Diijinkan Yang Maha Kuasa, 3 Maret 2026 Klenteng Seng Bo Kiong Bitung Gelar Cap Go Meh

Bitung, Sulutreview.com– Kabar Baik bagi masyarakat Kota Bitung. Dimana pada tanggal 3 Maret tahun 2026 mendatang warga Kota Bitung akan diramaikan dengan Goan Siau atau Cap Go Meh.

Kepastian untuk dilaksanakannya Cap Go Meh ini, dibenarkan oleh Pandita Klenteng Seng Bo Kiong, Rolly Ciwulusan (Ko Awo).

Kepada wartawan Pandita Rolly yang kerap disapa Ko Awo mengatakan. digelarnya Cap Go Meh di Bitung ini, setelah dilakukan doa khusus pada hari keempat di Jumat hari ini 20 Februari 2026 pengurus dan umat Klenteng Seng Bo Kiong dengan penuh khusus melaksanakan sembahyang mohon Petunjuk Suci tentang Penentuan Cap Go Meh atau Goan Siau tahun imlek 2577.

“Dan syukur dalam doa tersebut Tuhan yang Maha Kuasa mengijinkan Cap Go Meh digelar yang jatuh pada Selasa 3 Maret 2026 Masehi,” ujar Ko Awo kepada wartawan Jumat 20/02/2026).

Menurutnya diijinkannya Cap Go Meh ini sudah melalui Doa khusus oleh Umat Klenteng Seng Bo Kiong, “dan sesuai dengan tata keyakinan untuk mohon petunjuk Suci yang akhirnya Tuhan mengijinkan Goan Siau atau Cap Go Meh dilaksanakan di Kota Bitung,” tutup Ko Awo.

Seperti diketahui dilansir google. Cap Go Meh adalah perayaan hari ke-15 dan penutup dari rangkaian Tahun Baru Imlek yang dirayakan oleh masyarakat Tionghoa. Berasal dari dialek Hokkien, Cap (sepuluh), Go (lima), dan Meh (malam), secara harfiah berarti malam kelima belas.

Perayaan ini melambangkan akhir tahun baru Imlek, simbol keberuntungan, dan penyempurnaan doa.

Asal-usul dan Tradisi: Sejarah: Berawal dari era Dinasti Han, awalnya adalah festival lampion untuk menghormati dewa atau Buddha, yang kemudian menjadi perayaan perdamaian. Tradisi: Umumnya dirayakan dengan meriah melalui kirab/arak-arakan Toa Pe Kong (patung dewa), pertunjukan barongsai, liong (naga), dan pemasangan lampion.

Makna: Selain sebagai penutup Imlek, momen ini juga dipercaya sebagai simbol untuk mengusir roh jahat dan mengundang keberuntungan.

Cap Go Meh ini bukan hanya milik etnis tertentu, melainkan telah menjadi perayaan budaya lokal yang meriah di Indonesia juga magnet wisata di seluruh wilayah amat terlebih di Kota Bitung Sulawesi Utara.(zet)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *