Manado, Sulutreview.com – Pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), secara kumulatif di semester I tahun 2024 dibandingkan semester II tahun 2023 tumbuh sebesar 5,37 persen dengan dukungan inflasi yang terjaga. Bahkan di Juli 2024 mengalami deflasi 0,11 persen secara month-to-month (m-t-m).
Fakta tersebut menunjukkan soliditas kinerja yang menggembirakan, yang menempatkan Sulut melesat melampaui nasional.
Bukan hal mudah untuk dapat berada di titik ini, sebab pencapaian tersebut, tidak lepas dari kerja keras, koordinasi dan sinergi yang tidak pernah ada habis, yang dilakukan para pemangku kepentingan.
Lantas di mana peran Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Sulut? Apa yang diandalkan? Seberapa jauh kepedulian dan kekuatan untuk melandasi perekonomian di Sulut.
KPw BI Sulut, ternyata memiliki strategi atau jurus ampuh untuk menaklukkan atau mengendalikan inflasi, agar tetap berada di titik aman yang tentunya akan sangat berpengaruh terhadap kesinambungan pertumbuhan ekonomi.
Ada langkah strategis yang diandalkan, pertama adalah memperkuat koordinasi kebijakan sehingga stabilitas makroekonomi terjaga yang ikut mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Kedua, menjaga inflasi komponen Volatile Food (VF), terutama pada masa Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN). Ketiga, memperkuat ketahanan pangan domestik melalui akselerasi implementasi program lumbung pangan dan perluasan kerja sama antardaerah. Keempat, memperkuat ketersediaan data pangan untuk mendukung perumusan kebijakan pengendalian inflasi. Kelima, memperkuat sinergi komunikasi untuk mendukung pengelolaan ekspektasi inflasi masyarakat.
Sinergi kebijakan yang ditempuh pemerintah dan BI, dilakukan melalui implementasi berbagai inovasi program untuk menjaga stabilitas pasokan dan kelancaran distribusi, yang terjawab dengan komitmen untuk memperkuat efektivitas upaya pengendalian inflasi tersebut.
Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) secara konsisten memperkuat sinergi dan inovasi sehingga stabilitas harga terjaga.
Peran KPw BI Sulut
Sebagai bank sentral yang merupakan lembaga yang mendapat mandat dari undang-undang untuk mengendalikan laju inflasi. BI Sulut banyak melakukan terobosan, gagasan untuk mencapai tingkat inflasi yang rendah dan stabil yang terbaca dari berbagai kebijakan dan koordinasi.
Hal itu dilakukan karena pengendalian inflasi tidak dapat hanya dilakukan dengan penggunaan kebijakan moneter semata, tetapi perlu dukungan kebijakan yang lebih komprehensif dari berbagai pihak. Sebab peran aktif pemerintah dan pelaku usaha di daerah, sangat diperlukan untuk mengendalikan inflasi.
Inflasi di Sulut memiliki kekhasan tersendiri, karena pencetusnya adalah volatile food. Kondisi ini terjadi dari masa ke masa. Dari bulan ke bulan dari tahun ke tahun kerap mengalami hal yang sama, yakni disumbang oleh kelompok volatile food, terutama cabai (rica) dan tomat sayur.

Komoditas pangan ini menjadi komoditas utama yang sangat dibutuhkan warga di Sulut yang adalah penyuka masakan pedas. Akibatnya ketika suplay dan demand tidak berjalan seimbang, dalam artian peningkatan kebutuhan tidak diikuti dengan ketersediaan dalam jumlah yang mencukupi maka dapat dipastikan berdampak pada melambungnya harga komoditas.
Harga cabai (rica) dan tomat, yang ada di pasaran ketika terjadi kenaikan harga, jika dibandingkan dengan daerah lainnya di Indonesia nilainya cukup fantastis. Sebab untuk rica yang harga normalnya di angka puluhan ribu dapat menembus harga hingga ratusan ribu per kilogramnya. Sedangkan tomat dari harga normal Rp5 ribu dapat mencapai Rp15 hingga 20 ribu per kilogramnya.
Kenaikan harga tersebut kerap terjadi menjelang peringatan hari besar keagamaan, seperti Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru maupun pengucapan syukur. Namun tidak menutup kemungkinan dapat terjadi kapan saja, dan penyebabnya adalah pengaruh cuaca yang diikuti dengan tingginya curah hujan sehingga mempengaruhi produksi rica dan tomat yang sentranya berada di Minahasa dan Minahasa Selatan.
BI yang cermat melihat keadaan tersebut, berupaya maksimal dengan menggandeng para petani untuk mengolah lahan. Harapannya petani mendapatkan hasil lebih dan sejahtera. Sekaligus juga pasar tidak goncang akibat kekurangan pasokan.
Kepala KPw BI Sulut Andry Prasmuko mendorong petani untuk secara konsisten mengolah lahan dengan menanam komoditas cabai yang kerap kali menjadi penyumbang inflasi.
“Panen cabai ini diharapkan dapat memenuhi pasokan cabai rawit di Tomohon dan mendukung pengendalian inflasi, mengingat harga cabai masih cenderung tinggi,” kata Andry Prasmuko.
Melihat hasil panen petani, Prasmuko mengaku kagum. Terutama dengan jenis cabai yang ditanam poktan Sukoi Rabbit. Sebab jenis cabai ditanam hasilnya menunjukkan kualitas yang baik.
“Apa yang sudah diupayakan poktan Sukoi Rabbit dan Pemkot Tomohon ini adalah terobosan cabai yang dagingnya tebal dan tahan lama. Semoga bisa direplikasi oleh poktan lainnya,” katanya.
Ia juga mendorong poktan Sukoi Rabbit untuk jangan menyerah mengolah lahan hortikultura yang dimiliki. Menurutnya, hasil produksi cabai rawit dapat menjaga ketersediaan komoditi pangan bila kekurangan supply.
“Tetap semangat supaya kita terus survive dan produksi kita terjaga. Harapannya bila di Tomohon sedang kekurangan supply, hasil produksi poktan Sukoi Rabbit bisa memenuhi stoknya itu,” tukasnya.
Panen besar cabai rawit juga dituai oleh Kelompok Tani (Poktan) Misu, Desa Sawang, Melonguane, Talaud.
Kelompok Tani Misu yang dikukuhkan pada tahun 2011 beranggotakan 11 orang. Dan sejak 2011 menjadi binaan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kepulauan Talaud. Luas lahan yang diolah Poktan Misu 5 hekkar, di mana 1,5 hektar ditanami cabai rawit, dan 3,5 hektar lainnya ditanami komoditas lain seperti singkong, kacang merah dan terong.
“Panen cabai rawit ini merupakan sinergitas antara Bank Indonesia Sulawesi Utara dengan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud untuk menjaga ketahanan pangan,” ujarnya.
Menurut Andry Prasmuko ketahanan pangan sangat penting, karena berkaitan erat dengan inflasi. Jika stok pangan cukup, maka harga di pasar akan stabil dan tidak akan terjadi inflasi. Panen cabai rawit yang diolah Poktan Misu ini pun dapat menjadi bagian dari pengendalian inflasi di Talaud.
Andry berharap, pendampingan terhadap kelompok tani dapat terus dilakukan agar mereka dapat secara mandiri berproduksi.
“Dengan memproduksi secara mandiri, maka petani cabai rawit dapat memenuhi kebutuhan di tingkat lokal dengan harga yang kompetitif. Selain itu, dengan adanya produksi dari petani dapat menghindari gejolak harga dan tidak dimainkan oleh spekulan,” katanya.
Sejauh ini, memang banyak petani yang mengalami gagal panen yang mengakibatkan kerugian. Gagal panen yang dialami para petani cabai memang sering melemahkan semangat untuk enggan menanam, enggan menanam komoditas tersebut.
Namun tidak demikian halnya dengan Effendy Singal, salah satu petani yang bekerja keras sehingga menghasilkan varietas unggul cabai anti penyakit.
Selama 16 tahun, Ia menanam cabai, Effendy bersama petani lainnya mengaku kerap mendapati penyakit patek yang menyebabkan cabai yang siap dipanen menghitam dan busuk. Akibatnya kerugian tak dapat dihindari.
Praktis dengan kondisi yang demikian, petani Remboken lebih memilih tanaman lainnya, dan bahkan meninggalkan profesinya untuk beralih pada pekerjaan lain yang menjanjikan. Makanya tak mengherankan jika situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) pun meningkat.
“Petani di Desa Leleko, tepatnya di Kecamatan Remboken banyak yang tidak suka menanam rica. Karena seluruh benih rica yang ditanam rentan diserang penyakit patek,” kata Effendy mengisahkan pengalamannya.
Kondisi ini, bukan hanya berlaku bagi petani di Minahasa tetapi juga berlaku di seluruh Indonesia. Sampai kemudian muncul keinginan Effendy untuk mencari cabai anti patek.
Usaha yang dilakukan Effendy membuahkan hasil, menyusul upayanya melakukan kawin silang secara alami. Varietas yang dihasilkan terbilang unggul. Karena sensasi rasanya jauh lebih pedas dibandingkan rica lainnya.
“Saya temukan rica tahan patek dan pedas yang merupakan hasil kawin silang, dengan masa panen yang lebih panjang, yakni selama setahun,” tukasnya.
Hasil panen yang melimpah, kini dinikmati Effendy sampai kemudian keberhasilannya diikuti ratusan petani cabai lainnya.
Effendy menamai varietas cabai unggulannya dengan nama Rica Don, yakni diambil dari penggalan nama Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey.
Bibit cabai tersebut, kemudian dibagikan kepada petani untuk ditanam. “Saya menanam rica di area yang cukup besar. Petani di Remboken juga ikut, karena melihat rica yang anti penyakit, sampai kemudian petani mulai berhasil. Alhasil, selain panen melimpah, masyarakat yang kesehariannya nongkrong mulai ada pekerjaan. Bahkan Kabtimbamas ikut berkurang,” bebernya.
Kini petani cabai di Remboken, telah mencapai ratusan orang. Bahkan rata-rata secara ekonomi mengalami peningkatan signifikan.
“Karena tanam rica petani Remboken saat ini sudah bisa membeli tanah, rumah, motor baru. Jadi secara ekonomi meningkat,” ujarnya.
Saat ini, Kecamatan Remboken mendapat julukan sebagai daerah sentra cabai. Dari Balai Sertifikasi Benih sangat setuju dengan sebutan Rica Don.
Dua varietas, Rica Don dan Rica Remboken super memiliki ciri-ciri khusus, yakni ujungnya bergaris, dalam sepekan dengan jumlah 1.000 tanaman cabai mampu menghasilkan 100 kilogram cabai yang dibeli pedagang dengan harga Rp18.000 per kilogram.
Harga tersebut masih terbilang normal. Sebab, ketika mengalami cuaca yang tak bersahabat cabai yang ditanam Effendy pernah dijual Rp115.000 per kilogram.
Effendy kini menyandang predikat sebagai petani unggul, sebab keberhasilan yang dicapainya bukan untuk dirinya sendiri. Melainkan juga dimanfaatkan untuk mendorong petani lainnya. Mulai dari cara menanam, merawat, memanen serta mendapatkan bibit unggul.
Saat menanam, Effendy mengajarkan petani, bagaimana menyiapkan lahan, menghampar plastik mulsa hingga proses pemupukan. Mulai penggunaan pupuk dasar, SP36, Phonska dan KCL.
“Kalau untuk tanaman rica digunakan pupuk Phonska, SP36 dan kapur dolomit. Di dalam bedengan sudah ada pupuk. Prosesnya sebelum tanah di angkat dari pinggiran, sudah diberikan pupuk. Di mana manfaat SP36 untuk pembesaran batang dan merangsang pembungaan,” jelas Effendy.
Tanaman cabai dengan mekanisme tumpangsari, ternyata menjadi solusi untuk mengurangi penyakit maupun hama yang menyerang seperti kutu kebul, tungau putih, dengan adanya tanaman jagung bisa melindungi.
Keberhasilan Effendy ini, tak lepas dari dukungan dan peran BI Sulut.
“Kami mendapatkan pelatihan secara intens. Dan apa yang telah diberikan, kami bagikan kepada petani lainnya. Saat ini sejumlah daerah juga mengambil bibit dari Remboken, yakni Talaud, Bolaang Mongondow yang mengambil bibit dari Remboken. Ada yang beli biji dan bibit. Satu bibit yang siap tanam dihargai Rp1.000,” kata Jeffry Tumembow.
Sampai sejauh ini, petani di Remboken sudah mencapai 200-an, setiap tahunnya membutuhkan 30 ribu ton, namun yang terealisasi baru 20 ribu ton. “Kami berharap pada waktu mendatang volumenya bisa ditambah,” ujarnya.
Diketahui, melalui program BI bantu petani dan wirausaha telah menggulir program pelatihan Wirausaha Unggulan Bank Indonesia (WUBI) dan Petani Unggulan Bank Indonesia (PUBI).
Petani Sulut Sejahtera
Nilai Tukar Petani (NTP) Sulut pada bulan Juli 2024 naik 1,59 persen menjadi 114,82 dibandingkan dengan bulan Juni yang bernilai 113,02.
Perubahan NTP dikarenakan nilai Indeks Harga yang diterima Petani (It) mengalami kenaikan sementara nilai Indeks Harga yang dibayar Petani (Ib) mengalami penurunan. Indeks Harga yang diterima Petani (It) naik sebesar 0,02 persen sementara Indeks Harga yang dibayar Petani (Ib) turun sebesar 1,55 persen.
Berdasarkan catatan dari Badan Pusat Statistik Sulut menunjukkan bahwa petani di Bumi Nyiur Melambaikan telah sejahtera.
Kepala BPS Sulawesi Utara, Aidil Adha, mengatakan perubahan NTP dipicu kenaikan nilai indeks harga yang diterima petani sebesar 0,02 persen, sementara nilai indeks harga yang dibayar petani mengalami penurunan 1,55 persen.
“NTP adalah perbandingan antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayar petani dan dinyatakan dalam persentase,” katanya.
Menurut Aidil, NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat daya beli petani, dengan mengukur kemampuan tukar produk yang dihasilkan atau dijual petani dibandingkan dengan produk yang dibutuhkan petani baik untuk proses produksi maupun untuk konsumsi rumah tangga petani.
“Semakin tinggi NTP dapat diartikan kemampuan daya beli atau daya tukar petani relatif lebih baik dan tingkat kehidupan petani juga lebih baik,” jelas Aidil.
Ia mengatakan, dari lima subsektor pertanian yang dipantau pada bulan Juli, subsektor yang menunjukan kenaikan perkembangan NTP yaitu subsektor hortikultura yang naik sebesar 11,24 persen, subsektor peternakan naik sebesar 3,72 persen, dan subsektor perikanan naik sebesar 0,42 persen.
“Kenaikan subsektor hortikultura merupakan dampak dari kenaikan harga komoditi seperti tomat sayur, wortel, buncis, terung, sawi hijau, dan lain-lain,” ungkap Aidil.
Ia mengatakan, sementara subsektor yang mengalami penurunan perkembangan NTP ada pada subsektor tanaman pangan yang turun sebesar 0,12 persen dan subsektor tanaman perkebunan rakyat turun sebesar 1,29 persen.
TPID Sulut Solid
Gubernur Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Olly Dondokambey yang juga Ketua Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) memberikan perhatian serius pada gejolak harga yang menjadi pencetus terjadinya inflasi di daerah.
Menurutnya, inflasi di Sulut dinilai klasik. Kondisi tersebut disebabkan oleh terkereknya harga bawang rica (cabai) dan tomat atau yang kerap disebut dengan barito. Salah satu upaya untuk menjaga dan mengendalikan inflasi, Gubernur Olly mengusulkan agar setiap rumah tangga akan diberikan bibit cabai atau rica gratis.
Ia berharap usulan tersebut secepatnya direspon Pemerintah Kota Manado.
“Pembagian bibit ke masyarakat ini akan sangat efektif mengantisipasi inflasi. Sebab, nantinya, saat dipanen, masyarakat dapat memperoleh sekitar seperempat liter cabai. Itu cukup untuk dua hari. Begitu seterusnya sehingga daerah kita tidak mengalami inflasi yang tinggi,” ucap Gubernur Olly.
Gerakan Pangan Murah
Salah satu strategi yang tak kalah kuatnya adalah Gerakan Pasar Murah, melalui kegiatan ini stabilitas harga terkendali. Hingga Agustus 2024, Dinas Pangan Daerah telah melaksanakan kegiatan tersebut sebanyak 25 kali dengan melibatkan kabupaten/kota, juga Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulut.

Pemerintah Provinsi Sulut secara konsisten menggelar Gerakan Pangan Murah. Kegiatan yang dilakukan untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan serta pengendalian inflasi daerah itu dipandang penting.
“Kegiatan Gerakan Pangan Murah adalah buah konsistensi Dinas Ketahanan Pangan untuk menjamin stabilitas harga dan penyediaan pasokan pangan dengan harga wajar,” ungkap Asisten II Bidang Perekonomian Setdaprov Sulut, Tahlis Gallang.
Selain itu, Gerakan Pangan Murah tujuannya untuk menunjang masyarakat yang ada di seputaran Kantor Gubernur, termasuk ASN, THL dan seluruh pegawai, dalam memperoleh kebutuhan pokok dengan harga murah,” ujarnya.
“Ini sangat membantu dalam memperoleh bahan pangan pokok atau strategis yang murah dan berkualitas, sekaligus untuk turut menjaga inflasi juga mendukung perekonomian daerah di Provinsi Sulawesi Utara,” tambahnya.
Menurut Tahlis, kondisi perekonomian dan inflasi di daerah Provinsi Sulut, secara umum positif, sebagaimana ditunjukkan dari beberapa indikator. Di mana berdasarkan data BPS, pada Juli 2024 terjadi inflasi year on year (y-on-y) Provinsi Sulut sebesar 4,03 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 107,31. Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Minahasa Selatan sebesar 6,68 persen dengan IHK sebesar 108,77, dan terendah terjadi di Kota Manado sebesar 2,65 persen dengan IHK sebesar 105,77.
“Kondisi ini tercipta dari buah kerja keras dan sinergi kita bersama, semua unsur yang memberikan andil terhadap aktivitas perekonomian dan inflasi di daerah. Kita masih dituntut untuk bersinergi. Sehingga diharapkan sokongan dari semua unsur pembangunan ekonomi dan seluruh masyarakat dalam mewujudkan stabilisasi pasokan dan harga pangan di Provinsi Sulut,” tandasnya.
Pemprov Sulut, katanya, berupaya untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pasokan pangan. “Saya mengapresiasi akan hal itu. Kiranya ke depan, kita terus saling topang, saling dukung, untuk bersama-sama
memacu pembangunan ekonomi, memajukan bangsa dan daerah,” ucapnya.
Bahan kebutuhan pokok yang dijual di Gerakan Pangan Murah jauh lebih murah dari harga di pasaran.
Untuk beras per lima kilogram dijual Rp58.000 dan untuk premium Rp70.000, bawang merah Rp20.000, minyak goreng 1 liter Rp16.000 dan ukuran 2 liter Rp33.000, cabai 1 kilogram Rp39.000, tomat Rp3.000, gula pasir Rp16.000, telur ayam 52.000, bawang merah Rp22.000, bawang putih Rp38.000 dan daging sapi beku Rp110.000 per kilogram.
Berbagai terobosan ini, diharapkan menjadi pendorong yang tak pernah lelah untuk terus dilakukan, demi menyasar masyarakat sejahtera dan ekonomi yang berkelanjutan. (Hilda)











