Harga Komoditas Terkoreksi, Manado Alami Deflasi 0,68%

Manado, SULUTREVIEW

Laju inflasi Sulawesi Utara (Sulut) yang tercatat pada Juli 2018, mengalami penurunan atau deflasi sebesar 0.68% month to month (mm) atau berdasar tahun kalender sebesar 2.80% year todate (ytd) dan tahunan sebesar 1,88% year on year (yoy).

Tekanan inflasi Sulut ini turun apabila dibandingkan dengan inflasi Sulut bulan sebelumnya sebesar (0.65% mm) atau berada di bawah rata rata inflasi Sulut bulan yang sama di Iima tahun terakhir (1.32%, mm). Bahkan inflasi Sulut pada bulan Juli 2018 relatif rendah dibandingkan nasional yaitu sebesar 3,18% (yoy).

Menariknya, secara spasial, Kota Manado adalah satu-satunya kota yang mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) yang mengalami deflasi dari 11 kota IHK di Sulawesi.

“Inflasi Sulut secara bulanan Iebih rendah dari nasional, namun inflasi tahun kalender Sulut masih Iebih tinggi dibadingkan nasional (2,18% ytd) dan  berdasarkan komponen deflasi Sulut didorong oleh deflasi pada kelompok komoditas Volatile Food (VF), sementara kelompok Administered Prices (AP) dan inti (Core) masih mengalami tekanan inflasi,” ungkap Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulut, Soekowardojo dalam siaran pers, Rabu (1/7/2018).

Deflasi pada bulan Juli 2018, kata Soekowardojo,  lebih dipengaruhi oleh deflasi kelompok bahan makan bergejolak atau VF sebesar 4.81% (mm). Deflasi kelompok VF terutama disebabkan oleh tomat sayur,
bawang merah dan bawang putih yang masing masing memiliki andil deflasi sebesar 1,21% (smtm*), 0,13% (smtm*) dan 0,01% (smtm*).

“Deflasi komoditas tersebut disebabkan oleh koreksi harga setelah berakhirnya periode lonjakan permintaan khususnya di bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Namun demikian, cabai rawit dan daun bawang masih menjadi sumber tekanan inflasi kelompok VF,” jelasnya.

Sementara itu kelompok Administered Price(AP) masih mencatat inflasi sebesar 0.78% (mm), inflasi kelompok AP terutama disumbang oleh tarif jasa angkutan udara yang memiliki andil inflasi sebesar 0.09% (smtm*), menurun jika dibandingkan infiasi bulan sebelumnya yang sebesar 0,26% sumbangan mtm (smtm*).

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulut, Soekowardojo.

Peningkatan inflasi jasa angkutan udara didorong oleh meningkatnya permintaan penerbangan seiring penyelengaraan MICE (meetings. incentive, convention and exhibition) dan masa Iiburan. Selain itu, komoditas penyumbang inflasi AP terutama berasal dari rokok kretek filter dan rokok putih.

Kelompok core juga tercatat masih mengalaml inflasi sebesar 0,33% (mtm). Peningkatan tekanan inflasi pada kelompok core didorong oleh tarif pulsa (0,10%,smtm*), air kemasan (0.03%, smtm*) dan pasta gigi (0,02%.smtm*).

“Sepanjang tahun 2018 Bank Indonesia Provinsi Sulut memperkirakan inflasi akan berada pada rentang 3,5:196 (yoy). Sejauh ini pengendalian harga di tahun 2018 didukung oleh ketersediaan bahan pokok strategis yang memadai, serta upaya dan koordinasi pemerintah daerah dan Bank Indonesia melalui wadah Tim Pengendalian lnflasi Daerah (TPID) untuk terus memperkuat upaya pengendalian infrasi,” sebutnya.

Mencermati perkembangan inflasi sampai dengan paruh pertama tahun 2018, TPID akan memantau secara intensif dan mengambil tindakan antisipatif dalam pengendalian harga, terutama komoditas pada komponen VF dan AP.

“Pada bulan Juli 2018, telah dilakukan gerakan ‘barito’ berupa penyerahan bantuan 20 ribu bibit barito (bawang, rica dan tomat) kepada Tim Penggerak PKK Provinsi Sulut sehingga diharapkan dapat mendorong awareness ibu-ibu rumah tangga untuk menanam barito di pekarangan rumah masing-masing,” tukasnya.

Selain itu, pada bulan Juli juga sudah diadakan rapat koordinasi nasional pengendalian inflasi di Jakarta yang dipimpin langsung oleh Presiden RI, Joko Widodo. Hal itu sebagai bentuk apresiasi keberhasilan pengendalian inflasi Sutut, TPID Sulut ditetapkan sebagai TPID terbaik propinsi se Sulawesi. Untuk tingkat kabupaten/kota non pencatatan inflasi, Kota Bitung terpilih sebagai TPID berprestasi tingkat nasional.

“Ke depan, masih terdapat sejumlah risiko tekanan infiasi khususnya dari komponen VF (terutama komoditas bawang. rica, dan tomat sayur). Beberapa event budaya dan pariwisata seperti acara pengucapan, event internasional (TIFF) dan HUT Rl ke 73 akan mendorong peningkatan permintaan.

Untuk itu, TPlD akan memastikan keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi serta komunikasi yang efektif (4K) sehingga kestabilan harga dapat terjaga.(hilda)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *