Pemprov Sulut dan Tokoh Agama Bersatu Junjung Tinggi Toleransi

Sarasehan yang digelar Badan Musyawarah Antar Gereja Lembaga Keagamaan Kristen Indonesia (Bamag LKKI) dengan tema "Membangun Kerukunan dan Toleransi" di Graha Bethany Wanea Manado, Senin (21/6/2021).
IMG-20210818-WA0009

Manado, Sulutreview.com – Sulawesi Utara (Sulut) dikenal sebagai laboratorium kerukunan yang menjadikan daerah ini hidup dalam suasana rukun dan damai serta menjunjung tinggi toleransi.

Hal itu tak lepas dari kesadaran dari para tokoh agama untuk menjaga dan merawatnya dalam bingkai kesatuan.

Bacaan Lainnya

Gubernur Sulut, Olly Dondokambey yang diwakili Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik Daerah Sulawesi Utara Evans Steven Liow, S.Sos, MM mengapresiasi peran tokoh-tokoh agama.

Gubernur Olly, selalu mengungkap bahwa kerukunan dan toleransi yang terjalin di Sulut penting karena terkait peran dari para tokoh-tokoh agama itu sendiri.

Hal itu terungkap saat pelaksanaan Pentaloka dan Sarasehan yang digelar Badan Musyawarah Antar Gereja Lembaga Keagamaan Kristen Indonesia (Bamag LKKI) dengan tema “Membangun Kerukunan dan Toleransi” di Graha Bethany Wanea Manado, Senin (21/6/2021).

“Toleransi adalah budaya kita, toleransi adalah gaya hidup, semua itu terangkum dalam sebuah pemahaman yang hakiki di Sulawesi Utara yaitu ‘Torang samua Ciptaan Tuhan’. Oleh karenanya, jika terjadi tindakan intoleran di Sulut, maka dapat dipastikan tindakan tersebut bukan dilakukan oleh rakyat Sulut,” jelas Liow.

Liow menambahkan optimisme akan suasana damai sebagai buah dari toleransi di Bumi Nyiur Melambai bukanlah suatu yang tidak dapat dihancurkan. Oleh karenanya peran para Pendeta untuk merawat pemahaman umat terhada cinta kasih sesama manusia sangat penting untuk terus dilakukan.

“Dari berbagai literatur, kita mengetahui bahwa semua tindakan intoleran yang telah terjadi disebabkan karena pemahaman yang keliru, wawasan yang kurang dan pergaulan yang sempit sehingga mempengaruhi cara pandang yang berakibat pada cara tindak yang intoleran.”

“Wujud dari sikap intoleran yang sering kita temui adalah kekerasan, baik kekerasan fisik maupun kekerasan verbal,” jelas Liow.

Oleh karenanya Liow menambahkan agar mari bersama-sama mengisi dinding-dinding media sosial dengan hal-hal positif, mencegah penyebaran kampanye paham radikal melalui penggunaan media sosial yang simpatik dan kreatif.

“Demikian pula dengan upaya membenturkan masyarakat menggunakan isu SARA (Suku, Agama dan Ras dan Antar golongan). Semuanya itu berbahaya jika tidak diantisipasi dan dicegah. Untuk itu diharapkan peran para Pendeta untuk menjaga toleransi itu di Sulawesi Utara,” harap Liow.

Sementara itu Ketua Bamag LKKI Sulawesi Utara Pdt. Johan Manampiring yang bertindak sebagai salah satu Nara sumber menuturkan bahwa sudah seharusnya para tokoh-tokoh agama menjalin kemitraan dengan pemerintah untuk menghargai perbedaan serta memupuk sikap kerukunan dan toleransi di masyarakat.

Hal ini menurut Johan Manampiring karena sikap tersebut mencerminkan sikap Pancasilais yang telah menjadi budaya masyarakat Indonesia sejak lama dan saat ini mulai terkikis oleh sikap-sikap intoleransi yang disebarkan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Pentaloka dan sarasehan itu sendiri dipandu oleh Moderator Dr Alfret Darenoh.(srv)

banner 300x250