Selamatkan Yaki Edukasi Waspadai Zoonosis

Topik zoonosis pada satwa menjadi pembahasan yang menarik pada forum diskusi terbatas yang dihadiri BKSDA
IMG-20210818-WA0009

Manado, Sulutreview.com – Zoonosis yang merupakan penyakit yang ditularkan dari binatang kepada manusia, perlu diwaspadai.

Topik zoonosis pada satwa menjadi pembahasan yang menarik pada forum diskusi terbatas yang dihadiri Badan Konservasi Sumber daya alam (BKSDA) Sulawesi Utara, Dinas Pertanian, Dinas Kesehatan dan Dinas Perindustrian Kabupaten Minahasa, baru-baru ini.

Bacaan Lainnya

Hubungan zoonosis, pasar tradisional dan perdagangan satwa liar illegal yang dilakukan di Tondano menjadi sorotan. Di mana diskusi ini merupakan salah satu tindak lanjut hasil lokakarya upaya Mitigasi Satwa Liar illegal yang penah dilaksanakan Selamatkan Yaki.

Program Supervisor Selamatkan Yaki, Yunita Siwi memaparkan hasil survey pasar yang dilakukan sejak tahun 2013-2018 ditemukan bahwa daging satwa liar yang diperdagangkan di pasar kebanyakan adalah kelelawar, babi hutan dan tikus.

“Jumlah daging satwa liar yang dilindungi mengalami penurunan drastis sebesar 93%. Dari 10 pasar tradisional di Sulawesi Utara,
masing-masing pasar memiliki trend jenis daging satwa liar yang berbeda. Salah satunya adalah pasar Langowan, yang diketahui cukup bervariasi dalam menjual satwa liar,” katanya (17/6/2021).

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Minahasa, Josefa M Pati SKM mengatakan trend zoonosis di Minahasa adalah rabies oleh gigitan anjing.

“Besarnya masalah rabies di suatu daerah dipengaruhi oleh berbagai faktor. Antara lain adalah banyak atau sedikitnya Hewan Penular Rabies (HPR) di daerah tersebut, utamanya anjing, kucing dan yaki serta lainnya,” tukasnya.

Sementara Kepala Seksi Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Minahasa, drh Louis Kumaunang, mengatakan pihaknya sangat mendukung kegiatan yang berhubungan dengan antisipasi zoonosis ini meski harus benar-benar kolaboratif. Apalagi selama ini Kabupaten Minahasa menjadi salah satu daerah dari 34 Provinsi di Indonesia yang dipilih untuk project One Health.

Sebuah upaya mewujudkan penguatan system pelayanan kesehatan hewan nasional di Indonesia, terutama untuk pencegahan, deteksi dan pengendalian penyakit zoonosis, Penyakit Infeksi Emerging (PIE) dan ancaman pandemi.

“Sudah beberapa tahun ini ada koordinasi yang intensif meski semuanya masih berjalan berdasarkan kasus yang terjadi. Laporan terbanyak masih dari hewan domestik dan belum signifikan untuk satwa liar. Meski begitu penularan bisa terjadi dalam banyak cara baik binatang itu masih hidup atau mati,” katanya.

Mereka sendiri pernah melakukan
penetintian di pasar dan 10 persen dari satwa yang diteliti positif rabies. Selain rabies jenis penyakit yang bisa ditularkan juga adalah influenza dan Tuberculosis (TB).

Pengendalian penyakit zoonosis di pasar dan masyarakat tidak hanya terbatas pada kesehatan dan pertanian, tetapi juga dengan kehutanan dan lingkungan.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Sulawesi Utara menjelaskan bahwa selain faktor keseimbangan alam, sisi hukum yang mengikat, ternyata ada potensi zoonosis melalui satwa liar yang diperdagangkan di pasar tradisional sebab pasar menjadi pusat penjualan daging.

Sampai saat ini sudah ada beberapa laporan yang masuk dan pihaknya terus berjaga-jaga agar jangan sampai terjadi ledakan kasus. Oleh sebab itu ketika terlibat dalam upaya bersama, maka pihaknya sangat antusias dan terbantu agar ada upaya preventif untuk mencapai sehat satwa liar.

Harus diakui bahwa melibatkan pasar sangat penting, meski menghadapi tantangan yang tidak mudah. Ini disepakati oleh Pauldy Aguw, dari Disperindag Minahasa yang membawahi pasar Langowan.

Dia mengatakan sulit melakukan kendali di pasar karena itu berbicara mata pencaharian pedagang. Meski fakta menunjukkan bahwa proses eksekusi seperti menyembelih hewan masih dilakukan di dalam pasar yang sangat berpeluang menularkan penyakit dari manusia ke hewan dan sebaliknya. Dia menyarankan agar ada penegakan hukum dari sentra satwa itu masuk. “Menjaganya sebelum masuk ke pasar, sebaiknya penegakan hukum dengan pengawasan harus diperketat di pintu-pintu masuk karena kalau sudah di pasar, kita sudah tidak bisa melakukan upaya pelarangan,”kata Aguw.

Purnama Nainggolan, Koordinator Edukasi Program Selamatkan Yaki melalui forum diskusi ini mendorong semuanya untuk bekerja secara holistic, bergandengan tangan demi tujuan yang sama dan tindakan yang implementatif di masyarakat.

“Selamatkan Yaki akan mengadakan
kegiatan bertajuk Market Seller Certification untuk bekerjasama dengan pedagang di Pasar Langowan, demi mewujudkan pasar ini sebagai pasar yang hijau, di mana pedagang memiliki rasa bangga terhadap satwa liar yang ada dengan tidak lagi menjual satwa liar terancam punah dan dilindungi,” jelasnya.

Pihaknya mengajak semuanya untuk menyadari masalah ini dan menyampaikan kepada masyarakat luas sesuai tupoksi masing-masing sehingga daya kejut dan pengaruhnya lebih besar.(srv)

banner 300x250