Antisipasi Pasien Terjangkit Virus Corona, RSUD Prof Kandou Siapkan Ruang Isolasi

0
902

Manado, SULUTREVIEW

Meski belum ada indikasi pasien yang mengidap virus Corona, namun RSUP Prof Dr RD Kandou telah menyiapkan ruang isolasi dengan fasilitas kesehatan yang memadai.

Tidak disebutkan berapa jumlah ruang yang disiapkan, namun antisipiasi telah dilakukan jika tiba-tiba ada pasien yang terjangkit virus Corona.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) dr Debie Kalalo kepada wartawan mengatakan bahwa sampai sejauh ini belum ada pasien yang mengidap virus Corona.

“Belum ada laporan ada pasien yang tertular wabah virus Corona, namun RSUP Prof Dr Kandou telah menyiapkan ruang isolasi untuk mengantisipasinya,” ungkapnya Rabu (22/1/2020).

Wabah virus Corona yang membuat geger dunia ini, sangat diseriusi pemerintah Indonesia. Itu sebabnya pemerintah menginstruksikan seluruh daerah untuk melakukan berbagai langkah antisipasi.

“Hal yang sama dilakukan oleh berbagai belahan dunia. Di mana untuk Dinkes Sulut telah menyiapkan tujuh langkah antisipatif, guna mencegah masuknya wabah virus corona,” kata Kalalo.

Penyebaran penyakit yang menyebabkan pneumonia ini, awalnya terjadi di Provinsi Wuhan, Republik Rakyat Tiongkok. Dan menindaklanjuti hal tersebut Kementrian Kesehatan (Kemenkes), telah menginstruksikan agar semua provinsi di Indonesia lebih meningkatkan kewaspadaan. Terutama di pintu masuk seperti bandara.

“Pengawasan di pintu masuk seperti bandara kita tingkatkan. Ini penting karena bandara merupakan sarana keluar masuknya orang, sehingga membuka berbagai kemungkinan masuknya virus,” tukansya.

Dijelaskannya, Dinas Kesehatan Sulut juga melakukan koordinasi dengan berbagai pihak. Pertama, melayangkan surat edaran untuk mewaspadai virus Corona kepada kabupaten/kota dan rumah sakit. Baik pemerintah maupun swasta sejak tanggal 8 Januari 2020 lalu.

“Tak itu saja, kedua kami juga membuat surat Surveilans Aktif RS dan Surveilans Pasif RS ke setiap rumah sakit agar pro aktif melaporkan kejadian penyakit berpotensi Kejadian Luar Biasa (KLB) termasuk kejadian pneumonia pada 14 Januari 2020,” tandasnya.

Ketiga, meningkatkan upaya pengamatan penyakit menyerupai influenza (influenza like illnesses) di puskesmas-puskesmas.

Keempat, melakukan pemantauan pelaku perjalanan dari luar negeri di pintu masuk Negara di Bandara Sam Ratulangi Manado bekerja sama dengan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas II manao dengan menggunakan alat pemantau suhu (thermal scanner). Kelima, melakukan Surveilans Aktif Rumah Sakit (SARS) ke semua rumah sakit di Manado dan kabupaten/kota lain, untuk memonitor kejadian penyakit menular potensial KLB termasuk kejadian pneumonia.

Selanjutnya, keenam, melakukan edukasi kepada masyarakat tentang cara-cara pencegahan dan pengendalian penyakit pneumonia, dan ketujuh, menyiapkan logistik upaya pencegahan penyakit pneumonia ini.

“Saat ini di bandara Samrat telah dipasang thermal scanner yang merupakan alat pemantau suhu. Intinya, kita merespon penyebaran penyakit pneumonia ini dengan melakukan langkah-langkah antispatif,” jelasnya.

Kalalo juga memberikan imbauan kepada masyarakat agar tidak panik, karena penyakit tersebut tingkat fatalitasnya (kematian) rendah. Warga diharap mendengarkan advice dari sumber terpercaya, dan bila didapati adanya berita meresahkan segera menghubungi dinas kesehatan baik provinsi dan kabupaten/kota.

“Meski begitu, warga juga dapat waspada terutama jika mengalami gejala demam, batu disertai kesulitan bernafas, segera mencari pertolongan ke pelayanan kesehatan terdekat,” tuturnya.

Dia juga berharap warga agar dapat memperhatikan soal kebersihan tangan rutin, sebelum memegang mulut, hidung dan mata setelah memegang instalasi publik. Selanjutnya, tambah Kalalo, membiasakan mencuci tangan dengan air dan sabut cair serta membilas setidaknya 20 detik.

“Saat bersin dan batuk kiranya dapat menutup mulut dan hidung dengan tissue. Kalau memiliki gejala gangguan saluran napas, dan berobat ke fasilitas layanan kesehatan,” pungkasnya.

Sekedar diketahui, kejadian berjangkitnya infeksi paru menyerupai pneumonia dengan penyebab virus corona strain baru terjadi pada awalnya di Provinsi Wuhan, Republik Rakyat Tiongkok.

Sampai tanggal 20 Januari 2020 dilaporkan ada 198 orang yang terinfeksi oleh penyakit ini. Sebagian besar ada di Provinsi Wuhan, terlapor adanya penyebaran ke Beijing. Otoritas Kesehatan Thailand dan Jepang juga melaporkan adanya tiga kasus yang dicurigai, walaupun belum terkonfirmasi.

Sudah ada sekira tiga kasus kematian akibat penyakit ini. Kasus kematian terjadi pada orang tua, dan orang-orang yang memiliki masalah kesehatan lainnya. Otoritas China berhipotesa bahwa penyakit ini terjangkit dari hewan liar yang dijual di pasar hewan ke manusia.

Dilaporkan adanya transmisi (penjangkitan) dari manusia ke manusia, walaupun dengan probabilitas yang sangat kecil.(srv/ist)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here