web analytics

BI Sulut Optimistis Inflasi Sulut 2019 Terkendali

BI Sulut Optimistis Inflasi Sulut 2019 Terkendali
Kepala Kantor Perwakilan BI Sulut Arbonas Hutabarat

Manado, SULUTREVIEW

Kendati posisi inflasi Sulawesi Utara (Sulut) yang diwakili Kota Manado, bertengger sebesar 3,63% (yoy), dengan rata-rata di atas nasional yang berada di level 3,39%.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulut optimis bahwa tingkat inflasi Sulut tahun 2019 akan dapat dikendalikan dalam rentang sasaran inflasi nasional 3,5±1% (yoy).

Pergerakan harga tomat sayur yang mengalami deflasi selama tiga bulan berturut-turut pada Februari-April 2019 kembali terjadi pada periode Juli-September 2019.

Mengambil pelajaran pada perkembangan harga pada bulan Mei dan Juni 2019, dapat dilihat adanya potensi pembalikan harga (price reversal) tomat sayur pada bulan Oktober-Desember 2019 yang merupakan periode permintaan yang tinggi terhadap tomat.

Potensi price reversal tersebut juga terlihat dari pantauan di lapangan yang menunjukan berkurangnya insentif petani untuk panen di tomat karena harga komoditas tersebut saat ini sudah mencapai titik terendahnya.

Mempertimbangkan potensi risiko tersebut, pergerakan harga tomat sayur harus tetap diwaspadai dan menjadi perhatian oleh seluruh instasi/lembaga/dinas terkait terutama memasuki periode permintaan tinggi di akhir tahun.

“Untuk mengantisipasi tekanan inflasi dari pergerakan harga tomat sayur tersebut, perlu dirumuskan langkah Iangkah dan strategi yang tepat, khususnya dalam menjaga ketersediaan stok dan kelancaran distribusi demi mendukung keterjangkauan harga di tengah potensi permintaan tinggi di triwulan IV 2019,” kata Kepala Perwakilan BI Sulut, Arbonas Hutabarat, Selasa (1/10/2019).

Menilik perkembangan inflasi hingga bulan September, BI Sulut, sambung Arbonas memperkirakan bahwa tekanan inflasi Sulut pada bulan Oktober 2019 akan berada pada level yang moderat dengan risiko potensi price reversal komoditas strategis bahan makanan Sulut.

“Risiko terbatasnya pasokan komoditas strategis di pasar diperkirakan meningkat seiring berkurangnya insentif bagi petani untuk panen akibat rendahnya harga. Selain itu, faktor kekeringan yang berlanjut di Sulut berpotensi mempengaruhi komoditas sub-kelompok bumbu-bumbuan,” ungkap Arbonas.

Namun demikian, normalisasi komoditas bumbu-bumbuan di luar pulau berpotensi mendorong penurunan harga melalui perdagangan antar daerah.

Sementara itu, gangguan cuaca dalam bentuk kekeringan di beberapa sentra produksi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi pada komoditas beras yang merupakan makanan pokok masyarakat Sulawesi Utara.

Oleh karena itu, Operasi Pasar Cadangan Beras Pemerintah (CBP) bersama Bulog dalam rangka Kegiatan Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga (KPSH) dapat dipertimbangkan untuk dilakukan agar tidak menimbulkan efek terhadap peningkatan harga komoditas komoditas turunan Iainnya di kemudian hari.

“Upaya pengendalian inflasi Sulut akan terus dilakukan oleh BI bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota se Sulut,” tukasnya.

Upaya pengendalian dilakukan dengan mengacu pada roadmap TPID Sulut yang sudah disahkan oleh Gubernur Sulut, selaku Ketua TPID Provinsi Sulut serta mengacu pada prinsip 4 K, yakni ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, komunikasi efektif, pengendalian harga melalui penguatan koordinasi dan upaya bersama lainnya dilakukan untuk, menjaga ketersediaan pasokan melalui pelaksanaan operasi pasar dan pasar murah khususnya komoditas strategis. Selanjutnya dengan menjaga keterjangkauan harga dan memastikan kelancaran distribusi melalui sidak pasar secara reguler serta pencanangan penanaman barito (bawang, rica dan tomat) yang bekerja sama dengan beberapa elemen masyarakat yang dimulai pada bulan Juli 2019 serta pengelolaan ekspektasi masyarakat dengan perluasan akses informasi harga dan pasokan di pasar.(srv)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply