Manado, SULUTREVIEW
Kelangsungan atau kontinuitas pengembangan pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Sulawesi Utara (Sulut) sangat berharap mendapat support pinjaman dana perbankan. Hal ini sah-sah saja sepanjang kelayakan usaha yang dijalankan adalah jelas.
Dikatakan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulut, Soekowardojo kegiatan usaha yang dijalankan itu ada.
“Banyak kredit perbankan yang ditawarkan tanpa agunan. Tetapi untuk memberikan kredit harus ada yang dapat dilihat. Terutama adalah kelayakan usaha. Ini adalah agunan yang paling utama,” ungkap Soekowaedojo di hadapan para pelaku usaha yang hadir pada peringatan Hari UMKM Internasional di Manado Town Square (Mantos), Rabu (27/6/2018).
Menurut Soekowardojo sebelum memberikan kredit bank harus melihat kegiatan usaha yang dijalankan.
“Bank akan berpikir dua kali sebelum memberikan pinjaman kredit. Yakni harus ada kegiatan usaha, meski dalam hal ini ada jaminan rumah. Karena pemberian kredit itu sebagai upaya pengembangan usaha,” jelas Soekowardojo.

Selain itu, karakter usaha yang dapat dipercaya juga bagian yang tak dapat diabaikan ketika mengajukan pinjaman. Berikut kejujuran dan kepastian usaha.
“Dunia perdagangan harus jujur. Itu kunci pengembangan usaha,” tandasnya sambil menyebutkan bahwa dari sisi bisnis oriented, mengenai UMKM masih banyak yang belum memiliki standar layak.
“Kualitas sering tidak memenuhi standar, sehingga pasar mengalami kesulitan. Berubah-ubah, nah hal itulah yang menyebabkab UMKM tidak ada standarisasi dan tepat waktu. Hal tersebut merupakan kendala yang berpengaruh pada kontinuitas,” ujar Soekowardojo.
Sementara itu, Direktur Utama Bank SulutGo, Jeffry AM Dendeng dalam kesempatan yang sama menyampaikan manajemen Bank SulutGo akan memberikan layanan dan edukasi bahkan pendampingan pelaku usaha yang berupaya mengembangkan usahanya.
“Usaha yang butuh modal harus memenuhi persyaratan baru diberikan modal. Makanya UMKM yang minta modal harus memenuhi syarat tersebut. Untuk itu kami berinisiatif memberikan training pada UMKM bahkan pendampingan, sehingga pinjaman yang diperoleh dapat bermanfaat bagi usahanya,” sambung Dendeng.
Pelaku usaha, sebut Dendeng jangan sampai berpikir bahwa ketika produknya laku di pasaran lantas semuanya itu menjadi miliknya.
“Harus punya mindset bahwa sebagian dari hasil penjualan itu disetor untuk membayar pinjaman.
Hal itu perlu pendampingan sehingga pelaku UMKM peduli untuk mengembangkan usahanya,” jelas Dendeng.
“Bank SulutGo akan memberikan training dan pendampingan. Bahkan kita juga memberikan bantuan melalui Corporate Social Responsibility bagaimana meningkatkan packaging atau kemasan yang lebih baik,” kata Dendeng.
Ke depan, usai peringatan Hari UMKM Internasional, berkomitmen untuk memajukan dan mengembangkan UMKM di Sulut.

Di sisi lain, Kepala Dinas Koperasi dan UKM di Sulut, Happy Korah menyebutkan agar pelaku UMKM dapat melihat peluang yang ada. Terutama dengan derasnya kunjungan turis atau wisatawan Cina akhir-akhir ini.
“Kita jangan tinggal diam melihat kunjungan turis yang banyak. Pemerintah tidak bisa kerja sendiri. Pelaku usaha harus jeli mengangkat peluang yang ada. Manfaatkan jangan diam. Pemerintah akan berupaya bantu,” tukasnya.
Turut hadir sebagai pembicara dalam talk show ini, Rudini Wijaya anak dari owner Mantos, pengelola Fresh Mart dan akademisi James Massie.(hilda)













