The Oath, Coretan Kisah Menyentuh Demi Raga yang Lain

0
145
dr Steaven Dandel MPH

Manado, SULUTREVIEW

Kisah perjuangan para dokter dan tenaga medis yang merupakan garda terdepan dalam penanganan Covid-19, yang diungkap dalam media sosial oleh Steaven Dandel MPH, benar-benar sangat menyentuh hati siapa saja yang membacanya.

Juru Bicara Satgas Covid-19 Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), yang setiap hari berkutat dengan laporan perkembangan Covid-19 di Sulut ini menuangkan isi hatinya melalui media sosial, pada 16 Mei 2020.

Tulisan yang sangat menyentuh itu dilike oleh 1.464 akun dan dibagikan sebanyak 614 kali itu, memunculkan komen yang menginspirasi penuh dengan harapan dan doa.

Dalam tulisannya, dr Dandel mengungkapkan bahwa sebagai seorang dokter yang telah bersumpah di hadapan manusia dan Tuhan, telah menjadi kekuatan dan energi untuk menolong bagi raga yang lain, kendati harus berada di ruang infeksi. Murni untuk kemanusiaan. Bukan karena iming-iming insentif.

“Sumpah ini yang saya yakini, membuat sebagian besar rekan sejawat tetap bertahan di ruang ruang infeksius untuk merawat raga yang lain, dan bukan karena iming-iming insentif,” tulisnya.

Tidak mudah memang menjalani profesi di tengah pandemi yang tidak diketahui kapan akan berakhir. Namun optmisme terus dibangun, kendati dalam keterbatasan fasilitas, sehingga nyawa menjadi taruhannya.

“Buat teman teman sejawat dokter dan juga perawat, dan seluruh tenaga medis dan paramedis, kita tetap akan bertempur. Walaupun di tengah sorotan, perundungan dan keterbatasan sarana dan prasarana,” ujarnya.

Di akhir tulisannya, dr Dandel meminta doa buat para dokter dan tenaga medis yang terinfeksi Covid-19. Bahkan dirinya juga meminta maaf, karena sebagai manusia tak luput dari kesalahan.

“Mari bersama memberi salut dan hormat serta doa untuk kesembuhan, 7 rekan dokter dan 19 perawat dan 6 petugas di Faskes yang terkonfirmasi positif Covid 19 di Sulawesi Utara,” katanya.(hil)

“THE OATH”

Sumpah profesi yang diucapkan pada saat pelantikan kami sebagai tenaga kesehatan.

Dengan meletakkan tangan di atas Kitab Suci sesuai agama masing masing. Kami ucapkan lantang untuk didengar keluarga kami yang hadir saat itu, biar mereka paham konsekuensi yang kami ambil.

Tetapi di dalam hati yang terdalam kami berdoa lirih untuk dimampukan  menepatinya. Ini bukan janji kepada manusia, tetapi ikrar kami ke Sang Pencipta dalam kelemahan kami sebagai manusia.

Sumpah ini yang saya yakini, membuat sebagian besar rekan sejawat tetap bertahan di ruang ruang infeksius untuk merawat raga yang lain, dan bukan karena iming-iming insentif.

Mereka yang dirawat bisa saja merengut, menolak dan melawan, bertindak sesukanya atas nama kebebasan dan hak asasi. Tapi tenaga kesehatan termeterai dengan ikatan abadi dalam sumpah kepada yang Maha Kuasa untuk selalu mengutamakan kemanusiaan. Tapi tetap saja tenaga kesehatan itu manusia juga, ada saatnya kami melakukan kesalahan. Maafkan kami.

Buat teman teman sejawat dokter dan juga perawat, dan seluruh tenaga medis dan paramedis, kita tetap akan bertempur. Walaupun di tengah sorotan, perundungan dan keterbatasan sarana dan prasarana.

Kalau masih ada tekanan yang luar biasa dari pihakmanapun, bersabarlah. Anggaplah kita kerja bagi keluarga kita masing-masing. Kalau kita tidak keluar untuk bekerja, maka penyakit ini bisa juga akan sampai ke keluarga kita.

Mari bersama memberi salut dan hormat serta doa untuk kesembuhan; 7 rekan dokter dan 19 perawat dan 6 petugas di Faskes yang terkonfirmasi positif Covid 19 di Sulawesi Utara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here