Sambut Investor di NSIF 2026, RIRU Sulut Matangkan Proyek Investasi Berkelanjutan

Manado, Sulutreview.com — Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) bersama Pemerintah Provinsi Sulut terus mematangkan kesiapan sejumlah proyek investasi potensial daerah guna menarik minat para investor domestik maupun asing.

Langkah ini bermaksud menjadikan sektor investasi sebagai penopang utama percepatan dan pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan.

​Kepala Perwakilan (KPw) BI Sulut, Joko Supratikto, menyatakan bahwa tantangan utama pengembangan daerah saat ini bukan lagi sekadar mengidentifikasi potensi yang ada, melainkan mentransformasi potensi tersebut menjadi proyek yang siap ditawarkan (Investment Project Ready to Offer atau IPRO) hingga benar-benar terealisasi.

​”Tantangan utama kita saat ini bukan lagi sekadar mengidentifikasi potensi daerah, melainkan bagaimana mentransformasi potensi tersebut menjadi proyek yang siap ditawarkan (clean and clear) hingga benar-benar terealisasi secara konkret,” ujar Joko Supratikto.

​Pernyataan tersebut disampaikan Joko dalam gelaran North Sulawesi Investment Forum (NSIF) 2026 yang mengusung tema penguatan nilai tambah melalui hilirisasi dan investasi hijau. Forum strategis ini mempertemukan jajaran pemerintah daerah, pelaku usaha, serta pemangku kepentingan untuk membuka ruang kemitraan konkret.

​”NSIF 2026 menjadi wadah strategis untuk mempertemukan pemangku kepentingan dan pelaku usaha dalam membuka ruang kemitraan nyata, khususnya pada sektor-sektor yang berfokus pada nilai tambah dan prinsip keberlanjutan,” tambahnya.

​Kondisi perekonomian Sulut sendiri menunjukkan tren positif. Pada Triwulan II 2026, ekonomi daerah ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,42 persen secara tahunan (year on year), melampaui capaian pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,29 persen.

Penguatan ekonomi daerah didorong oleh pertumbuhan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang mencapai 7,12 persen serta laju sektor konstruksi sebesar 7,63 persen.

​Guna mengatasi tantangan pemusatan investasi pada wilayah dan sektor tertentu, BI dan Pemprov Sulut melalui wadah Regional Investor Relation Unit (RIRU) aktif melakukan pendampingan komprehensif.

Proses pendampingan tidak sekadar mendata proyek, namun mencakup kurasi ketat, peningkatan kapasitas pengelola proyek, penilaian substansi, hingga penyempurnaan dokumen proposal agar memenuhi kualifikasi standar investor internasional.

​Pada tahun 2026, RIRU mendampingi sebanyak 17 proyek potensial di berbagai kabupaten dan kota. Dari jumlah tersebut, tiga proyek utama dipromosikan secara khusus dalam NSIF 2026.

Sektor-sektor yang ditawarkan pun semakin beragam, meliputi perikanan terpadu di Kepulauan Sangihe, pariwisata Danau Linow di Tomohon, wisata Pulau Likri di Minahasa, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Likupang di Minahasa Utara, hingga pengembangan layanan kesehatan hemodialisis di Kotamobagu.

​Selain menyiapkan proyek baru, pendampingan investment aftercare juga dijalankan terhadap sembilan proyek yang tengah berjalan melalui identifikasi skema pembiayaan serta fasilitasi pertemuan bisnis.

​”Melalui skema pendampingan hingga layanan aftercare ini, kami berharap dapat tercipta kerja sama konkret yang tidak hanya menarik modal, tetapi juga memberikan nilai tambah nyata bagi kesejahteraan masyarakat Sulawesi Utara,” tutup Joko.(hilda)

​

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *