Tajuk  

PENGARUH DISIPLIN KERJA DAN BUDAYA ORGANISASI TERHADAP KINERJA PEGAWAI DI KANTOR DINAS PEKERJAAN UMUM DAN PENATAAN RUANG KABUPATEN MINAHASA TENGGARA

Lussi Ambarukmi (Istimewa)

Abstrak
Disiplin kerja merupakan dasar yang mengembangkan manusia dalam seluruh potensinya dan usaha-usaha yang dijalankan secara sengaja, teratur, terencana untuk mengubah tingkah laku manusia ke arah yang diinginkan sehingga mampu memberikan arti dan makna kepada lingkungannya khususnya bagi pegawai. Kinerja pegawai dinilai dari aspek pencapaian target, keandalan data kinerja dan keselarasan antara kinerja output dengan outcome. Selain itu capaian kinerja juga mencakup kinerja pencatatan keuangan, transparansi, kinerja dari stakeholder, termasuk penghargaan yang diperoleh. Kinerja organisasi tidak hanya ada pada level top manager saja, tetapi harus ada pada middle manager dan para bawahan. Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan adalah sebagai berikut : Kuesioner, Observasi, Wawancara Mendalam (Interdepth Interview), dan Dokumentasi, yaitu pengumpulan data melalui bahan-bahan tertulis berupa dokumen dan laporan yang berhubungan dengan obyek penelitian, dengan cara pembagian kuesioner, observasi, wawancara dan dokumentasi untuk melihat pengaruh disiplin kerja dan budaya organisasi terhadap kinerja pegawai. Penelitian ini menunjukkan bahwa nilai signifikansi F change adalah 0.000. artinya Disiplin Kerja dan Budaya Organisasi mempengaruhi Kinerja Pegawai di Kantor Dinas Pekerjaan Umum Dan Penataan Ruang Kabupaten Minahasa Tenggara. Selanjutnya nilai Regression (R) adalah 0.771, artinya pengaruh disiplin kerja dan budaya organisasi terhadap kinerja pegawai di Instansi terkait adalah positif dengan derajat hubungan di kategori regrasi kuat.
Kata Kunci: Disiplin Kerja, Budaya Organisasi, Kinerja pegawai.

THE INFLUENCE OF WORK DISCIPLINE AND ORGANIZATIONAL CULTURE ON THE PERFORMANCE OF EMPLOYEES IN PUBLIC WORKS OFFICE AND SPATIAL PLANNING IN SOUTHEAST MINAHASA DISTRICT

Abstract
Work discipline is the basis that develops humans in all their potential and efforts that are carried out deliberately, regularly, planned to change human behavior in the desired direction so that they are able to give meaning and significance to their environment, especially for employees. Employee performance is assessed from the aspect of achieving targets, the reliability of performance data and the alignment between performance outputs and outcomes. In addition, performance achievements also include financial recording performance, transparency, performance from stakeholders, including the awards obtained. In this study the data collection techniques used were as follows: Questionnaire, Observation, In-depth interviews (Interdepth Interview), and Documentation, namely data collection through written materials in the form of documents and reports related to the research object. Data collection techniques used by distributing questionnaires, observations, interviews and documentation to see the influence of work discipline and organizational culture on employee performance. This study shows that the significance value of F change is 0.000. meaning that Work Discipline and Organizational Culture affect Employee Performance, in the Public Works and Spatial Planning Office of Southeast Minahasa Regency. Then the Regression (R) value is 0.771, meaning that the influence of work discipline and organizational culture on the performance of employees, in related agencies, is positive with a degree of relationship in the strong regression category.

Keywords: Work Discipline, Organizational Culture, Performance of Employees.

PENDAHULUAN
Permasalahan birokrasi di daerah sejak dulu adalah kurangnya kualitas sumber daya manusia. Sebagai kunci pokok, sumber daya manusia dapat menentukan keberhasilan pelaksanaan kegiatan dalam organisasi. Berhasil tidaknya suatu organisasi atau institusi akan ditentukan oleh faktor manusianya atau karyawannya dalam mencapai tujuannya. Seorang karyawan yang memiliki kinerja (hasil kerja atau karya yang dihasilkan) yang tinggi dan baik dapat menunjang tercapainya tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan oleh suatu perusahaan. Oleh karena itu sumber daya manusia dipandang sebagai aset organisasi yang sangat penting karena manusia merupakan sumber daya manusia yang selalu dibutuhkan dalam setiap aktivitas organisasi, juga mempunyai andil yang besar dalam menentukan keberhasilan suatu organisasi. Namun dengan berlakunya UU No. 22 Th. 1999 jo. UU No. 32 Th, 2004 tentang setiap daerah dituntut untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusianya dalam rangka meningkatkan pelayanan publik. Untuk itu semua birokrasi pemerintahan harus meningkatkan kinerjanya.
Kinerja mempunyai arti penting bagi pegawai, adanya penilaian kinerja berarti pegawai mendapat perhatian dari atasan, disamping itu akan menambah gairah kerja pegawai karena dengan penilaian kinerja ini mungkin pegawai yang berpretasi dipromosikan, dikembangkan dan diberi penghargaan atas prestasi, sebaliknya pegawai yang tidak berprestasi mungkin akan didemosikan. Kinerja pegawai merupakan salah satu faktor utama yang dapat mempengaruhi kemajuan organisasi. Semakin tinggi atau semakin baik kinerja pegawai maka tujuan perusahaan akan semakin mudah dicapai, begitu pula sebaliknya yang terjadi apabila kinerja pegawai rendah atau tidak baik maka tujuan itu akan sulit dicapai dan juga hasil yang diterima tidak akan sesuai keinginan perusahaan. Kinerja merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan dari seorang pemimpin yang diberikan sebagai penyemangat tata tertib yang diterapkan, suasana kerja yang nyaman dan dukungan sumber daya seperti memberikan peralatan yang memadai sebagai sarana untuk memudahkan pencapaian tujuan yang ingin dicapai sangat diperlukan untuk kinerja pegawai.
Terdapat faktor negatif yang dapat menurunkan kinerja pegawai, diantaranya adalah menurunnya keinginan pegawai untuk mencapai prestasi kerja, kurangnya ketepatan waktu dalam penyelesaian pekerjaan sehingga kurang menaati peraturan, pengaruh yang berasal dari lingkungannya, teman sekerja yang juga menurun semangatnya dan tidak adanya contoh yang harus dijadikan acuan dalam pencapaian prestasi kerja yang baik. Semua itu merupakan sebab menurunnya kinerja pegawai dalam bekerja. Faktor-faktor yang dapat digunakan untuk meningkatkan kinerja diantaranya adalah gaya kepemimpinan, disiplin kerja, dan budaya organisasi.
Salah satu dinas yang ada di setiap Kabupaten dan Kota adalah Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang yang dikepalai oleh seorang Kepala Dinas. Unit Pelaksana Teknik Dinas yang selanjutnya disebut UPTD, adalah merupakan unsur pelaksana teknis pada Dinas tertentu yang dibentuk Pemerintah Kabupaten untuk melaksanakan kegiatan teknis operasional dan atau kegiatan teknis penunjang yang mempunyai wilayah kerja tertentu dan atau wilayah kerja 1 (satu) atau beberapa kecamatan.
Kinerja pegawai dinilai dari aspek pencapaian target, keandalan data kinerja dan keselarasan antara kinerja output dengan outcome. Selain itu capaian kinerja juga mencakup kinerja pencatatan keuangan, transparansi, kinerja dari stakeholder, termasuk penghargaan yang diperoleh. Capaian kinerja output cukup baik, namun capaian outcome masih perlu diperbaiki dan ditingkatkan. Rendahnya capaian outcome terutama disebabkan oleh indikator-indikator kinerja outcome yang belum relevan dan tidak cukup untuk menggambarkan keberhasilan.
Pihak yang merasakan output bukanlah penyelenggara pelayanan (birokrasi) tetapi pengguna jasa layanan (masyarakat). Oleh karena itu dalam pengukuran suatu kinerja mau tidak mau harus melibatkan konsumen yang berasal dari masyarakat pengguna jasa layananan.
Kinerja organisasi tidak hanya ada pada level top manager saja, tetapi harus ada pada middle manager dan para bawahan. Jika hanya pada top manager yang mempunyai kinerja tinggi, sedangkan bawahannya tidak memiliki kinerja tinggi, maka kualitas pelayanan yang dirasakan masyarakat tetap akan rendah.

LUSSI AMBARUKMI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *