Konsumsi Belanja Pemerintah Turun, Picu Perlambatan Ekonomi Triwulan II 2017

0
306

Manado, SULUTREVIEW -Konsumsi pemerintah mengalami penurunan seiring dengan rendahnya realisasi belanja pemerintah non modal pada triwulan II 2017 dibandingkan periode yang sama tahun 2016 serta pembayaran gaji ke-13 yang bergeser ke bulan Juli (triwulan III).

Hal tersebut berdampak pada Pertumbuhan Ekonomi (PE) Sulut pada triwulan II yang tumbuh melambat. Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulut pada triwulan II 2017 tercatat sebesar 5,80% (yoy), melambat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 6,43% (yoy).

Pertumbuhan tersebut juga lebih rendah bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2016 yang sebesar 6,15% (yoy). Meskipun melambat, namun pertumbuhan ekonomi Sulut tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan ekonomi
nasional yang tumbuh sebesar 5,01% (yoy) pada triwulan II 2017.

Dikatakan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulut, Soekowardojo, realisasi pertumbuhan ekonomi triwulan II tersebut berada di luar perkiraan sebelumnya. Menyusul kontraksi ekspor sejalan dengan melambatnya harga komoditas dunia dan konsumsi pemerintah yang juga diluar perkiraan sejalan dengan upaya meningkatkan efisiensi dan perbaikan alokasi penggunaan anggaran pemerintah.

“Perlambatan ekonomi pada triwulan II 2017 disebabkan oleh terkontraksinya konsumsi pemerintah dan kinerja ekspor,” tutur Soekowardojo.

Sementara itu, penurunan kinerja ekspor terutama dipengaruhi oleh menurunnya harga Coconut Oil (CCO) yang merupakan komoditas utama ekspor Sulut, dari USD1.701/MT di triwulan I menjadi USD1.627/MT di triwulan II 2017.

“Namun demikian, masih kuatnya pertumbuhan investasi (PMTB) dan peningkatan konsumsi rumah tangga mampu menahan perlambatan ekonomi lebih dalam. Investasi di sisi pemerintah meningkat seiring dengan berlanjutnya pembangunan infrastruktur, sementara investasi di sisi swasta terjadi di berbagai sektor. Investasi juga ditopang oleh pelonggaran aturan Loan To Value (LTV)  pembelian rumah yang tercermin dari peningkatan kredit pembelian rumah (KPR) pada triwulan II 2017 khususnya rumah dan apartemen di bawah 70 m2 serta ruko dan rukan,” jelasnya sambil menambahkan peningkatan investasi terkonfirmasi dari pengadaan semen di Sulut yang mengalami perbaikan.

Sementara itu, konsumsi rumah tangga tumbuh meningkat sejalan dengan kondisi ekonomi masyarakat yang membaik sebagaimana hasil Survei Konsumen yang dilakukan oleh Bank Indonesia.

Kepala Kantor Perwakilan BI Sulut Soekowardojo.

Meskipun rata-rata Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) pada triwulan II 2017 lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya, namun secara tahunan IKE mengalami perbaikan.

“Fenomena tersebut juga serupa dengan yang terjadi di daerah pedesaan sebagaimana ditunjukkan oleh
perkembangan angka Nilai Tukar Petani. Meskipun tren penurunan NTP masih berlanjut, namun secara tahunan perkembangan NTP pada triwulan II lebih baik dibandingkan triwulan I 2017.  Peningkatan konsumsi rumah tangga dalam hal ini khususnya merupakan konsumsi retail baik makanan maupun non makanan dalam rangka perayaan hari raya Idul Fitri,” ungkapnya.

Ditambahkan Soekowardojo, berdasarkan sisi sektoral, perlambatan ekonomi pada triwulan II 2017 didorong oleh melambatnya pertumbuhan sektor perdagangan dan transportasi.

“Perlambatan sektor perdagangan disebabkan oleh penurunan penjualan kendaraan bermotor, di tengah penjualan retail yang justru tumbuh kuat. Demikian halnya dengan sektor transportasi yang tumbuh melambat dipengaruhi oleh perlambatan kinerja ekspor yang menyebabkan transportasi laut menurun sehingga berdampak pada sektor transportasi secara keseluruhan,” tukasnya.

Di sisi lain, sektor industri masih tumbuh signifikan, sektor konstruksi yang meningkat, dan sektor pertanian yang masih kuat meskipun sedikit melambat juga
berperan dalam menopang pertumbuhan ekonomi. Industri pengolahan Sulut meningkat tinggi seiring dengan membaiknya pasokan bahan baku perkebunan dan perikanan pasca “relaksasi” aturan transhipment.

Sektor konstruksi meningkat seiring dengan peningkatan investasi bangunan oleh swasta dan pemerintah. Sementara itu, sektor pertanian masih tumbuh kuat namun terpengaruh dengan pergeseran masa panen tanaman pangan (beras) ke triwulan I 2017 yang biasanya terjadi di triwulan II.(hilda)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here