Ekspektasi Gubernur Sulut, Kinerja Arbonas Lampaui Soekowardojo

Manado, SULUTREVIEW

Arbonas Hutabarat resmi menahkodai Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), menggantikan posisi  Soekowaedojo yang kini ditugaskan di Provinsi Jawa Tengah.

Pada prosesi pergantian yang dipimpin langsung oleh Deputi Gubernur BI Bidang IV Erwin Rijanto ini dilangsungkan di aula Tondano Kantor Perwakilan BI Sulut, Jumat (8/3/2019).

Gubernur Provinsi Sulut, Olly Dondokambey yang berkesempatan menghadiri sertijab mengatakan bahwa Soekowardojo selama memimpin BI Sulut telah banyak mengukir prestasi kinerja yang membanggakan.

“Pertumbuhan ekonomi kita naik di atas nasional. Mudah-mudahan Pak Arbonas Hutabarat bisa lebih kencang lagi dari Pak Soekowardojo,” ungkapnya.

Olly menyebutkan, sejauh ini ketika perekonomian di Sulut ada gangguan, Soekowardojo dengan cepat menempuh langkah koordinasi.

“Sedikit saja ketika ada gangguan langsung koordinasi. Ini sangat baik,” kata Olly sambil menyebut bahwa peran BI di Indonesia di Sulut sangat berdampak pada perekonomian.

“Peran BI sangat besar terhadap pertumbuhan ekonomi. Berbagai program dicanangkan, seperti penyediaan bibit kelapa, rica hingga tomat. Kegiatan-kegiatan ini mampu menjaga inflasi. Demikian juga hubungan dengan stakeholder, OJK dan perbankan.

Sejauh ini, kata Olly, stabilitas ekonomi di Sulut dapat berjalan dengan baik, tidak ada yang mengkhawatirkan. “Mudah-mudahan perekonomian yang ada di Provinsi Sulawesi Utara berjalan sesuai dengan apa yang kita cita-citakan,” ujarnya.

Selain itu, Olly juga menyampaikan besaran APBD Provinsi Sulut terbilang kecil di kisaran Rp4,2 triliun. Tetapi disuport APBN yang nilainya cukup signifikan sehingga Sulut dapat membangun seperti sekarang ini.

“Dana yang masuk ke Sulut sangat besar. Untuk itu kami sangat berterima kasih kepada presiden yang sudah membantu anggaran untuk pembangunan Sulut,” tukasnya.

Sementara itu, Deputi Gubernur BI Bidang IV Erwin Rijanto menjelaskan serah terima jabatan merupakan dinamika dalam sebuah organisasi.

Lebih jauh, Rijanto mengungkapkan
kinerja dan prospek ekonomi di Sulut cukup baik, stabilitas terjaga sehingga momentum pertumbuhan berlanjut bahkan dapat meningkat di 2019.

“Inflasi yang rendah diharapkan akan tetap terkendali sesuai sasaran 3,5%. Di sisi lain, pembangunan infrastruktur telah membuka lapangan pekerjaan. Sektor konstruksi sebagai faktor penyumbang pertumbuhan ekonomi, turut membuat kualitas pertumbuhan ekonomi selalu setara, malah cenderung meningkat. Angka kemiskinan dan rasio gini berada di bawah nasional, namun indeks pembangunan manusia berada di atas nasional,” tandasnya.

Lebih jauh, Rijanto memberikan apresiasi atas kinerja Pemprov Sulut, di bawah kepemimpinan Olly Dondokambey dan Steven Kandouw.

“Beberapa pencapaian Provinsi Sulawesi Utara juga menunjukkan prestasi yang menggembirakan, antara lain program ODSK (Operasi Daerah Selesaikan Kemiskinan) yang dicanangkan Gubernur Sulawesi Utara menunjukkan hasil yang optimal. Melalui program ODSK, angka kemiskinan pada tahun 2018 turun menjadi 7,59% demikian halnya dengan tingkat pengangguran 2019 mencapai 6,86% turun dari 2017 sebesar 7,9%,” bebernya.

Menaruknya, Rijanto juga sangat bangga dengan meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan mancanegara.

“Kunjungan wisatawan yang tumbuh rata-rata 96% year-on-year secara berturut-turut 3 tahun terakhir ini. Berikut TPID di Sulawesi Utara yang memperoleh penghargaan sebagai TPIS terbaik se-Sulawesi pada tahun 2018, di mana Kota Bitung meraih penghargaan sebagai TPID berprestasi di tahun 2017 agar dapat dipertahankan,” tandasnya.

Provinsi Sulut yang dijadikan sebagai cluster kelapa nasional berkat potensi kekayaan dan sumber daya alam dan pengelolaan yang baik, sambung Rijanto telah mendorong tingkat inflasi sulut di 2018 tercatat 3,83% inflasi disumbang oleh komponen transportasi udara dan bahan makanan

“Meskipun menunjukkan perbaikan yang signifikan pergerakan tingkat inflasi ke depan masih harus diwaspadai. Risiko tekanan inflasi inti pada tahun 2019, seperti barang konsumsi menjelang hari raya keagamaan maupun penyesuaian harga oleh pemerintah,” kata Rijanto.

Sejauh ini, sambung Rijanto, tekanan inflasi dikontribusikan oleh volatile food yang diperkirakan sejalan dengan pola upaya pengendalian inflasi yang dilakukan Bank Indonesia bersama TPID melalui berbagai upaya serta koordinasi antar institusi.

Terkait dengan tatanan tahun ini yang relatif semakin kompleks Bank Indonesia bersama TPID akan terus berupaya untuk memelihara ketersediaan pasar. Menjaga keterjangkauan harga dan kelancaran distribusi melalui operasi pasar serta pengelolaan ekspektasi. Selain itu Bank Indonesia memiliki program unggulan dalam pengendalian inflasi mengembangkan cluster ketahanan pangan yaitu cluster bawang merah tomat sayur di Minahasa cluster cabe di Kepulauan Sangihe, Sitaro dan Minahasa serta cluster pertanian terpadu.
Arbonas sendiri mengatakan akan siap berkoordinasi dengan pemerintah serta instansi terkait.

“Saya akan melanjutkan apa yang sudah diletakkan oleh Pak Soekowaedojo. Di samping itu akan terus meningkatkan koordinasi,” ucapnya.(eda)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *