Ekspor Langsung Fresh Tuna, Dipastikan Dongkrak Produk Perikanan Sulut

0
382
FGD membahas ekspor langsung diikuti para pemangku kepentingan

Manado, Sulutreview.com

Produk perikanan Sulawesi Utara (Sulut) terus didorong peningkatannya. Terutama dalam skala ekspor ke sejumlah negara potensial.

Diungkapkan Kepala Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu (BKIPM) Hatta Arisandy, produk perikanan saat ini menunjukkan peningkatan signifikan, terutama produk fresh tuna dengan volume 3,9 juta kilogram dengan nilai 29 ribu US dollar.

“Tujuan ekspor terbesar didominasi AS, Saudi Arabia dan Jepang. Di mana sebanyak 900 ton lewat bandara Sam Ratulangi dan pelabuhan laut Bitung,” kata Hatta dalam FGD Mewujudkan Ekspor Langsung Hasil Perikanan dan Kelautan pada Bandara Udara Internasional Sam Ratulangi Manado, yang digelar di aula Kantor Bea Cukai, Kamis (5/03/2020).

Komoditi perikanan Sulut, sambung Hatta sangat diminati di 32 negara tujuan seperti Cina, Hongkong, Thailand, Singapura, Vietnam dan Malaysia.

“Peningkatan signifikan sebesar 911 ton. Potensi kenaikan kiranya dapat dimanfaatkan sehingga perikanan Sulut mampu memenuhi kebutuhan pasar di negara-negara tersebut,” ujarnya sembari menambahkan bahwa fresh tuna merupakan produk yang sangat bagus untuk dimaksimalkan.

“Untuk itu sangat diharapkan direct flight Manado-Jepang bisa terwujud. Sebab kalau dilihat dari data lalu lintas ekpsor puncaknya terjadi pada November dan Desember,” katanya.

“Diharapkan momen ini dapat dimanfaatkan dengan melihat peluang slot kargo direct flight,” tambahnya.

Hatta juga berharap program ekspor langsung dapat difasilitasi Dinas Kelautan dan Perikanan.

Selanjutnya, General Manager Angkasa Pura I, Bandara Sam Ratulangi Manado, Minggus Gandeguai mengatakan produk perikanan yang diekpsor sebesar 99% adalah ikan segar. “Ekspor
internasional ini, pasarnya adalah negara Jepang dengan menggunakan maskapai Garuda. Dan sebesar 48% lewat Jakarta,” jelasnya.

Minggus juga menjelaskab jika pihaknya menyiapkan permintaan slot. “Kami punya slot yang kosong. Harapan kami slot pada tengah malam dapat dimanfaatkan sehingga dapat tiba pagi di Jepang,” ujarnya.

Minggus juga mengatakan di tahun 2021 akan disiapkan fasilitas untuk menunjang ekspor perikanan. Antara lain dengan dilengkapi cold storage.

Flight Manado-Jakarta, dan Manado-Jepang, harus dimanfaatkan peluangnya. Berapa yang mampu disiapkan, karena kebutuhan harus disiapkan setiap hari. Apa yang bisa dibawa dari Jepang ke Manado, juga sebaliknya,” ungkap Minggus.

Minggus juga menyampaikan potensi perikanan dari pulau-pulau terluar dapat memanfaatkannya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulut, Tinneke Adam, mengatakan ekspor Sulut untuk menjawab kebutuhan, pasar Jepang sudah ada dan berjalan lancar.

“Ekspor secara langsung akan mengurangi cost transit. Sekarang ini 84 persen ekspor perikanan Sulut paling banyak yakni ikan tuna, ikan segar, frozen dan smoke,” ujarnya.

Tinneke berharap diskusi dapat mendorong realisasi volume ekspor. Hal ini membutuhkan koordinasi semua pihak,” tegasnya.

“Jangan kita memikirkan lancar atau tidak, ketika menggarap ekspor langsung ini. Harus optimis bahwa setiap upaya yang kita lakukan akan mendorong capaian perikanan di Sulut,” sebutnya.

Senada disampaikan Kepala KPP Bea Cukai TMC Manado, M. Anshar.

Dia berharap perikanan Sulut dapat diekspor secara langsung.

“Saya kira perikanan Sulut sudah diekpsor langsung ke negara tujuan. Ternyata perkiraan itu salah, karena selama ini via Bali, Jakarta dan Surabaya.

Menurutnya, sudah waktunya Sulut dijadikan hub ekspor perikanan baik via bandara maupun pelabuhan laut.

“Sangat disayangkan sekali apabila ekspor kita harus transit di Denpasar dan Jakarta. Padahal produksi perikanan kita cukup banyak, potensi kargo juga cukup besar. Makanya kita bahas bersama di FGD ini agar bisnis prosesnya bisa diubah,” ujar Anshar.(hil)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here