Mindo Sianipar Dorong Petani Kelapa Sulut Produksi Arang Tempurung

0
86
Anggota Komisi IV DPR RI Mindo Sianipar, usai bahas diversifikasi kelapa

Minahasa Utara, Sulutreview.com – Meski harga kopra di Sulawesi Utara (Sulut) terus membaik hingga menyentuh nominal Rp8.500 per kilogram, namun petani diingatkan untuk tidak puas dengan satu produk kelapa.

Kelapa memiliki banyak manfaat. Karena secara botani, mulai dari akar, air, batang, daun, dan buah kelapa, sabut, semuanya dapat dimanfaatkan secara ekonomi. Untuk itu, petani kelapa di Sulut terus didorong agar melakukan diversifikasi turunan kelapa.

Anggota Komisi IV DPR RI, Mindo Sianipar memiliki kepedulian untuk mengangkat derajat petani kelapa Sulut, bukan hanya sekadar menjual hasil panen kelapa. Tetapi lebih dari itu, dapat merambah pasar ekspor yang saat ini kian terbuka.

Menurut Mindo Sianipar petani kelapa perlu melakukan diversifikasi kelapa yang dapat meningkatkan ekonomi

Perhatian Mindo ini, katanya telah dilakukan sejak masa mahasiswa di Institut Pertanian Bogor (ITB).

“Sejak saya mahasiswa ITB pada tahun 1973 hingga 1977 saya koordinasi mahasiswa untuk manfaatkan kelapa dan turunannya. Yakni, sabut, akar, air dan daun kelapa, akar dan batang untuk diproduksi menjadi skala industri. Kemudian dapat dijual di pasar dunia,” ungkap Mindo saat melakukan tatap muka dan berbincang dengan sejumlah petani dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di Suwaan Minahasa Utara (Minut), Senin (23/11/2020).

Menurut Mindo yang merupakan anggota Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), diversifikasi kelapa menjadi sebuah keharusan yang terus dilakukan. Terutama untuk meningkatkan nilai ekonomi.

Mindo Sianipar semangati petani kelapa Sulut

“Diversifikasi turunan kelapa sangat penting. Semuanya memberi manfaat, di antaranya seperti sabut kelapa untuk jok mobil. Selanjutnya, air kelapa dapat dibuat nata de coco dengan cara yang mudah. Bahkan yang paling menjanjikan adalah arang tempurung atau karbon aktif.

“Dengan mengekspor produk turunan kelapa, sudah pasti akan memberikan value added atau nilai tambah yang secara ekonomi akan sangat menguntungkan dan sudah pasti mensejahterakan petani. Artinya, yang diekspor bukan hanya kopra maupun kelapa bulat,” tandasnya.

Apa yang disampaikan Mindo kepada petani, bukan hanya harapan kosong. Melainkan bagaimana membuka wawasan dan mindset agar petani, mampu melihat peluang pasar. Hal itu bakal diwujudkan Mindo dengan mendatangkan langsung sejumlah pengusaha yang siap membeli produk turunan kelapa.

“Produk kelapa kita bukan hanya kopra. Mulailah untuk melakukan diversifikasi sehingga akan menambah pendapatan. Dan saya akan memfasilitasi dengan mendatangkan pengusaha untuk bertemu langsung dengan petani,” ujarnya sembari menambahkan bahwa di Bitung sudah ada perusahaan, yang membutuhkan arang batok kelapa sebesar 30 ribu ton per bulan.

“Peluang ini harus dimanfaatkan. Dan saya terus mendorong sampai kemudian mendapat respon baik dari petani. Sebab sebelumnya hal ini masih minim peminat,” sebutnya.

Di sisi lain, Mindo mengamati bahwa kelapa di Sulut, rata-rata sudah berumur. Akibatnya produksi menurun.

“Untuk itu, sudah waktunya dilakukan peremajaan. Dan pemerintah akan membantu,” kata Mindo.

Pada pertemuan ini, Mindo memberikan tips bagaimana meningkatkan kualitas panen jagung. Dia juga memberikan benih MSP untuk ditanam di sela tanaman kelapa.

“Menanam jagung sangat baik jika diintegrasikan dengan usaha yang lain. Yakni dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak. Jangan tanam jagung kemudian jual jagung. Karena, akan jauh lebih baik jika tanam jagung tetapi yang dijual telur, sapi dan babi. Ini yang namanya bisnis,” jelasnya.

Mindo Sianipar (kanan) bersama Ketua Perhimpunan Petani Kelapa Indonesia, Arly Dondokambey

Pada kesempatan yang sama, Ketua Perhimpunan Petani Kelapa Indonesia Sulut, Arly Dondokambey mengatakan pihaknya akan menjajaki kerja sama, yang mempertemukan petani dengan perusahaan. Apakah itu nata de coco dan arang tempurung yang harganya cukup baik.

“Melalui diversifikasi tanaman kelapa, seperti arang tempurung, ternyata bisa dijadikan uang. Bahkan saat ini ada perusahaan yang siap membeli dengan harga bagus Rp7 ribu per kilogram. Bukan itu saja, kami juga akan melakukan pemanfaatan air kelapa untuk nata de coco. Dengan begitu ketika harga kopra tidak menentu, namun petani tetap mendapat keuntungan dari produk lainnya,” ungkap Arly.

Arly juga meyakinkan petani kelapa, bahwa pihak perusahaan yang akan membeli arang tempurung tidak akan mempersulit dengan standar kadar air. Karena petani dapat mengukurnya melalui alat yang nantinya akan diberikan perusahaan.

“Perusahaan akan memberikan alat pengukur kadar air. Dengan demikian tidak ada lagi permainan yang akan merugikan petani. Hal ini yang seringkali menjadi kendala usaha arang tempurung,” ujar Arly.

Arly yang didampingi kelompok tani Anugerah, Gunung Klabat dan Hortimix, berharap agar pemerintah memberikan bantuan bibit kelapa genjah yang dapat dipanen, pada usia 3 tahun dengan cara mudah. Tanpa cost biaya pemanjat kelapa.

“Bantuan benih yang berkualitas dan bersertifikat sangat dibutuhkan petani. Kami juga minta perbanyak bantuan benih kelapa genjah,” harapnya.

Arly optimistis hadirnya sejumlah perusahaan yang mampu mengakomodir hasil produk kelapa dan turunan, menjadi masa untuk membangkitkan kejayaan kelapa Sulut. “Sudah waktunya petani kelapa di Sulut menikmati hasil dari produk tanaman kelapa,” kuncinya.(hil)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here