Dandel : Stop Stigma Hoax, Covid-19 Proyek Pemerintah dan Rumah Sakit

0
881
Ilustrasi

Manado, SULUTREVIEW – Juru Bicara Gugus Tugas Penanggulangan Covid-19 Provinsi Sulut, dr Steaven Dandel MPH menepis dengan tegas bahwa Covid-19 bukanlah proyek pemerintah maupun rumah sakit.

Isu yang terus berkembang dan meluas di tengah masyarakat tersebut menurut Dandel perlu diluruskan, agar masyarakat teredukasi dan memahami dengan benar sehingga tidak menyesatkan.

“Isu itu tidak benar. Di tengah-tengah kemajuan dan kemudahan aksesbilitas seperti sekarang ini, siapa saja dapat mengetahui dokumen pemerintah secara resmi yang dapat mengklarifikasinya. Apakah itu dari Kementerian atau lembaga pusat yang kompeten. Dengan demikian tidak mudah percaya hoax atau berita yang tidak benar,” ungkap Dandel.

Disebutkan Dandel, ada isu yang beredar bahwa satu orang Pasien Dalam Pengawasan (PDP) itu dibiayai hingga puluhan juta. “Informasi itu dapat di-dowload atau diakses regulasinya. Sebab, tidak ada satu pun regulasi kenegaraaan yang mengatakan pasien PDP dibiayai sedemikian mahal, tidak ada sama sekali yang seperti itu,” ujar Dandel sembari menambahkan bahwa pembiayaan itu ditentukan oleh berat ringannya penyakit maupun lamanya perawatan.

“Dengan komplikasi yang dialami pasien, semuanya harus melewati verifikasi oleh lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah. Dengan demikian pihak rumah sakit tidak serta merta mengklaim harus PDP, untuk dibayarkan oleh gugus tugas pusat lewat BNPB. Jadi ada dokumen pendukung yang disiapkan yang didasarkan pada kebenaran diagnosa PDP. Apakah itu foto rongent, lab dan swab yang disetujui verifikator kemudian dibayar,” tandasnya.

Dandel kembali meluruskan, bahwa tidak ada satu pasien PDP yang disebut-sebut dibiayai sebesar Rp15 juta, Rp50 juta hingga Rp150 juta.

“Sama sekali tidak benar. Kiranya informasi ini dapat diteruskan ke masyarakat sehingga mampu menekan stigma atau hoax. Bahwa Covid-19 bukan proyek pemerintah dan rumah sakit,” jelasnya.

Dandel juga mengingatkan agar masyarakat tidak menstigma Covid-19 sebagai penyakit yang mematikan. “Dengan kondisi kasus yang semakin tinggi kiranya masyarakat tidak menstigma dan membranding Covid-19 adalah penyakit mematikan, yang membunuh dengan cepat. Karena banyak fakta di lapangan pasien Covid-19 memiliki gejala yang ringan.

“Tidak semua pasien Covid-19 itu berhubungan dengan ICU, berhubungan dengan ventilator serta perawatan intensif. Kita harapkan pasien yang ditemukan dengan gejala ringan akan mengurangi persepsi yang keliru di masyarakat,” kuncinya.(hil)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here