web analytics

Inflasi Bulan Mei Melambung, Tantangan TPID Sulut

Inflasi Bulan Mei Melambung, Tantangan TPID Sulut

Manado, SULUTREVIEW

Bulan Mei 2019 Sulawesi Utara (Sulut) yang diwakili Kota Manado, mencatat inflasi yang cukup tinggi sebesar 2.60% (mm) dan inflasi tahun kalender sebesar 1.14% (ytd) serta inflasi tahunan sebesar 2.11% (yoy).

lnflasi tersebut Iebih tinggi dibandingkan bulan April yang tercatat deflasi sebesar 1.27% (mtm)
maupun dari rata-rata inflasi bulan Mei dalam 5 tahun terakhir (2013-2018) yang tercatat sebesar 0,07% (mtm).

Inflasi Sulut Mei 2019 Iebih tinggi dari inflasi Nasional yang tercatat sebesar 0,68% (mtm).

Meski meningkat dengan tajam secara bulanan angka IHK Sulut relatif terkendali yang menyebabkan inflasi tahunan tercatat sebesar 2.11% (yoy) Iebih rendah dibandingkan inflasi tahunan di bulan Mei 2018 yang sebesar 3.97% (yoy).

Inflasi tahunan Sulut juga Iebih rendah dibandingkan inflasi tahunan nasional Mei 2019 yang tercatat sebesar 3,23% (yoy).

Secara umum, seluruh kota dari 11 kota IHK di Pulau Sulawasl tercatat mengalaml inflasi secara spasial. inflasi di kota Manado menjadi yang tertinggi di Pulau Sulawesi.

Menurut keterangan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara, Arbonas Hutabarat, ditinjau dari penyebabnya, inflasi Sulut pada bulan Mei 2019 terutama disebabkan oleh inflasi kelompok bahan Makanan sebesar 12.88% (mtm) dengan kontribusi inflasi pada bulan berjalan sebesar 2.98% (mtm).

Komoditas utama penyumbang inflasi yang menunjukan koreksi harga cukup tajam adalah tomat sayur dengan kontribusi inflasi pada bulan berjalan sebesar 2.130% (mtm).

“Berkurangnya insentif petani untuk memanen komodltas tomat sayur sebagai akibat deflasi yang terjadi di tiga bulan terakhir menyebabkan kelangkaan stok di tengah peningkatan permintaan dl bulan Ramadhan,” katanya Senin (10/6/2019).

Selain komoditas tomat sayur. kenaikan harga juga terjadi pada komoditas cabai rawit, pepaya, cakalang/sisik dan telur ayam ras yang juga berkontribusi memberi tekanan inflasi dengan kontribusi inflasi pada bulan berjalan masing-masing sebesar 0.385%, 0,079%, 0.078% dan 0.072% (mtm).

Di sisi Iain penurunan harga terjadl pada kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar serta kelompok transpor. Komunikasi &  jasa keuangan yang masing-masing tercatat deflasi sebesar 4,28% dan 0.42% mtm.

Penurunan harga bahan bakar rumah tangga menjadi kontributor deflasi terbesar pada Kelompok perumahan. air, listrik, gas dan bahan bakar dengan kontribusi deflasi sebesar 0,3674% (mtm).

Sementara itu. kebijakan pemerintah untuk menurunkan tarif batas atas angkutan udara dan penurunan harga tarif pulsa ponsel menyebabkan kelompok transpor. Komunikasn & Jasa Keuangan mengalaml deflasi.

“Melihat perkembangan inflasi Sulut sampai bulan Mei tersebut, maka Kantor Perwakilan Bank lndonesia Sulawesi Utara masih optimis memperklrakan laju Inflasi Sulawesi Utara pada tahun 2019 akan tetap berada pada rentang 3 plus minus 1% (yoy).

“Meskipun mengalami inflasi yang cukup tinggi di bulan Mei 2019, namun perlu diperhatikan bersama. bahwa komodltas tomat sayur dan cabai rawit mejadi penyebab utama inflasi di Bulan Mei 2019,” sebut Arbonas.

Oleh karena itu, bahan makanan seperti bawang, rica dan tomat (Barito) di Sulut tetap perlu menjadi prioritas dalam proses pengendalian inflasi Sulawesi Utara.

Ketiga komoditas tersebut menjadi penyebab utama tingginya tingkat volatilitas inflasi di Sulut.

“Bank Indonesia memperkirakan bahwa pada bulan Juni masih akan terdapat tekanan inflasi namun dengan tingkat yang lebih rendah. Meningkatnya permintaan di awal Bulan Juni seiring perayaan Hari Raya ldul Fitri menjadi salah satu sumber tekanan utama inflasi di bulan Juni 2019,” jelas Arbonas.

Memperhatikan tantangan tahun 2019, Bank Indonesia bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) selalu berupaya meningkatkan koordinasi erat dan mengambil upaya-upaya bersama yang diperlukan guna, menjaga ketersediaan pasokan melalui Pelaksanaan Operasi Pasar dan Pasar Murah khususnya komoditas strategis.

Tak kalah pentingnya adalah menjaga keterjangkauan harga dan memastikan kelancaran distribusi melalui Sidak Pasar secara Regular serta pencanganan penanaman cabai rawit yang bekerja sama dengan beberapa elemen masyarakat serta pengelolaan ekspektasi masyarakat dengan perluasan akses informasi harga dan pasokan di pasar.(eda)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply