Malang, SULUTREVIEW
Wakil Gubernur Sulut, Drs Steven O.E Kandouw didampingi Wakil Ketua TP PKK Sulut, dr Kartika Devi Tanos MARS, menghadiri Rakernas dan Jambore Kerukunan Keluarga Sulawesi Utara Seluruh Indonesia (K2SI) di Malang, Jawa Timur, Kamis (17/10) kemarin.
Pada kesempatan tersebut, Wagub Steven Kandouw didaulat sebagai Pembina K2SI sekaligus memberikan arahan kepada para pengurus dan anggota yang hadir.
Dengan gaya khas sebagai orator dan retorika andal, Wagub Kandouw membuka sambutannya dengan mengingatkan untuk selalu bersyukur.
“Saya diutus Pak Gubernur dan saya sangat senang bisa hadir disini sekalian nyekar ke malam keluarga di Malang,” katanya.
Diketahui pertumbuhan ekonomi Sulut saat ini 6 persen, kemiskinan paling rendah, kita sudah tiga tahun propinsi paling harmoni, 2 tahun paling berbahagia dengan parameter yang ada.
Warga Sulut 40 persen petani, komoditas cengkih, pala dan kopra paling murah, kasihan petani tapi memang gejala dunia. Tapi kemiskinan berkurang karena Tuhan berkati Sulut.
“Di sisi lain pariwisata di Sulut naik 500 persen paling tinggi se Indonesia. Setahun 150 ribu asing,0 nusantara 2,5 juta itupun terhalang harga tiket naik. Hotel selalu penuh. Inilah sedikit oleh-oleh kabar dari masyarakat Sulut,” ujar Kandouw.
Lebih lanjut, mantan Ketua DPRD Sulut yang fasih Berbahasa Inggris dan selalu dinantikan saat berpidato ini, menguraikan jumlah penduduk Sulut sebanya 2,6 juta tambah diaspora sekitar 1 juta. Berarti orang Sulut di Indonesia tidak sampai 2 persen dari total rakyat Indonesia berjumlah 260 juta.
“Dengan kondisi ini, memberi pencerahan kepada kita untuk selalu bersatu dan kompak, jangan saling mendengki dan iri. Mari kita bangun daerah kita tercinta,” tukasnya.
Wagub Kandouw juga menguraikan peran putra-putra terbaik Sulut di sejarah Indonesia.

Ada satu yang susah diselesaikan waktu itu Konferensi Meja Bundar di mana Sulut mencapai tiga delegasi dengan keinginan berbeda. Namun akhirnya di suatu momen perayaan Natal semua dapat dipertemukan dalam karya Roh Kudus, yang akhirnya disepakati tahun 1949 dalam NKRI.
“Jadi tidak ada lagi macam-macam, yang ada hanya NKRI,” tukas Ketua Alumni Universitas Indonesia di Sulut ini sembari berterima kasih pada K2SI, di mana AD/ARTnya mulia dan jelas sehingga road map republik ini bisa dilihat dari K2SI.
Selain itu, berkaitan dengan masalah di Wamena, tambah Ketua PMI Sulut ini, langsung diperhatikan Gubernur Olly Dondokambey.
“Pengalaman membuktikan yang pertama membantu sesama saudara dengan orang-orang satu kampung. Jadi, mari K2SI kondisikan semangat baku bantu di segala bidang dan stakeholder. Baik pendidikan, pariwisata, pedagang, ASN dan sebagainya. Kita harapkan paguyuban-paguyuban Sulut bisa melakukan penetrasi seperti ini,” tandasnya.
Kandouw juga mendukung, harus ada ikhtiar konkret agar warga Sulut di mana pun berada dapat memberikan dampak positif.
“K2SI harus jadi suplementer dan komplementer, bukan hanya sekedar bertemu secara seremoni. Tetapi berguna bagi orang Sulut di luar daerah. Ini harus menjadi satu impian yang rasional,” ujar Wagub yang juga dikenal seraya kembali menyentil soal pendidikan. Dimana jaman Belanda, putra Sulut nomor satu. Contohnya, dokter wanita pertama, guru wanita pertama, Gubernur Lalamentik di NTT semua dari Sulut.
Di akhir sambutannya, wagub Kandouw yang juga merupakan Majelis Pertimbangan Sinode GMIM ini, menyatakan Pak Gubernur Olly Dondokambey dan dirinya meyakini satu variabel yang bisa menunjang pembangunan pariwisata adalah Diaspora.
“Bayangkan dari satu juta Diaspora, setiap bulan delapan puluh ribu saja Diaspora pulang Sulut bisa memperkuat devisa daerah. Mari, Diaspora bangun Sulut dengan visi misi K2SI sebagai show window Sulut di perantauan dan menerima segala berkat dari Tuhan sekaligus menjadi berkat bagi sesama,” kunci putra terbaik Minahasa yang diketahui sangat berdedikasi dan loyalitas dalam kepemimpinannya mendampingi Gubernur Olly Dondokambey.
Turut hadir Ketua ODC Sulut, Ferry Wowor, Ketua K2SI Febe ‘Poppy’ Frida Enoch dan seluruh pengurus serta anggota K2SI.(srv)













