Aliran Dana Hibah KONI Minsel Kembali Dipertanyakan

0
287

Amurang, SULUTREVIEW

Sejak KONI Minsel kepemimpinannya dipegang James Arthur Kojongian (JAK), tiap tahun mendapatkan dana hibah dari Pemerintah kabupaten (Pemkab) Minsel.

Tidak tanggung-tanggung, Rp1 miliar anggaran yang dikucurkan. Menjadi pertanyaan kemanakah dana tersebut mengalir? Apakah digunakan mendongkrak prestasi olahraga? Sedangkan bonus atlet tak kunjung dipenuhi dan uang pembinaan juga tak sampai ke organisasi cabang olahraga  (cabor) yang berinduk ke KONI.

“Selama ini untuk pembinaan atlit, lebih banyak diambil dari kantong sendiri. Tidak pernah ada bantuan dari KONI. Padahal KONI mendapatkan dana hibah dari Pemkab Minsel yang kami ketahui sebesar Rp 1 miliar. Lalu dikemanakan dana hibah tersebut sedangkan KONI sebagai induk, salah satu perannya memberikan pembinaan bagi Cabor,” sebut Ketua PTMSI Minsel Frangky Lelengboto.

Hal senada juga disampaikan oleh pengurus cabor lainnya. Dikatakan sejak 2018 sampai sekarang tidak pernah menerima bantuan dana pembinaan. Jadi pada prinsipnya Cabor di Minsel tidak mendapat perhatian memadai dari KONI. Sementara itu, KONI mendapatkan dana hibah dari Pemkab Minsel.

Padahal seharusnya KONI membantu dana pembinaan atlit. Paling tidak tiap kali menghadapi even, diberikan dana pembinaan.

“Setahu kami memang tidak ada dana pembinaan yang mengalir ke organisasi Cabor. Bahkan waktu pembinaan atlit dalam rangka mengikuti Porprov juga tidak ada. Paling parah atlit berprestasi yang memperoleh medali juga tidak diberikan bonus seperti dijanjikan. Kami sendiri tidak mengetahui peruntukan dari dana hibah di KONI,” sebut pengurus Cabor yang minta namanya tidak disebutkan.

Keluhan juga disampaikan orangtua atlit berprestasi, bonus sejak Porprov 2017 di Tondano sampai Porprov 2019 tak kunjung diterima. Tak pelak KONI dituding hanya mengumbar janji, bahkan dana pembinaanpun terabaikan.

“Kami tahu KONI dapat dana hibah, lalu kemana itu kalau janji bonus tidak diberikan? Padahal kita pe anak so berjuang demi nama daerah namun tidak ada penghargaan. Kami juga mopertanyakan pemberian dari Provinsi Sulut seusai Porprov 2017 ada lari kemana? Infonya dipakai for proyek fisik, padahal seharusnya bagi pembinaan atlit,” ujar orangtua atlet atletik yang minta namanya disembunyikan.

Pada bagian lain Antje Durandt menyebutkan hutang KONI untuk membeli seragam pada Porprov 2018 di Tondano belum terbayar sampai sekarang. Berulangkali ditagih namun tidak ada jawaban. “Pernah dijanjikan setelah dana hibah dicairkan akan dibayar tapi nyatanya tidak. Kalau kecil mungkin bisa diterima, tapi pinjamannya cukup besar. Kembali kami tanyakan, lalu kemana saja mengalir dana hibah tersebut,” beber Durant.

Juga turut dipermasalahkan bantuan dari Pemprov Sulut seusai digelarnya Porprov 2018. “Seharusnya dana digunakan untuk pembinaan atlit. Tapi setahu kami malah dialihkan untuk pekerjaan fisik yang juga tidak diketahui selesai atau tidak dan bermanfaat atau tidak,” pungkasnya.(noh)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here