LKBN Antara Gandeng Media, Bersatu Lawan Hoaks

Webinar Peran Media di Tengah Informasi Hoaks di Masyarakat yang dilaksanakan LKBN Antara melibatkan 50-an Media se Sulawesi
IMG-20210818-WA0009

Manado, Sulutreview.com – Bertajuk ‘Peran Media di Tengah Informasi Hoaks di Masyarakat’ Perum LKBN Antara menggandeng sejumlah media yang ada di wilayah Sulawesi untuk melawan hoaks atau berita bohong yang belakangan ini kian marak.

Direktur Pemberitaan LKBN Antara, Munir mengatakan bahwa hoaks merupakan problem terbesar di dunia informasi. Karena produk berita yang dihasilkan membuat masyarakat bingung dan meresahkan.

Bacaan Lainnya

Hoaks kata Munir merupakan fenomena di mana telah terjadi disrupsi yang luar biasa yang membanjiri masyarakat di media sosial sehingga informasi menjadi tercemar dan kotor bahkan meracuni masyarakat ketika berita yang disampaikan tidak benar.

Direktur Pemberitaan LKBN Antara, Munir

“Karena keterbatasan dan ketidakmampuan mengelola informasi yang ditambahi dan dikurangi bahkan mengarang maka informasi menjadi salah. Apalagi Ketika masyarakat tidak dapat membedakan mana informasi yang benar dan mana yang salah, maka hoaks semakin merajalela,” ungkap Munir melalui webinar yang dilaksanakan Selasa (22/06/2021).

Kenapa platform media sosial yang disasar, sambung Munir. Karena cara kerjanya bukan berpola pada cara kerja wartawan. “Kalau seorang wartawan wajib melakukan verifikasi, check and recheck kebenaran pada narasumber yang kredibel. Sementara mereka tidak. Mereka menulis semau gue sehingga informasi menjadi kabur,” tukasnya.

“Bisa jadi informasi yang salah menjadi benar karena membombardir di area publik. Wartawan harus lawan informasi yang tidak benar dengan memenuhi standar jurnalistik etika,” tandasnya sembari mengajak media membangun masyarakat informasi yang sehat.

Tak kalah seru, kegiatan webinar turut menghadirkan sejumlah narasumber bersertifikat sekelas Aribowo Sasmito yang merupakan Ketua Komite Fact-Checker Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo).

Founder dan Fact-Check Specialist Mafindo, Aribowo Sasmito

Di merinci tentang apa itu berbagai jenis hoaks, yakni informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar.
Kemudian, misinformasi yaitu informasi salah atau tidak akurat tanpa niat menipu. Disinformasi, informasi salah atau menyesatkan disebarkan dengan sengaja untuk menipu dan malinformasi yang mempublikasikan informasi pribadi dengan sengaja. Dan berikutnya adalah berita palsu, yakni informasi tidak benar yang disajikan sebagai berita.

Founder dan Fact-Check Specialist Mafindo, Aribowo Sasmito dalam pemaparannya mengatakan, untuk menangkal hoaks butuh sejumlah tools, terlebih di internet saat ini banyak informasi yang beredar.

“Hoaks yang beredar telah menyesatkan, mempermainkan dan memanipulasi masyarakat. Ini harus disikapi agar tidak memancing emosi dan amarah,” tukasnya sambil mencontohkan berbagai informasi yang herseliweran di mana judul, keterangan yang disampaikan tidak mendukung konten.

Aribowo berharap agar media berperan untuk menyajikan kebenaran informasi dengan memanfaatkan tools sebagai sarana fact check atau cek fakta.

Senada juga disampaikan Kepala Unit Konten Komersil dan Kerjasama Perum LKBN Antara, Panca Hari Prabowo, bahwa untuk menjunjung pers yang sehat, maka media dalam menangkal hoaks perlu melakukan identifikasi dan seleksi. Apalagi pemberitaan Antara kerap didikutip media lain.

“Untuk itu, berita yang kami sajikan harus benar-benar harus terverifikasi. Di mana untuk wartawan Antara melakukan mekanisme standar liputan dan konfirmasi sumber kunci. ” Pengolahan data, fact check, penulisan dan editing sebelum didistribusikan adalah bagian yang sangat penting,” sebutnya.

Kegiatan webinar yang diikuti 50-an jurnalis dari berbagai media di Sulawesi itu, dikemas secara apik dan dipandu oleh host Humas Antara, Cathelya Pardede.(hilda)

banner 300x250