BI Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Sulut Tahun 2020 Menguat

0
355
Arbonas Hutabarat

Manado, SULUTREVIEW

Bank Indonesia (BI) optimis pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara tumbuh positif dan cenderung menguat pada tahun 2020.

Dikatakan Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Arbonas Hutabarat, pertumbuhan ekonomi tahun 2019 tercatat tumbuh sebesar 5,66% (yoy).

Meskipun pertumbuhan ekonomi Sulut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2019 yang tercatat sebesar 5,02% (yoy), namun pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulut relatif Iebih rendah dibandingkan provinsi-provinsi lainnya di Sulawesi.

Oleh karena itu, perlambatan pertumbuhan ekonomi tahun 2019 perlu dijadikan pemicu untuk terus mengembangkan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru di Sulawesu Utara diantaranya melalui upaya intensifikasi dan ekstensiflkasi produksi pertanian serta menciptakan hilirisasi dan diversivikasi industri pengolahan maupun pengembangan pariwisata.

Dijelaskannya, sejumlah poin penting yang akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi, akan dipengaruhi oleh harga komoditas utama yang mulai menunjukan tren positif sejak Oktober 2019 dan potensi penyesuaian kebijakan perikanan diperkirakan menjadi faktor pendorong kinerja lapangan usaha pertanian dan industri pengolahan serta ekspor dari sisi permintaan.

Sementara itu, kinerja transportasi diperkirakan akan menguat seiring adaptasi masyarakat terhadap range tiket pesawat dan peningkatan aksesbilitas di wilayah Sulawesi Utara.

“Investasi dan konstruksi juga diperkirakan akan tumbuh menguat di tahun 2020 seiring percepatan pembangunan Provek Strategis Nasional seperti Jalan Tol Manado Bitung, Bendungan Kuwil Kawangkoan, dan Bendungan Lolak,” jelasnya.

Selain itu, pembangunan KEK Pariwisata Likupang yang dimulai pada tahun 2020 dan pembangunan akses untuk mendukung peningkatan pariwisata diperkirakan akan ikut mendorong pertumbuhan investasi.

Sementara itu, konsumsi pemerintah diperkirakan akan menjadi faktor pendorong perekonomian di tahun 2020 seiring adanya perbaikan realisasi belanja pemerintah.

“Bank lndonesia terus mencermati berbagai perkembangan serta risiko eksternal dan domestik. Risiko eksternal berupa risiko terkait rencana pengetatan kebijakan moneter di negara ekonomi, risiko kenaikan harga minyak, perang dagang serta berlanjutnya tren negatlf harga komoditas,” sebut Arbonas.

Di sisi domestik, risiko berasal dari belum kuatnya konsumsi rumah tangga dan Intermediasi perbankan. Khusus regional Sulut, risiko bersumber dari permasalahan di Infrastruktur sepertl pembebasan Iahan di lokasi KEK Bitung dan PSN serta keterbatasan pasokan Iistrlk seiring dengan naiknya kebutuhan masyarakat terhadap daya listrik.

“Bank Indonesia akan terus berkontribusi nyata dalam mendorang pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara, melalui strategic advisory, pengendalian inflasi, pengedaran uang, pengembangan UMKM dan wirausaha, mendorong gerakan non tunai melalui implementasn QR Code lndonesian Standard (ORB), pengembangan SDM Sulut serta memonitor berbagal perkembangan baik domestlk maupun eksternal, sekaligus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah Daerah,” ungkapnya.(srv)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here