web analytics

Sektor Pertanian Melemah, Pertumbuhan Ekonomi 2018 Melambat

Sektor Pertanian Melemah, Pertumbuhan Ekonomi 2018 Melambat

Manado, SULUTREVIEW

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi tahun 2018 sebesar 6,01% (yoy). Angka ini menunjukkan pelambatan dibandingkan pertumbuhan ekonomi tahun 2017 yang mencapai 6,31% (yoy) (sumber BPS).

Dari sisi lapangan usaha, melambatnya kinerja tiga sektor lapangan usaha utama yaitu pertanian, diikuti industri dan konstruksi sehingga berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi Sulut secara keseluruhan. Sebaliknya, penguatan pertumbuhan dua lapangan usaha perdagangan dan transportasi menjadi penahan perlambatan lebih dalam pertumbuhan ekonomi Sulut.

Lapangan usaha pertanian Sulut, sejauh ini, ditopang tiga sub sektor lapangan usaha utama, yaitu  tanaman pangan, perkebunan tahunan dan perikanan. Di mana perlambatan terjadi pada sub lapangan usaha tanaman pangan (komoditas utama: beras/padi) dan sub lapangan usaha perkebunan (komoditas utama: kelapa, cengkih, dan pala), sementara sub lapangan usaha perikanan cenderung stabil, namun secara keseluruhan pertumbuhan lapangan usaha pertanian melambat.

Pelambatan sektor pertanian terutama disebabkan oleh kegagalan panen tanaman pangan di triwulan II, sehingga produksi tanaman pangan tahun 2018 melambat dibandingkan tahun 2017. Sementara itu, harga coconut oil (CNO) yang terkontraksi menyebabkan penurunan harga kopra di tingkat petani sehingga mengurangi insentif petani untuk berproduksi lebih banyak di tahun 2018.

Menurut Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulut, Soekowardojo,  selain sektor pertanian, pelambatan juga terjadi di lapangan usaha industri yang didominasi oleh industri pengolahan makanan dan minuman (produk olahan kelapa dan olahan ikan) dengan pangsa 84% dari total output sektor industri pengolahan.

“Produksi olahan kelapa dan olahan ikan tersebut sangat dipengaruhi oleh pergerakan harga dunia komoditas tersebut, di mana sepanjang 2018, harga rata-rata komoditas CNO terkontraksi sebesar 37,63% (yoy) yang berimplikasi pada berkurangnya insentif bagi industri untuk meningkatkan produksi. Perlambatan pertumbuhan produksi ini tercermin dari nilai ekspor minyak nabati & hewani tahun 2018 yang terkontraksi sebesar 16,23%(voy), turun secara signifikan dibanding 2017 yang tumbuh sebesar 2,72% (yoy),” kata Soekowardojo Kamis (6/2/2019).

Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Sulut, Soekowardojo.

Sementara itu, lapangan usaha konstruksi tercatat tumbuh 7,16% (yoy) melambat dibandingkan tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 7,41%(yoy). Realisasi belanja modal pemerintah yang belum optimal di Semester l 2018 ditengarai menjadi faktor penyebab melambatnya pertumbuhan konstruksi di tahun 2018. Namun, percepatan realisasi anggaran belanja modal dan percepatan pembangunan proyek strategis nasional di Semester II 2018 menjaga pertumbuhan konstruksi Sulawesi Utara tetap diatas 7%.

Adapun kinerja lapangan usaha perdagangan dan transportasi tumbuh menguat. Penguatan kinerja sektor perdagangan tercermin dari rata-rata indeks Tendensi Konsumen BPS yang pada tahun 2018 sebesar 107,74 lebih tinggi dibandingkan tahun 2017 sebesar 103,38. Peningkatan lapangan usaha perdagangan khususnya didukung oleh pariwisata melalui kedatangan wisatawan manacanegara (wisman) ke Sulawesi Utara yang pada 2018 masih tercatat tumbuh tinggi di angka 53,9796 (yoy).

“Peningkatan kinerja sektor transportasi terjadi di dua sub lapangan utama yakni transportasi darat dan transportasi udara. Kinerja transportasi darat yang menguat tercermin dari peningkatan kuantitas transportasi online yang saat ini sudah ada di lebih dari 5 kota di Provinsi Sulawesi Utara. Sedangkan, penguatan sub lapangan usaha transportasi udara terutama didukung oleh adanya penerbangan Iangsung Manado-Tiongkok,” jelas Soekowardojo.

Dari sisi pengeluaran, melambatnya perekonomian Sulut disebabkan oleh melambatnya kinerja komponen konsumsi rumah tangga dan investasi, sedangkan komponen konsumsi pemerintah dan kinerja ekspor tumbuh menguat dibandingkan tahun sebelumnya.

Pelambatan di lapangan usaha utama (pertanian dan industri pengolahan) selanjutnya juga menyebabkan perlamhatan daya beli masyarakat. Penurunan harga CNO yang ditransmisikan pada penurunan harga kopra serta penurunan harga komoditas perkebunan lainnya (cengkeh, pala, dan lainnya) juga menyebabkan perlamhatan pendapatan masyarakat di lapangan usaha pertanian dan industri.

“Pelambatan pertumbuhan daya beli masyarakat di sektor tersebut (33,7% dari total tenaga kerja) menyebabkan konsumsi rumah tangga Sulut pada tahun 2018 secara keseluruhan juga mengalami perlambatan. Di sisi Investasi, pelambatan realisasi belanja modal pemerintah dan tendensi sektor swasta untuk merealisasikan investasi menyebabkan perlamhatan investasi secara umum di tahun 2018,” tukasnya.(eda)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply