Arbonas : Road to FESyar Dorong Keuangan Daerah Berbasis Syariah

0
75
Kepala KPw BI Sulut Arbonas Hutabarat saat membuka FESyar 2021

Manado, Sulutreview.com – Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), membuka kegiatan Road to Festival Ekonomi Syariah (Road to FESyar) 2021.

Kegiatan tersebut, merupakan proses awal keterlibatan Sulut dalam FESyar Nasional terbesar serta kegiatan berskala internasional Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) yang akan dilaksanakan pada tahun ini.

“Kegiatan FESyar merupakan salah satu agenda rutin tahunan Bank Indonesia dalam mendukung meningkatkan kapasitas ekonomi dan keuangan daerah yang berbasis syariah,” katanya di hotel Peninsula Kamis (8/4/2021).

Menurut Arbonas, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kegiatan FESyar dan ISEF di tahun 2020 dan tahun ini dilaksanakan secara virtual atau hybrid (offline dan online) akibat kondisi
pandemik Covid-19.

“Meskipun FESyar dan ISEF dilaksanakan
secara virtual, namun sebagian kegiatan dalam Road to FESyar kali ini dapat dilakukan secara Hybrid dengan penerapan protokol kesehatan,” ujarnya.

Road to FESyar kali ini, terdapat beberapa kegiatan yaitu, seminar sosialisasi kebijakan ekonomi dan keuangan syariah, seminar Proses Sertifikasi Halal dan Fasilitasi Halal, seminar Akad Transaksi Muamalah dan Produk Perbankan Syariah. Berikut Fasilitasi dan konsultasi sertifikasi halal, Business Matching pembiayaan syariah dan pembayaran digital khususnya QRIS (Quick Response code Indonesia Standard) dan Sejumlah perlombaan seperti kesenian islam, nasyid, kaligrafi, qasidah, ceramah kultum, dan desain busana muslim dan showcasing/promosi program pemberdayaan ekonomi umat yang dilakukan oleh lembaga pengelola zakat, infaq, shadaqah, dan waqaf (ZISWAF).

“Sebagai bentuk konsistensi Bank Indonesia dalam mengembangkan ekonomi keuangan syariah di Indonesia, pada tahun 2017 Bank Indonesia telah memiliki Cetak Biru (Blueprint) Ekonomi dan Keuangan Syariah sebagai panduan di internal Bank Indonesia maupun dengan pihak eksternal terkait aktivitas pengembangan ekonomi keuangan syariah,” sebut Arbonas.

Cetak biru ekonomi dan keuangan syariah ini secara garis besar memuat empat hal utama yaitu, nilai-nilai dasar dan prinsip dasar pengembangan ekonomi dan keuangan syariah, kerangka dasar kebijakan pengembangan, strategi dan rencana aksi, dan kerja sama dan koordinasi, baik dengan pihak internal maupun pihak eksternal dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah.

Bank Indonesia juga telah menerbitkan Laporan Ekonomi dan Keuangan Syariah 2020. Berdasarkan hasil kajian dalam laporan tersebut, kondisi pandemi Covid-19 saat ini berdampak multidimensi, salah satunya pada pelemahan perekonomian global dan nasional, termasuk ekonomi
syariah.

Ekonomi syariah Indonesia pada tahun 2020 mengalami kontraksi sebesar -1,72% (yoy) dibandingkan tahun 2019 yang mengalami pertumbuhan sebesar 5,71%. Di tengah
kontraksi pertumbuhan ekonomi syariah Indonesia, dua sektor prioritas Rantai Nilai Halal/Halal Value Chain (HVC) mampu tumbuh positif meskipun tingkat pertumbuhannya melambat, yaitu pertanian dan makanan halal.

Pertumbuhan kedua sektor tersebut dapat menahan kontraksi pertumbuhan sektor prioritas HVC lebih dalam. Peran eksyar sebagai transformasi stuktural menjadi semakin relevan dan berjalan melalui tiga hal. Pertama, peran kebijakan syariah sebagai bagian dari bauran
kebijakan BI, termasuk dalam sinergi antarotoritas. Kedua, dukungan ketahanan usaha syariah melalui pemberdayaan ekonomi syariah yang berdasarkan prinsip kemitraan, baik pada UMKM syariah, maupun pada unit ekonomi pesantren. Ketiga, melalui optimalisasi keuangan sosial syariah sesuai dengan prinsip penggunaannya secara inklusif dalam memitigasi peningkatan kemiskinan dan melebarnya ketimpangan.

“Dalam perannya sebagai bagian dari kebijakan utama BI, kebijakan eksyar berperan melalui kebijakan moneter dan kebijakan makroprudensial. BI sebagai otoritas moneter dan makroprudensial menempuh bauran kebijakan akomodatif secara prinsip syariah untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional, serta melakukan sinergi kebijakan antarotoritas,” bener Arbonas.

Diketahui, bauran kebijakan yang akomodatif ini ditempuh untuk mendukung likuiditas perbankan syariah yang pada gilirannya ditujukan untuk mendorong penyaluran
pembiayaan syariah.

Di tengah pandemi, sektor prioritas ekonomi syariah, khususnya pertanian dan makanan minuman halal, masih terus tumbuh didukung pembiayaan syariah, meski masih terdapat gap pembiayaan. Perkembangan ini menyebabkan pangsa ekonomi syariah terhadap perekonomian nasional terus meningkat. Peningkatan ini juga diikuti oleh pangsa pembiayaan syariah melalui sukuk dan pembiayaan lembaga keuangan syariah, meski masih terdapat gap antara pembiayaan syariah dengan kebutuhan ekonomi syariah.

Sementara peran keuangan sosial syariah sebagai alternatif sumber pembiayaan yang inklusif dan terus meningkat.

Untuk terus mengoptimalkan eksyar sebagai sumber pertumbuhan baru, BI bersinergi dengan berbagai pihak termasuk dalam Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) menjalankan program pengembangan ekonomi dan keuangan syariah melalui implementasi 3 (tiga) pilar blueprint.

“Kami berharap kegiatan Road to FESyar ini dapat menjadi salah satu langkah kita untuk mendorong perkembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia, khususnya di Sulawesi Utara. Kami mengajak seluruh pihak khususnya generasi muda, untuk mengambil bagian dalam upaya pengembangan ekonomi dan keuangan syariah tersebut,” tambah Arbonas.

Turut hadir, Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado, Delmus Puneri Salim,P.hD, Perwakilan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal Kementerian Agama RI, Dr. H. Mastuki HS, M.Ag dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Perwakilan dari Lembaga
Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) Sulawesi Utara, KH. Abdul Wahab Abdul Gafur.(hilda)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here