. Bagi jelata kedaruratan adalah stok beras yang menipis, juga berisiknya meteran listrik yang angkanya semakin tiris. Ketika bepergian dibatasi, perkerjaanpun sangat sulit, dan angka pengangguran melejit, kita dengan jelas melihat, membaca, dan mendengar informasi tentang Warga Negara Asing (WNA) asal Cina masuk ke Indonesia untuk bekerja.

Hal-hal diatas tadilah yang melatarbelakangi berbagai kritik dari kaum buruh tani, mahasiswa dan rakyat miskin kota. Kenapa “aksi protes atau demo” adalah solusi yang dipilih?, karena “kata” sudah tak mampu mengunggah kebenaran dan “diplomasi” sudah tak mampu untuk mewujudkan “keadilan”.

Tapi sekarang, kritik pake meme di medsos saja dijerat ITE, kritik dengan mural di tembok dihadang KUHP. Nasib jadi warga negara, tiap pemilu diminta suaranya, giliran bersuara malah dibungkam. Apakah kita betul-betul sudah merdeka ? Atau merdeka hanya sebatas kata yang tak nyata ? Mari berefleksi. Karena masih begitu banyak PR bagi bangsa ini.

Yang terakhir dan sebagai penutup dalam refleksi kali ini sambungnya, memang tak gampang menjadi pemimpin pada masa genting, sebagaimana hidup rakyat yang semakin berkalang beling, mari bersandar pada hal-hal yang bisa dipertanggungjawabkan, Navigasi harus berdasar data akurat dan ilmu pengetahuan. Idealnya negara bisa memenuhi segalanya, tapi hari-hari belakangan ini bukan masa yang biasanya. Pagebluk membuat segala yang normal dan wajar menjadi berbeda. Hampir semua hal penting yang dibutuhkan mendadak jadi terbatas. Tapi, kita bisa menjadi sekuat apapun yang dikehendaki, asalkan tabah dan saling menggengam jari, hari yang sulit akan bisa dilalui dengan bahu-membahu dalam persaudaraan.

“Dengan tak sendirian semoga segala derita tertanggungkan. Kiranya momentum kemerdekaan kali ini tidak terlewat hanya dengan uforia semata namun lebih kepada refleksi dan evaluasi untuk menjadi lebih baik lagi. Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh,” tandasnya. (**)

banner 300x250