Manfaatkan Eco enzyme, Kiprah Ibu-Ibu PIKK PLN UP3 Kotamobagu Menjaga Bumi

Kotamobagu, Sulutreview.com – Langkah pelestarian lingkungan ternyata tidak selalu harus dimulai dari proyek besar bernilai miliaran rupiah. Di Kotamobagu, Sulawesi Utara, aksi nyata menjaga bumi justru digerakkan dari sudut paling domestik di dalam rumah atau dapur.

​Aksi ini dimotori oleh Persatuan Istri Karyawan dan Karyawati (PIKK) PLN UP3 Kotamobagu. Lewat jemari terampil para anggotanya, limbah organik rumah tangga yang biasanya berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) dan memicu bau tak sedap, kini disulap menjadi cairan serbaguna kaya manfaat bernama eco enzyme.

​Suasana Aula Bogani PLN UP3 Kotamobagu mendadak riuh. Aroma segar khas fermentasi buah menguar, menggantikan kesan kaku kantor korporat. Puluhan ibu sibuk memilah kulit buah dan sisa sayuran, menimbangnya dengan teliti, lalu mencampurnya dengan air dan molase di dalam wadah-wadah plastik.

​”Eco enzyme bukan sekadar hasil fermentasi limbah organik, tetapi sebuah gerakan lingkungan yang bisa dilakukan siapa saja. Dengan memanfaatkan limbah rumah tangga, kita turut berkontribusi mengurangi sampah dan menciptakan gaya hidup yang lebih berkelanjutan,” ujar Martika Sandra Raupu, S.K.M., seorang pegiat eco enzyme sekaligus wellnesspreneur yang memandu workshop tersebut.

​Di tangan para ibu ini, sampah kulit jeruk, nanas, hingga apel tidak lagi menjadi beban bagi bumi. Melalui proses fermentasi selama beberapa bulan, cairan yang dihasilkan nantinya bisa digunakan sebagai pembersih lantai alami, pupuk organik cair, hingga cairan pembersih udara.

​Tidak hanya berhenti pada limbah dapur, gerakan peduli lingkungan ini juga menyasar pada tumpukan barang bekas yang kerap memenuhi gudang rumah. Melalui lomba video kreativitas daur ulang, para anggota PIKK PLN Kotamobagu ditantang untuk menerapkan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R).

​Hasilnya pun luar biasa. Barang-barang yang awalnya dianggap “sampah” bertransformasi menjadi produk baru yang memiliki nilai estetika, guna, bahkan nilai ekonomi. Lewat lensa kamera, mereka membagikan proses kreatif mengubah botol plastik, kardus, hingga kain perca menjadi dekorasi rumah yang cantik dan fungsional.

​Ketua PIKK PLN UP3 Kotamobagu, Arlin Rau Reki Wowiling, mengungkapkan bahwa esensi dari kegiatan ini adalah menyalakan lilin kesadaran dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga.

​”Kami ingin mengajak seluruh anggota PIKK untuk memulai gerakan peduli lingkungan dari rumah masing-masing. Melalui pemanfaatan limbah organik menjadi eco enzyme dan kreativitas mendaur ulang barang bekas, kita dapat memberikan kontribusi nyata dalam mengurangi sampah,” tutur Arlin penuh harap.

​​Gerakan akar rumput yang diinisiasi oleh ibu-ibu PIKK ini rupanya mendapat atensi khusus dari manajemen pusat. General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sulawesi Utara, Tengah, dan Gorontalo (Suluttenggo), Usman Bangun, menyebut langkah kecil ini sebagai pengejawantahan nyata dari prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang dianut perusahaan.

​Menurut Usman, tanggung jawab PLN hari ini tidak lagi sekadar memastikan aliran listrik menyala terang di rumah-rumah warga, tetapi juga memastikan masa depan bumi tetap hijau dan berkelanjutan.

​”Langkah kecil yang dimulai oleh ibu-ibu PIKK dari dapur rumah tangga ini, jika dilakukan secara konsisten, akan memberikan dampak besar bagi kelestarian lingkungan sekitar. Kami berharap program seperti ini terus menginspirasi dan dapat direplikasi di unit-unit kerja lainnya,” ucap Usman.

​Melalui edukasi berbasis praktik langsung ini, PIKK PLN UP3 Kotamobagu sedang mengirimkan pesan kuat kepada masyarakat luas, bahwa merawat bumi tidak perlu menunggu nanti, dan bisa dimulai dari apa yang dibuang hari ini.(hilda)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *