Manado, Sulutreview.com – Pandemi Covid-19 yang sempat memukul sektor perekonomian, turut berdampak pada kelangsungan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Sulawesi Utara (Sulut).
Bahkan akibat antisipasi penyebaran Covid-19, masyarakat banyak yang memilih untuk tidak berbelanja di pasar tradisional. Praktis, dengan keadaan ini, banyak pedagang yang terpuruk usahanya.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Arbonas Hutabarat mengatakan bahwa aktivitas pasar tradisional harus berlangsung. Sebab, di sektor tersebut bergantung ribuan pedagang.
“Pasar tradisional tidak boleh sepi. Aktivitas ekonomi harus tetap berlangsung,” ujar Arbonas paga giat program digitalisasi pembayaran dan penyerahan Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) di Pasar Segar Paal Dua Manado, Kamis (25/02/2021).
Arbonas mengatakan kepada masyarakat konsumen, ada sistem pembayaran yang akan memudahkan cara berbelanja dengan memanfaatkan QR Code Indonesian Standard (QRIS).
“Bank Indonesia bersama Penyelenggara Jasa sistem Pembayaran (PJSP), berkomitmen untuk terus mendorong perluasan pengguaan QRIS dengan target 12 juta merchant di 2021. Sementara untuk Sulut pada tahun sebelumnya telah mencapai kisaran 42 ribu sampai 45 ribu merchant,” ungkap Arbonas.
Penggunaan QRIS, sambungnya menjadi salah satu upaya mendukung program Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) sekaligus mendorong Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).
Pelaksanaan program digitalisasi transaksi pembayaran di Pasar Segar Paal Dua
merupakan bentuk sinergi berbagai pihak yakni pemerintah pusat dan daerah, PJSP, otoritas terkait lainnya, dan masyarakat. Kolaborasi yang semakin kuat antara BI, pemerintah, dan industri baik di tingkat pusat maupun daerah akan semakin mengakselerasi transformasi digital
Indonesia.
Komitmen tersebut juga dilakukan melalui sejumlah langkah peningkatan/perluasan
jaringan dan fasilitasi penggunaan QRIS melalui merchant. Untuk mendukung ekosistem digitalisasi di Pasar Segar Pall Dua dapat berjalan dengan baik, Bank Indonesia memberikan Program Sosial Bank Indonesia berupa bantuan wifi selama satu tahun, sehingga pedagang, pengunjung dapat terbiasa melakukan transaksi pembayaran secara digital yang banyak
keuntungannya.
Selain itu, KPw BI Provinsi Sulawesi Utara juga akan memberikan smartTV sebagai mediasi sosialisasi penggunaan digitalisasi, QRIS, informasi harga dan dapat digunakan
sebagai media sosialisasi lainnya.
Sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat dilakukan oleh KPw BI Provinsi Sulawesi Utara mengenai penggunaan QRIS dan manfaatnya bagi masyarakat. Pada masa pandemi Covid -19, BI bersama ASPI dan PJSP juga mengembangkan QRIS Tanpa Tatap Muka (QRIS TTM).
QRIS telah diterapkan sebagai salah satu metode pembayaran di berbagai sektor, sehingga mendorong efisiensi perekonomian. Manfaat yang diperoleh tidak terbatas untuk transaksi perdagangan ritel di berbagai komunitas baik di pasar tradisional maupun modern dan universitas. QRIS juga digunakan untuk e-ticketing pariwisata, pendidikan, pesantren, transaportasi, parkir, e-retribusi Pemda, donasi sosial dan keagamaan.
Per Desember 2020, total merchant QRIS nasional mencapai 5.781.112. Adapun di
Sulut sendiri telah mencapai 41.803 merchant QRIS atau masih sebesar 14% dari total UMKM di Sulut sebesar 292.122.
Berdasarkan data tersebut potensi untuk pengembangan QRIS di Sulut masih sangat besar dan menjadi market menarik bagi PJSP serta menjadi potensi peningkatan transaksi digital di masyarakat, cepat, mudah, efesien, menguntungkan,
dan akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Tahun ini diharapkan pencapaian merchant QRIS dapat mencapai sebanyak 12 juta, dan di Sulawesi Utara sendiri sebanyak 86 ribu,” tandasnya.
Dipastikan dengan strategi 3 OK, yakni Optimalisasi Outcome, Optimalisasi Kinerja, Optimalisasi SDM dengan Kolaborasi, Kemitraan dan Komunikasi lintas sektor lintas instansi dengan pemerintah daerah, PJSP bank dan non bank, serta pihak-pihak terkait lainnya, maka KPw BI Provinsi Sulut dipastikan mampu mencapai target yang diharapkan.(hilda)













