Pikat Delegasi Uni Eropa, Gubernur Yulius Pamerkan Ekspor Tuna 140 Juta USD Hasil Tangkapan Tradisional

Gubernur Yulius Selvanus saat menjamu delegasi Eropa. Foto:ist

Manado, Sulutreview.com – Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) memamerkan ketangguhan sektor perikanan berkelanjutannya di hadapan para diplomat dan lembaga pendanaan internasional.

Dalam jamuan makan malam bersama Delegasi Uni Eropa (UE), Gubernur Sulawesi Utara menyoroti capaian ekspor perikanan daerah yang menembus angka 140 juta USD pada tahun 2025.

​Capaian fantastis tersebut menarik perhatian karena mayoritas komoditas tangkapan utama—seperti tuna, cakalang, dan tongkol (skipjack) yang dihasilkan melalui metode tangkap tradisional yang ramah lingkungan oleh nelayan lokal.

​”Kami bangga karena nelayan kami mayoritas menggunakan alat tangkap tradisional seperti HUTATE (hand line, pull and line, long line). Metode ini menghasilkan tangkapan berkualitas tinggi sekaligus menjaga ekologi laut tetap seimbang,” ujar Gubernur di Wisma Negara Bumi Beringin, Manado, Jumat (17/7/2026) malam.

​Acara makan malam tersebut dihadiri langsung oleh Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia H.E. Denis Chaibi, bersama enam Duta Besar negara anggota UE (Belgia, Denmark, Lithuania, Republik Czech, Irlandia, Austria), perwakilan kedutaan Finlandia dan Portugal, serta Pimpinan KfW Development Bank dan WCS Indonesia Program.

​Gubernur menjelaskan, komitmen menjaga keseimbangan antara ekologi dan ekonomi ini berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat. Selain nilai ekspor yang tinggi, tingkat kesejahteraan nelayan di Bumi Nyiur Melambai juga tercatat sangat baik, dengan Nilai Tukar Nelayan (NTN) bertengger di angka 112 pada tahun 2025.

​Bagi Sulut, laut yang mencakup 73 persen dari total wilayahnya bukanlah pemisah, melainkan urat nadi kehidupan dan masa depan. Oleh karena itu, visi pembangunan daerah kini diselaraskan dengan kebijakan Ekonomi Biru nasional melalui penetapan Kawasan Konservasi Perairan seluas 239.373,79 hektar demi menjaga kelestarian terumbu karang.

​Dampak Nyata Kolaborasi Internasional
​Lebih lanjut, Gubernur menekankan bahwa keberhasilan Sulut dalam mengelola sektor maritim tidak lepas dari dukungan internasional. Kemitraan strategis antara Kementerian Kehutanan RI, Pemerintah Daerah, dan WCS, melalui dukungan pendanaan dari Uni Eropa dan KfW yang terjalin sejak 2020, telah membuahkan hasil konkret di lapangan.

​”Program ini terbukti nyata dampaknya. Kita berhasil memberdayakan 29 desa dan melatih 37 kelompok masyarakat pesisir untuk mengembangkan mata pencaharian yang berkelanjutan,” ungkapnya.

​Salah satu bukti kesuksesannya adalah Desa Budo, yang berhasil berkembang menjadi salah satu desa wisata terbaik di tingkat nasional berkat penguatan sektor ekowisata lokal. Ditambah lagi, posisi tawar Sulut di mata global kian kuat dengan adanya Sekretariat Regional Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries, and Food Security (CTI-CFF) di Manado sebagai pusat perlindungan terumbu karang regional.

​Di akhir sambutannya, Gubernur menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Delegasi Uni Eropa, KfW, Pemerintah Pusat, dan WCS-IP atas dedikasi yang diberikan. Kunjungan kerja ini diharapkan dapat memperluas peluang kerja sama baru di masa depan.

​”Semoga kerja sama yang telah terjalin erat ini dapat terus berjalan secara berkesinambungan demi menjaga ketahanan ekosistem laut kita, memitigasi dampak perubahan iklim global, serta mewujudkan kesejahteraan yang inklusif bagi seluruh masyarakat pesisir di Sulawesi Utara,” pungkasnya.(hilda)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *