Progran P2L Dinas Pangan Sulut Menyasar Daerah Stunting dan Kantong Kemiskinan

Kepala Dinas Pangan Daerah Sulawesi Utara, Ir Sandra Moniaga MSi

Manado, SULUTREVIEW

Dinas Pangan Daerah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) menggulir program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) 2020.

Tujuannya adalah menyasar serta memberdayakan wilayah atau daerah stunting dan rawan pangan. Tepatnya daerah kantong-kantong miskin yang tersebar di 14 kabupaten/kota.

Dikatakan Kepala Dinas Pangan Daerah Provinsi Sulut, Ir Sandra Moniaga MSi, melalui Kabid Konsumsi dan Penganekaragaman Pangan, Dinas Pangan, Tries J Pilat, kegiatan P2L yang fokus kepada penerima bantuan, agar mendapatkan manfaat yang berkelanjutan.

“Bantuan P2L difokuskan kepada keluarga yang ada di 14 kabupaten/kota, terutama diarahkan dengan memperhatikan prioritas daerah kecamatan atau desa wilayah stunting dan rawan pangan,” tukasnya pada Rapat Koordinasi Kegiatan P2L 2020 di Best Western Lagoon, Selasa (10/03/2020).

Kegiatan yang dibuka Asisten II Bidang Ekonomi Praseno Hadi, program P2L diharapkan bukan hanya sebatas untuk memberdayakan keluarga. Tetapi, lebih dari itu dapat memberikan manfaat yang besar pada pasca panen.

“Manfaat yang terbesar dapat meningkatkan pendapatan dan ekonomi, yakni produk tanaman pangan dapat dipasarkan melalui transaksi pasar tradisional terdekat atau retail,” ujarnya.

Pilat juga menyebutkan ada sejumlah komponen bantuan yang digulirkan secara nasional, dengan besaran hingga Rp60 juta per kelompok dengan kategori penumbuhan sebanyak 52 kelompok.

Sebelumnya, ada tahapan pemberian bantuan yang meliputi pengembangan sebanyak 62 kelompok, dengan besaran Rp15 juta per kelompok.

Tries Pilat

“Kelompok yang diprioritaskan adalah intervensi stunting, seperti Bolsel dan Minut,” katanya sembari menambahkan setiap kelompok melakukan penanaman sebanyak 75 polibag. Berikut kebun bibit dan demplot dengan isi 100 meter persegi.

“Saat ini sudah ada 114 kelompok yang mendapatkan bantuan program ini,” ujarnya.

Diketahui, P2L pada intinya adalah program untuk memberdayakan warga agar memanfaatkan dan mengembangkan pangan lokal. Antara lain dengan memanfaatkan pekarangan secara maksimal.

Selain itu, rumah juga menjadi lebih hijau, pekarangan lebih bersih.

Melalui program ini, anggota didorong untuk memanfaatkan lahan pekarangan dengan menanam kebutuhan dapur mulai dari cabai hingga tomat maupun sayuran.

Setiap anggota mendapatkan bibit, yang kemudian ditanam di pekarangan, yang disesuaikan dengan potensi lokal.

Program P2L dikembangkan dari tahap penumbuhan ke tahap pengembangan pangan.(eda)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *