MANADO, SULUTREVIEW.COM
Harga komoditas tomat yang sempat anjlok di bulan Juli 2019, ternyata memberikan kontribusi yang mampu menekan inflasi di Sulawesi Utara (Sulut) yang diwakili Kota Manado.
Dapat dikatakan kondisi ini pada akhirnya telah menempatkan Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) pada bulan Juli 2019 mencatatkan deflasi sebesar -1,21%(mtm). Itu artinya, komoditas tomat telah menyelamatkan inflasi yang pada bulan sebelumnya bertengger melampaui nasional.
Inflasi bulan Juli 2019 diketahui lebih rendah dibandingkan inflasi Nasional yang tercatat sebesar 0,31% (mtm).
Atau deflasi tersebut telah menyebabkan inflasi tahun kalender dan inflasi tahunan Sulut turun dari bulan sebelumnya menjadi 3,50% (ytd) dan 4,53% (yoy).
Penurunan tekanan inflasi bulan Juli 2019 juga terancam lebih dalam dan tahun sebelumnya sebesar 0.68% (mm) maupun rata-rata inflasi buIan Jun selama 5 tahun terakhir 2014 2018) yang sebesa 0,58% (mtm),”
kata Diungkapkan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulut, Arbonas Hutabarat, Jumat (2/8/2019).
Tekanan Inflasi pada bulan ini juga disebabkan oleh koreksi harga tomat yang tinggi pada bulan sebelumnya. Penyebab adalah pola musim.
“Akibatnya, inflasi di Kota Manado menjadi yang terdalam di antara 11 kota IHK (Indeks Harga Konsumen di Pulau Sulawesi dan menempati peringkat ke 81 dari 82 kota,” ujar Arbonas sambil menyebut secara tahun kalender inflasi Sulut masih tercatat lebih tinggi dari inflasi Nasional yang sebesar 2,36% (ytd) dan 3.32% (yoy). Bahkan masih berisiko mencapai batas atas rentang sasaran inflasi nasional yang ditetapkan sebesar 3,5 plus minus 1% (yoy).

Penyumbang deflasi Sulut pada Juli 2019 adalah kelompok bahan makanan yang mencatatkan deflasi sebesar 6.30% (mtm) dengan kontribusi defiasi pada bulan berjaIan sebesar 4,21% (mtm).
Komoditas makanan penyumbang deflasi adalah tomat sayur dengan kontribusi deflasi pada bulan berjalan sebesar 4,63% (mtm).
“Koreksi harga tomat sayur pada bulan Juli 2019 disebabkan oleh normalnya pasokan di pasar setelah pada bulan sebelumnya petani tidak panen tomat,” ujarnya.
Selain tomat sayur, komoditas strategis inflasi Sulut lainnya adalah Cabai Rawit dan Bawang Merah yang mencatatkan kontribusi deflasi sebesar 0,14% (mtm) dan 0.13% (mtm).
Untuk kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau, kelompok sandang dan kelompok kesehatan, juga menahan laju deflasi terjadi lebih dalam.
Meningkatnya harga komoditas mie dan nasi dengan lauk, juga menyebabkan kedua komoditas tersebut menyumbangkan andil Inflasi masing-masing sebesar 0,09% dan 0,12%.
Menariknya, hal itu dipicu oleh kegiatan ‘pesta iman’ Hari Pengucapan Syukur sehingga kedua bahan makanan itu harganya meningkat.
“Kami opitimistis tingkat inflasi Sulawesi Utara 2019 akan dapat dikendalikan dalam rentang sasaran inflasi nasional 3,5 plus minus 1% (yoy). Inflasi Sulut yang cukup tinggi pada bulan Mei dan Juni terutama disebabkan oleh kenaikan harga tomat sayur,” jealasnya.
Terhadap inflasi tahunan Sulut yang mencapai 4,53% (yoy) per bulan Juli, tomat sayur mencatatkan kontribusi sebesar 0,97% (yoy). Di mana dalam tujuh bulan terakhir tomat sayur juga menjadi penyumbang utama terhadap pergerakan inflasi.(srv)













