Andalkan Jaringan 5G Telkomsel, Hasil Jepretan Fotoyu Creator Manado Eksis Meraup Rupiah

Fotoyu Creator Manado tengah mengirim hasil foto ke platform digital dengan menggunakan jaringan 5G. Foto : Hilda Margaretha

Manado, Sulutreview.com – Waktu menunjukkan pukul 05.30 Wita, saat mentari pagi muncul perlahan dengan sinarnya yang lembut dibarengi dengan udara segar dan tiupan angin yang menenangkan.

Ada secercah harapan dan semangat yang penuh energi membuncah di batin Carlo (42) sosok fotografer Fotoyu, untuk siap berkarya dan meraup Rupiah.

Ia sudah berada di lokasi Kawasan Megamas Manado, tempat favorit bagi warga Kota Manado untuk berolahraga pagi. Kehadiran para pelari dan pejalan sehat yang rata-rata tampil stylish tersebut, menjadi objek yang mendatangkan ‘cuan’ atau keuntungan secara ekonomi bagi Carlo. Karena hasil jepretan estetik dari cameranya, tak sekadar disimpan secara pribadi, melainkan diunggah ke platform digital Fotoyu yang kemudian dijual dengan kisaran harga Rp25 ribu hingga Rp35 ribu per foto.

Tanpa berlama-lama, untuk melancarkan profesinya, Carlo bermodalkan camera Canon EOS R8 dengan lensa 135. Ia langsung beraksi dengan cekatan dan sigap, matanya fokus memotret setiap momen gerakan pelari dan pejalan sehat yang melintas di depannya. Karena setiap objek adalah peluang yang akan mengantarkannya meraih pundi-pundi ekonomi.

Dalam sehari, yakni setiap pagi dan petang, karena para pelari dan pejalan sehat juga melakukan aktivitas di sore hari, Carlo mampu menjepret 2 ribuan foto.

Baginya, profesi sebagai fotografer Fotoyu, bukan hanya soal dapur yang mengepul, tetapi pekerjaan itu, telah mengantarkan anak sulungnya dapat mengecap pendidikan di perguruan tinggi, tepatnya di Universitas Sam Ratulangi Manado, dengan biaya Rp4 juta per semester.

Dengan motto ‘Ngoni Lari Torang Foto‘ yang artinya kalian berlari akan saya foto, menurut Carlo menjadi kebanggaan tersendiri, terutama ketika bidikan foto yang dihasilkan sarat dengan momen-momen natural itu, mendapat apresiasi warga.

Uniknya, melalui Fotoyu, yang merupakan aplikasi marketplace foto berbasis kecerdasan buatan atau AI, sangat memudahkan pengguna menemukan foto mereka secara otomatis lewat fitur pengenalan wajah. Di mana aplikasi ini, semakin populer di kalangan warga Kota Manado.

Aplikasi Fotoyu memungkinkan siapa saja menemukan foto-foto para pelari atau pejalan sehat hanya dengan mengunggah selfie. Meski demikian privasi mereka tetap terjaga. Dalam artian, hanya individu yang terdeteksi dalam foto yang dapat melihat dan membeli gambar tersebut, sehingga keamanan data tetap terjaga.

Menurut Carlo, saat ini ada seratusan fotografer Fotoyu yang tersebar di Kawasan Megamas, yang tercatat dalam komunitas Fotoyu Creator Manado.

“Saya bersama teman-teman ada dalam komunitas Fotoyu Creator Manado eksis sejak awal 2024 silam,” ungkap Carlo.

Ia mengisahkan, pernah menjual 3 ribuan foto. Baginya itu adalah prestasi nyata yang mampu mendongkrak perekonomian keluarga.

Hasil pekerjaannya bakalan sempurna, tatkala sudah menembus aplikasi digital Fotoyu. Pada tahapan inilah, perjuangnnya mengupload foto menjadi krusial. Karena saat mengupload hasil foto jepretannya, Carlo mengandalkan tethering yang menyambungkan perangkat seluler, yakni ponsel kesayangannya dengan nomor Simpati andalannya 0853xxxxx203 untuk transfer koneksi internet dengan perangkat laptop atau tablet, selanjutnya diupload di aplikasi Fotoyu.

Butuh proses, tetapi dengan jangkauan jaringan 5G maka pekerjaan upload foto menjadi lancar. “Untuk prosed upload foto saya memanfaatkan tethering dengan nomor Simpati. Karena hanya Simpati yayng mumpuni. Dengan kekuatan jaringan 4G saja sudah lumayan cepat, apalagi dengan jaringan 5G. Pastinya, pekerjaan menjadi semakin mudah, stabil dan cepat,” ungkapnya.

Senada disampaikan Agung Siddiq (34), yang juga memiliki profesi sama dengan Carlo. Jebolan salah satu fotografer dari salah satu media cetak ternama di Kota Manado ini, rela meninggalkan pekerjaan lamanya dan kini menggeluti fotografer Fotoyu.

Ia mengatakan, dengan 5G Telkomsel yang stabil, maka pekerjaan semakin dimudahkan. “Ini yang paling penting, pekerjaan menjadi cepat dan efisien, sehingga hasil foto yang diupload cepat dinikmati pengguna aplikasi. Terima kasih untuk jaringan 5G Telkomsel,” tandasnya.

Demikian juga dengan Opo Victor dan Ko
Tonny. Keempat sekawan ini, selalu berkumpul bersama dan memanfaatkan waktu luang dengan saling berbagi cerita.

“Sambil menguploaad hasil foto di platform kami manfaatkan saling berbagi cerita,” ujar Agung yang juga pelanggan Simpati dengan nomor 0852xxxx5541.

Baik Agung, Opo dan Ko Tonny menyatakan apresiasi atas jaringan 5G. Dia berharap jaringan 5G ini akan lebih stabil, khususnya di Kawasan Megamas. “Kami berharap jaringan 5G akan semakin stabil. Karena ini menentukam kinerja dan rezeki kami,” ungkap ketiganya sambil tertawa renyah.

Tak kalah menariknya, adalah pengalaman Billy Rompas (27) dan Gina Lewu (29) yang menyatakan menekuni dunia fotografi di Kawasan Megamas sebagai berkat yang patut disyukuri. Terlebih di tengah ekonomi yang sulit saat ini.

“Iya berkat pekerjaan ini, menjadi peluang ekonomi bagi kami. Harapan kami, harga akan semakin baik,” tukasnya.

Diketahui, saat ini Telkomsel telah mencatatkan pertumbuhan signifikan dari jumlah pengguna 5G di Indonesia, dengan angka teranyar yang mencapai 17 juta pelanggan.

Menurut Direktur Network Telkomsel, Indra Mardiatna, menyampaikan bahwa angka tersebut menunjukkan adopsi teknologi generasi kelima yang terus meningkat pesat seiring dengan perluasan cakupan dan kesadaran konsumen. Di mana pada awal tahun lalu masih sekitar 10 jutaan. Sekarang sudah 17 juta.

“Pelanggan sudah semakin pintar, kalau beli ponsel baru ya pasti langsung cari yang sudah 5G,” kata Indra dalam sesi tanya jawab peluncuran Hyper 5G Telkomsel di Bandung, Senin (21/7/2025).

Menurut Indra, pelanggan tidak perlu registrasi khusus untuk menikmati layanan 5G Telkomsel. 

“Selama perangkat mendukung dan berada di wilayah 5G, maka layanan akan langsung aktif. Tak perlu kirim SMS ‘reg 5G’ atau sejenisnya,” tukasnya.

Untuk menopang lonjakan adopsi tersebut, Telkomsel saat ini mengoperasikan sekitar 2.800 BTS 5G secara nasional. 

Diketahui, untuk paket-paket yang tersedia bisa dinikmati siapa saja. Kalau beli kuota di SIMPATI misalnya, maka otomatis bisa digunakan di 4G dan 5G. Hanya saja di 5G, tentu kecepatannya jauh lebih baik.

Indra juga mengungkap data menarik, di mana pelanggan 5G Telkomsel di kawasan dengan jaringan aktif mencatat konsumsi data rata-rata 202 GB per bulan—jauh di atas pengguna umum.

“Kalau rata-rata konsumsi data nasional hanya 16 GB per bulan, maka pengguna 5G ini lebih dari 10 kali lipatnya. Artinya mereka memang butuh dan mampu memanfaatkan keunggulan teknologi ini,” kata dia.

Derrick Heng, Direktur Marketing Telkomsel, mengatakan bahwa teknologi 5G memiliki efisiensi spektrum lebih tinggi dibanding 4G, sehingga secara teknis bisa mengangkut data 3-4 kali lebih banyak dalam kapasitas yang sama.

“Kalau dulu 1 Mbps cukup, sekarang pelanggan minta minimal 10 Mbps. Ekspektasi konsumen terus berkembang. Maka 5G bukan soal gaya-gayaan, tapi jawaban atas kebutuhan real-time yang makin kompleks,” kata Derrick.

Lanjut disebutan Derrick, Telkomsel telah menyesuaikan portofolio produknya dengan tren tersebut. Beberapa bundling 5G yang ditawarkan antara lain Paket Super Seru 5G SIMPATI (100 GB seharga Rp125 ribu), bundling device Oppo dan Samsung, hingga Orbit 5G untuk pengguna rumahan.

Meski kompetisi antar-operator makin ketat, Telkomsel menegaskan pembeda utama mereka adalah pada komitmen menghadirkan pengalaman 5G yang nyata dan konsisten.(hilda)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *