Minahasa, Sulutreview.com — Gempuran arus modernisasi, tak mampu merubah kearifan lokal Minahasa, yang justru memilih untuk merawat dan memberikan ruang yang kuat untuk melestarikan budaya
Hal ini dibuktikan dengan momentum bersejarah, saat Dewan Adat Minahasa dan Terung Adat Minahasa secara sah dikukuhkan di situs sakral Watu Pinawetengan, yakni diyakini sebagai tempat dan titik awal lahirnya komunitas Minahasa, pada Sabtu (29/11/2025).
Berbeda dari aktivitas adat sebelumnya, di mana pelantikan yang dilakukan menjadi simbol konsolidasi besar bagi masyarakat adat Minahasa yang tersebar memencar di tujuh wilayah Minahasa Raya.
Kegiatan pelantikan adat, bukan sekadar pengukuhan pengurus, namun melalui deklarasi tersirat komitmen untuk memperkuat jati diri serta sistem adat, terutama di tengah tantangan budaya global.
Pada pelantikan, Dewan Adat Minahasa, dilakukan regenerasi kepemimpinan adat, yang terus terjaga di era digital.
Reagen Heru Kaeng, yang terpilih sebagai Ketua Dewan Adat Sementara periode 2025–2026, ditetapkan sebagai figur sentral dalam gerakan revitalisasi adat.

Ia dipercaya memimpin Terung Adat Minahasa bersama sekretaris Meiyer Tanod, S.Sos.
Tokoh adat Sonny Moningka, yang memimpin panitia sekaligus Tonaas Wangko Kabasaran Waraney Minaesa, mengatakan bahwa pengukuhan sebagai tahap penting dalam regenerasi pemimpin adat
“Pastinya yang mampu memahami budaya yang siap untuk bergerak dalam konteks modern di era global,” tukasnya.
Moningka juga menyampaikan, inisiatif pembentukan dua lembaga adat Minahasa, tercetus dari keprihatinan tokoh adat, yang melihat semakin menipisnya kesadaran generasi muda akan arti penting dan nilai budaya Minahasa.
Upaya melestarikan adat, mendapatkan respon baik dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Pemprov Sulut) yang turut menunjukkan dukungan nyata terhadap kebangkitan lembaga adat.
Akan hadirnya Dewan Adat Minahasa, Gubernur Sulut Yulius Selvanus yang diwakili Kepala Biro Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ), Weldie Ruddy Poli, mengatakan, bahwa pemerintah mencermati lembaga adat sebagai mitra strategis, terutama yang bersentuhan dengan penguatan budaya dan kesejahteraan masyarakat.
“Melalui kehadiran lembaga adat, diharapkan tidak sekadar sebagai upaya melestarikan tradisi, melainkan turut terlibat aktif dalam program pembangunan daerah,” sebut Poli sembari menambahkan sinergi dengan pemerintah telah memberi ruang atas peran komunitas adat, yang adalah penjaga identitas lokal.
Lebih dari itu, gagasan pembentukan Dewan Adat dan Terung Adat Minahasa, dinilai mampu nerunut dan menguatkan gerakan budaya yang digaungkan Reagen Heru Kaeng dan juru pelihara situs budaya Watu Pinawetengan, Adri Ari Ratumbanua.
Keduanya melihat wadah resmi ini, akan menjaga marwah adat, juga menyatukan berbagai kelompok adat Minahasa yang sejauh ini bekerja terpisah.
Hadir sejumlah tokoh masyarakat, Linekke Sjennie Watoelangkow, Audi Malonda, Wanti Waranei Franky Mamahit dan Sonny Moningka yang terlibat sebagai penasehat Dewan Adat.
Diketahui, kehadiran pasukan Kawasaran Waraney Minaesa yang dikoordinir Sarian Marthen Keles, semakin menambah khidmat acara berada di salah satu situs paling sakral sejarah Minahasa.(hilda)













